1.000 Petani Indramayu Keluhkan Air, Amran Siap Alihkan Anggaran |Republika Online
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pertanian (Mentan) Amran menegaskan masalah air yang dihadapi petani Indramayu tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Persoalan pengairan tersebut berkaitan langsung dengan produksi dan keberhasilan panen petani yang sebagian masih mengandalkan sawah tadah hujan.
Amran menyampaikan hal itu setelah menemui sekitar 1.000 petani asal Indramayu yang mendatangi Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Kamis (24/9/2026). Dalam pertemuan tersebut, petani menyampaikan keterbatasan air, minimnya infrastruktur irigasi, kebutuhan irigasi perpompaan (irpom), serta belum tersedianya saluran pengairan dari Bendungan Cipanas menuju lahan pertanian.
Petani datang sejak seusai salat subuh untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi. Mereka menjelaskan sumber air dari Bendungan Cipanas sebenarnya berada sekitar 1 hingga 5 kilometer dari lahan mereka. Pemerintah juga sebelumnya telah melakukan pendataan untuk pembangunan jalur irigasi sepanjang sekitar 24,75 kilometer, tetapi saluran tersebut belum tersedia.
Keterbatasan air membuat sebagian petani hanya dapat memanen satu kali dalam setahun meski telah menanam hingga dua kali. Kondisi tersebut terutama dialami petani yang mengelola lahan sawah tadah hujan.
“Pak Amran, kami petani tadah hujan. Sudah lama. Tiap tahun nanam dua kali, tapi yang panen cuma satu kali,” ujar salah seorang petani.
Petani juga meminta tambahan irpom karena bantuan yang sebelumnya diterima belum mencakup seluruh lahan yang membutuhkan pengairan. Mereka berharap 24 basis kelompok petani memperoleh dukungan irpom.
“Harapan kami, berhubung kami di 24 basis, agar diupayakan juga mendapatkan 24 irpom tersebut,” ujar perwakilan petani.
Amran kemudian menghubungi Balai Wilayah Sungai (BWS) Cisanggarung untuk menanyakan progres pembangunan jaringan irigasi air tanah (JIAT) dan infrastruktur pengairan dari Bendungan Cipanas menuju wilayah pertanian yang membutuhkan.
“Ini sudah dua tahun didemo. Ini rakyat kita, ini saudara kita, ini anak kita. Apa bisa, bagaimana programnya progresnya? Karena ini sudah dicek dulu,” kata Mentan saat menghubungi BWS Cisanggarung.
Amran juga meminta persoalan irigasi di sejumlah wilayah, termasuk Kroya, Gantar dan sekitarnya, dikawal hingga tuntas. Ia menegaskan pemerintah harus segera mencari jalan keluar apabila pembangunan infrastruktur pengairan membutuhkan anggaran.
Amran bahkan menyatakan siap mengalihkan anggaran Kementan untuk membantu menyelesaikan persoalan air tersebut.
“Kalau tidak ada anggarannya, saya pindahkan dari Kementerian Pertanian. Bisa? Berapa biayanya? Bisa tidak selesai masalah ini? Inilah gunanya kita melayani rakyat,” tegas tokoh yang juga Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) ini.
Amran meminta pembangunan infrastruktur irigasi yang menjadi kewenangan Kementerian Pekerjaan Umum segera diselesaikan. Ia meminta pengerjaan tidak berlarut-larut agar petani segera memperoleh kepastian pengairan.
“Kalau tidak selesai, berapa lama pengerjaan irpom? Dua bulan?” ujar dia.
Kementan, kata Amran, siap mendukung kebutuhan pompa, sedangkan pembangunan saluran irigasi perlu ditindaklanjuti bersama kementerian terkait. Ia meminta koordinasi Kementan dan Kementerian PU diperkuat untuk mempercepat penyelesaian masalah air petani.