14 Kabar Genting Bakal Guncang RI Pekan Ini, IHSG-Rupiah Bisa Terancam
- Pasar keuangan Indonesia ambruk pada pekan lalu, saham dan rupiah jatuh
- Wall Street bangkit dari keterpurukan pada akhir pekan lalu
- Data-data ekonomi dalam dan luar negeri serta perkembangan perang akan menjadi penggerak sentimen hari ini dan satu pekanke depan
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia ambruk pada pekan lalu di tengah meningkatnya ketidakpastian global serta kekhawatiran akan suku bunga "higher for longer".
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan tertekan pada pekan ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar keuangan sepanjang pekan ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan pekan lalu, Jumat (25/9/20226) dengan kinerja jeblok.
Pada Jumat (25/9/2026), IHSG ditutup melemah 0,90% atau 56,71 poin ke level 6.241,89.
Pelemahan pasar terjadi secara masif. Sebanyak 558 saham berakhir di zona merah, berbanding terbalik dengan hanya 118 saham yang menguat dan 117 saham stagnan.
Dalam sepekan, IHSG ambruk 3,09%.
Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) pun menjadi Rp10.929 triliun.
Tekanan juga datang dari investor asing. Pada perdagangan Jumat, asing mencatatkan jual bersih atau net sell Rp559,08 miliar.
Sepanjang pekan lalu, net sell tercatat Rp 3,16 triliun. Angka ini lebih besar dibandingkan pekan sebelumnya yang tercatat net sell sebesar Rp 2,96 triliun.
Dengan demikian, akumulasi net sell asing sepanjang 2026 mencapai Rp77,52 triliun.
Di tengah pelemahan IHSG, sejumlah saham masih mencatatkan kenaikan tajam.
PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) menjadi jawara penguatan pekan lalu dengan kenaikan fantastis 133,72% ke Rp360.
Posisi berikutnya ditempati PT Guna Timur Raya Tbk (TRUK), yang melesat 81,69% ke Rp2.580. Sementara PT Inter Delta Tbk (INTD) menguat 67,48% ke Rp412.
Sebaliknya, PT Steady Safe Tbk (SAFE) menjadi saham dengan koreksi terdalam, merosot 40,19% ke Rp625 disusul PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) dan PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) dengan penurunan masing-masing 31,03% dan 27,66%.
Dari pasar mata uang, rupiah menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam di Asia pekan lalu.
Mata uang Garuda memang menguat 0,03% pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (25/9/2026) ke posisi Rp17.880/US$. Namun, secara keseluruhan, rupiah melemah 0,85% dalam sepakan.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik ke 7,083% pada Jumat, dari 7,008% pada Kamis.
Kenaikan imbal hasil ini menandai harga SBN tengah melemah karena aksi jual investor.