3.000 dokter spesialis mata terkonsentrasi di Jawa, Kemenkes kejar pemerataan
3.000 dokter spesialis mata terkonsentrasi di Jawa, Kemenkes kejar pemerataan
Selasa, 13 Oktober 2026 20:52 WIB
Petugas RS Mata Bali Mandara memeriksa kesehatan mata para ASN di Kabupaten Badung, Bali, Rabu (7/10/2026). ANTARA/I Nyoman Hendra Wibowo
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan mengatakan, pihaknya mengupayakan pemerataan dokter spesialis mata di Tanah Air melalui berbagai inisiatif, mengingat sebanyak sekitar 3.000 dokter spesialis mata masih terkonsentrasi di Jawa.
"Nah, kemudian itu salah satu yang kita lakukan adanya pembukaan rumah sakit RSPPU ya. Rumah sakit pendidikan untuk mata. Jadi ada sekolah yang tadinya di universitas aja. Sekarang kita kan buka sekolah di rumah sakit, di Cicendo ya," kata Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi di Jakarta, Selasa.
Inisiatif pemerataan spesialis juga mencakup penugasan khusus. Pihaknya juga berupaya untuk memenuhi kebutuhan peralatan kesehatan mata.
Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit dr. Andi Saguni mengatakan, kesehatan mata merupakan investasi pembangunan manusia, dan terdapat empat hal yang perlu digencarkan guna meningkatkan kesehatan mata masyarakat, yakni skrining, tindak lanjut, memerhatikan kesehatan mata anak, dan kolaborasi.
"Masyarakat perlu didorong untuk tidak hanya memeriksakan mata ketika sudah muncul keluhan, pemeriksaan mata perlu menjadi bagian dari perilaku menjaga kesehatan sepanjang siklus kehidupan," ujarnya.
Kedua, katanya, setiap hasil skrining harus ditindaklanjuti. Temuan kelayanan refraksi harus mendapatkan koreksi yang tepat. Demikian pula kecurigaan terhadap katarak, glaukoma, retinopati maupun gangguan lainnya harus ditindak lanjuti atau dirujuk sesuai indikasi dan kompetensi fasilitas pelayanan kesehatan.
Karena itu, kata Andi, penguatan pelayanan primer perlu berjalan beriringan dengan sistem rujukan yang baik.
"Kemudian yang ketiga, berikan perhatian khusus kepada kesehatan anak. Anak belum tentu menyadari atau mampu menyampaikan bahwa penglihatannya terganggu," ujarnya.
Menurutnya, orang tua dan guru perlu waspada terhadap gejala gangguan mata pada anak seperti sering menyipitkan mata, melihat buku atau layar lebih dekat dari 30 cm, kesulitan melihat tulisan di papan, atau mulai mengalami hambatan dalam proses belajar.
"Deteksi dan koreksi sejak dini penting agar gangguan penglihatan tidak menghambat kesempatan anak untuk belajar dan berkembang," ujarnya.
Yang keempat, kolaborasi dan komunikasi publik perlu dikuatkan. Kesehatan mata bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, namun juga keterlibatan pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, organisasi profesi, sekolah, keluarga, masyarakat, dunia kerja, mitra pembangunan dan tentunya media.
"Penglihatan yang baik memberi kesempatan kepada anak untuk belajar lebih optimal, membantu masyarakat tetap produktif, mengurangi ketergantungan terhadap keluarga dan mendukung keselamatan dalam beraktivitas," ujarnya.
Pewarta : Mecca Yumna Ning Prisie
Editor:
Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026