45 tahun PTPN di Kalbar dari jalan setapak menuju sawit berkelanjutan - ANTARA News Kalimantan Barat
Pontianak (ANTARA) - Perjalanan 45 tahun perkebunan kelapa sawit PTPN di Kalimantan Barat (Kalbar) menjadi bagian dari perubahan sosial dan ekonomi masyarakat, terutama di Kabupaten Sanggau yang menjadi salah satu titik awal pengembangan perkebunan modern dan berkelanjutan di provinsi itu.
Bagi Entang Sesepian, warga Sanggau, masa lalu kawasan perkebunan masih identik dengan keterbatasan akses. Untuk bersekolah, ia harus melewati jalan setapak dari Kampung Pintu Sepuluh menuju Meliau, bahkan menyeberangi sungai dengan berenang karena belum tersedia jembatan.
“Dulu kalau penghasilan tidak cukup, banyak warga pergi ke kampung orang menjadi tukang toreh. Pendidikan juga masih terbatas,” kata Entang mengenang saat dihubungi di Sanggau, Kamis.
Perubahan mulai terjadi setelah 29 Agustus 1981, ketika Wakil Presiden RI Adam Malik meresmikan penanaman perdana kelapa sawit di kawasan Sungai Dekan, Sanggau. Momentum tersebut menjadi awal pengembangan perkebunan kelapa sawit melalui Program Perkebunan Inti Rakyat (PIR-BUN).
Pengembangan perkebunan saat itu tidak hanya berfokus pada tanaman sawit, tetapi juga pembangunan infrastruktur seperti jalan, perumahan, fasilitas pendidikan, dan kesehatan.
Entang yang bergabung dengan perusahaan pada 1984 merasakan langsung perubahan tersebut. Menurutnya, kehadiran kebun plasma melalui pola Kredit Koperasi Primer untuk Anggota (KKPA) pada 1998 memberikan dampak besar bagi masyarakat.
“Sejak ada kebun plasma, masyarakat punya pendapatan mandiri dan banyak anak-anak bisa sekolah sampai sarjana,” ujarnya.
Saat ini, perkebunan PTPN di Kalimantan Barat menjadi bagian dari PTPN IV Regional V di bawah subholding PalmCo. Perusahaan mengelola areal seluas 63.242,61 hektare dengan lima pabrik kelapa sawit berkapasitas 240 ton tandan buah segar (TBS) per jam.
Region Head PTPN IV Regional V Sudarma Bhakti Lessan mengatakan fokus industri sawit kini tidak lagi hanya memperluas areal, tetapi meningkatkan produktivitas, memperkuat kemitraan dengan pekebun, serta menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Keberhasilan industri tidak hanya diukur dari luas lahan, tetapi kemampuan menciptakan nilai tambah dan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Memasuki fase baru, PTPN IV Regional V terus mendorong program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), termasuk pendampingan hingga 5.592 hektare pada 2025.
Empat puluh lima tahun setelah dimulainya pembangunan perkebunan sawit di Sanggau, tantangan berikutnya adalah memastikan industri sawit tumbuh berkelanjutan, produktif, dan tetap menjadi penggerak ekonomi masyarakat Kalbar.
Pewarta: Dedi
Editor : Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.