kingsheadwye.com

Abu Vulkanik Anak Krakatau Ganggu Penerbangan hingga Pariwisata, Ini yang Diwaspadai

Jakarta -

Abu vulkanik menjadi dampak utama pasca erupsi Gunung Anak Krakatau. Beberapa wilayah, penerbangan dan perekonomian menjadi lingkaran besar yang terpengaruh secara signifikan.

Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., seorang akademisi, peneliti, dan pakar di bidang ilmu kebumian, geomorfologi lingkungan, serta mitigasi bencana (vulkanologi) dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menjabarkan masalah utama pasca erupsi Gunung Anak Krakatau. Ia mewaspadai abu vulkanik yang kini tersebar ke beberapa wilayah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Abu vulkanik menjadi yang paling diwaspadai saat ini. Ketinggiannya yang cukup signifikan mengganggu transportasi udara, laut hingga darat," ucap Wakil Rektor UGM Bidang Peneliti dan Pengembangan Usaha itu lewat sambungan telepon pada detikTravel, Senin (7/9/2026).

Yang pertama penerbangan, sejak erupsi pada Jumat (4/9/2026) malam, abu vulkanik mulai mengganggu lalu lintas udara. Sejumlah bandara ditutup, lebih dari 170.000 penumpang terdampar di beberapa bandara. "Itu artinya ada perputaran ekonomi yang terhambat," ungkapnya.

Selama lebih dari dua dakede mendedikasikan diri dalam dunia geografi, kebencanaan dan vulkanologi, Dr. Danang sudah melihat banyak dampak abu vulkanik terhadap penerbangan. "Jika abu vulkanik masuk ke mesin pesawat bisa fatal, pesawat bisa mati," jelasnya.

Seperti yang kita ketahui, Gunung Anak Krakatau terletak di perairan Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatra. Masuk wilayah Kabupaten Lampung, abu vulkanik ini cukup mengkhawatirkan industri pariwisata di area Lampung dan Banten yang mengapit di kedua sisinya.

Kalau gangguan penerbangan lebih condong pada turis yang menggunakan transportasi udara, kapal laut menjadi sarana utama wisatawan domestik yang akan liburan di area Lampung dan Banten.

"Kapal penyeberangan Jakarta-Lampung juga terdampak karena abu vulkanik akan memengaruhi jarak pandang, seperti penerbangan," jelasnya.

Lebih detail, pakar vulkanologi dan mitigasi bencana ini juga menyebut bahwa komponen abu vulkanik yang terdiri dari bahan silika dapat menimbulkan masalah kesehatan, sehingga aktivitas luar ruangan, termasuk berwisata, harap ditunda terlebih dahulu.

"Kalau kita lihat di mikroskop, kandung abu vulkanik sangat tajam dan halus, memiliki potensi iritasi untuk saluran pernapasan dan iritasi mata. Sebaiknya, kurangi aktivitas outdoor," jelasnya.

Jika memang diharuskan keluar ruangan, masker dan kacamata bisa menjadi pilihan, terkhusus kacamata renang. Selain abu vulkanik, Dr. Danang juga mengantisipasi adanya sulfur dioksida dari Gunung Anak Krakatau.

"Jika nanti hujan, transportasi darat juga harus berhati-hati karena jalanan lebih licin," ucapnya.

Saat ini, Gunung Anak Krakatau memasuki tahap letusan strombolian, di mana letusan gunung berapi mengeluarkan ledakan yang relatif ringan. Aktivitas letusan stromboli dapat berlangsung sangat lama, sehingga sistem erupsi dapat berulang kali mengatur ulang dirinya sendiri.

Pariwisata Pasca Erupsi Gunung Anak Krakatau

Menurut Dr. Danang, pariwisata Indonesia masih dapat bergerak dinamis di pasca bencana erupsi. Belajar dari erupsi Gunung Merapi tahun 2010, kini pergerakan transportasi sudah bergerak lebih cepat.

"Saya lihat sekarang KAI langsung ada penambahan kereta karena bandara terdampak. Beberapa kolega mengatakan bahwa rencana mitigasi di Jakarta sudah disiapkan," katanya.

Mitigasi kebencanaan bukan hanya menetapkan langkah preventif, tapi juga menghitung kerentanan ekonomi dari suatu fenomena, termasuk di dalamnya industri perhotelan. Dr Danang mengimbau agar penyediaan masker untuk tamu hotel sebagai layanan tambahan yang mulai disiapkan.

"Belajar dari Covid-19, masyarakat kita sudah bisa recall bagaimana penggunaan masker yang baik memberikan keamanan," terang mantan Dekan Fakultas Geografi UGM itu.

Meski demikian, ia berharap agar kegiatan di luar ruangan, termasuk berwisata di area Lampung dan Banten tidak dilakukan sekarang ini. Menurutnya, kesehatan dan keamanan jadi poin penting dibandingkan liburan.

"Ditunda dulu, demi keselamatan dan kesehatan karena ini adalah prioritas utama. Pelaku wisata yang ada di daerah juga harus bisa mengakomodasikan keperluan wisatawan yang ada di sana," jelasnya.

Sebagai penutup, ia berharap agar pemerintah daerah dapat melakukan pembaruan informasi secara berkala terkait dengan masalah penyebaran abu vulkanik.

"Tiap daerah BPBD daerah dan dinas terkait yang memiliki informasi terkait bencana ini. Sebaiknya dilakukan edukasi publik perihal dampak kesehatan, jangan sampai nanti rumah sakit dan faskes mengalami masa genting karena banyak masyarakat yang terkena penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan iritasi mata akibat darii abu vulkanik," pungkasnya.

(bnl/ddn)