Agam Kerap Dilanda Banjir, Kementerian PU Siapkan Sabo Dam dan Tanggul 6 Meter
Bagikan:
JAKARTA -Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyiapkan solusi permanen untuk mengatasi banjir yang berulang melanda kawasan Sungai Batang Tumayo, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Pemerintah tidak hanya mengandalkan penanganan darurat, tetapi akan membangun Sabo Dam di bagian hulu serta memperkuat dan meninggikan tanggul sungai hingga 5–6 meter.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, langkah tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto agar persoalan banjir yang berdampak langsung terhadap masyarakat segera ditangani secara menyeluruh.
"Saya sengaja datang untuk menyelesaikan masalah ini. Jadi ini sesuai arahan Bapak Presiden Prabowo, jangan sampai masyarakat itu terdampak bencana kemudian tidak bisa tersenyum lagi. Harus secepatnya bisa tersenyum lagi masyarakat kami," kata Dody saat meninjau penanganan pascabencana banjir di Sungai Batang Tumayo, dikutip dari keterangan tertulis, Sabtu, 1 Agustus.
Menurut Dody, hasil peninjauan di lapangan menunjukkan salah satu penyebab banjir berasal dari bukaan aliran di bagian hulu yang cukup lebar. Kondisi tersebut membuat limpasan air berpotensi mengarah ke kawasan permukiman ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi.
Untuk mengendalikan aliran sejak dari hulu, Kementerian PU akan membangun Sabo Dam. Pemerintah juga telah meminta Balai Teknik Sabo di Yogyakarta melakukan pengujian bioteknik untuk memastikan desain konstruksi sesuai dengan kondisi lapangan.
"Kami akan buat Sabo Dam di atas. Sementara waktu, aliran sungai ini kami perlancar sampai dengan muara, plus kami naikkan tanggulnya. Mungkin, kalau bisa 5 sampai 6 meter, sambil diperkuat supaya kalau pun hujan dan banjir tidak lari ke permukiman," ujar Dody.
Selain pembangunan Sabo Dam dan peninggian tanggul, penanganan di Sungai Batang Tumayo terus dilakukan melalui sejumlah langkah darurat. Kementerian PU telah melakukan normalisasi alur sungai, pengangkatan sedimen serta pemasangan bronjong untuk memperkuat tebing sungai.
Sebanyak lima unit alat berat excavator PC200 telah dikerahkan sejak 20 Juli 2026 untuk mempercepat pekerjaan penanganan di lokasi.
Dody menegaskan, pengendalian banjir menjadi prioritas sebelum pemerintah melanjutkan pembangunan berbagai fasilitas publik lainnya di kawasan terdampak. Infrastruktur pengendali banjir perlu ditangani terlebih dahulu agar pembangunan rumah ibadah, sekolah, pondok pesantren maupun fasilitas lainnya tidak kembali terdampak bencana.
"Anggarannya untuk penanganan ini insyaallah ada, saya juga belum tahu kebutuhannya berapa karena masih dihitung oleh kepala balainya. Komitmen dari pemerintah pusat, dari Pak Presiden berapapun yang dibutuhkan masyarakat kami siapkan," tegasnya.
Penanganan tersebut menjadi bagian dari komitmen Kementerian PU untuk menghadirkan infrastruktur andal, aman dan tangguh terhadap bencana.
Upaya dilakukan secara bertahap, mulai dari respons cepat terhadap kondisi darurat, normalisasi sungai, penguatan tanggul hingga pembangunan infrastruktur pengendali banjir secara permanen dan berkelanjutan.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+