Agenda Industrialisasi Hijau Indonesia Bergaung di Forum APEC TELCA 2026
Pernyataan James Karnadi Disambut Standing Ovation
Kesenjangan akses terhadap teknologi hijau menjadi salah satu perhatian dalam Highlevel Meeting on APEC Technologies Empower Low Carbon Action (TELCA) 2026 di Shenzhen, Tiongkok.
Isu tersebut disampaikan diaspora Indonesia yang juga politikus muda Partai Golkar James Karnadi. Di hadapan peserta dari berbagai ekonomi anggota APEC, ia mengingatkan bahwa percepatan transisi rendah karbon dapat menimbulkan kesenjangan baru apabila teknologi hanya tersedia bagi negara yang memiliki modal dan infrastruktur memadai.
Menurut James, negara berkembang membutuhkan lebih dari sekadar komitmen untuk menurunkan emisi. Akses terhadap pembiayaan, transfer pengetahuan, pengembangan sumber daya manusia, serta kemitraan jangka panjang diperlukan agar teknologi rendah karbon dapat benar-benar diterapkan.
Pandangan tersebut relevan bagi Indonesia yang sedang menyeimbangkan kebutuhan pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, ketahanan energi, dan komitmen lingkungan.
“Dengan skala ekonomi serta posisi strategisnya di kawasan, Indonesia berpeluang menjadi penghubung antara negara pengembang teknologi dan negara berkembang yang membutuhkan solusi terjangkau,” kata James dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Senin, 7 September 2026.
Dalam penyampaiannya, James juga menekankan bahwa kerja sama teknologi sebaiknya tidak berhenti pada penjualan produk. Kemitraan perlu mencakup pengembangan kapasitas lokal agar setiap negara mampu mengoperasikan, menyesuaikan, dan pada akhirnya ikut mengembangkan teknologi tersebut.
Pernyataan itu mendapat sambutan positif dari peserta forum. Sejumlah delegasi memberikan tepuk tangan berdiri pada akhir sesi, terutama saat James menyinggung pentingnya memastikan transisi hijau tidak meninggalkan negara berkembang dan generasi muda.
APEC TELCA 2026 diikuti lebih dari 40 peserta dari 18 ekonomi anggota APEC. Forum tersebut mempertemukan pembuat kebijakan, akademisi, organisasi internasional, dan sektor swasta untuk membahas peta jalan teknologi rendah karbon, aksesibilitas, serta kemitraan lintas negara.
Kehadiran perwakilan muda Indonesia dalam forum itu turut memperlihatkan perubahan dalam diplomasi kawasan. Pembahasan mengenai teknologi dan iklim tidak lagi hanya berlangsung di antara pemerintah, tetapi mulai melibatkan generasi baru serta pelaku nonpemerintah yang akan berhadapan langsung dengan dampak kebijakan tersebut.
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.