AI Bisa Bentuk Informasi yang Kita Lihat, Ini Dampaknya
Sabtu, 26 September 2026 - 21:24 WIB
Jakarta, VIVA – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak hanya mengubah cara masyarakat mencari dan membuat informasi. Teknologi tersebut juga mulai memengaruhi informasi yang muncul di hadapan pengguna melalui algoritma, kurasi digital, hingga sistem rekomendasi pada berbagai platform.
Baca Juga
Perubahan ini dibahas dalam Diskusi Panel Dewan Profesor Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya bertajuk “Artificial Intelligence dan Mediatisasi: Transformasi Komunikasi, Media, dan Masyarakat Digital”. Forum tersebut membahas perkembangan AI sekaligus dampaknya terhadap komunikasi, media, masyarakat, serta persoalan etika dan hukum.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia Nezar Patria mengatakan perkembangan teknologi digital telah mengubah hubungan antara media dan audiens. Masyarakat kini tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga dapat memproduksi dan menyebarkan informasi melalui media sosial dan berbagai platform digital.
Baca Juga
Di sisi lain, algoritma dan machine learning ikut berperan dalam menentukan pola informasi yang dikonsumsi pengguna. Kondisi tersebut dapat membentuk echo chamber dan filter bubble, sehingga informasi yang diterima seseorang semakin dipengaruhi oleh sistem kurasi digital.
Perubahan tersebut membuat AI tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat bantu untuk menghasilkan konten. Teknologi juga mulai memiliki peran dalam menentukan bagaimana informasi diproses, disajikan, dan ditemukan oleh pengguna.
Baca Juga
Wakil Rektor Bidang Inovasi, Penelitian, Kerja Sama dan Alumni Unika Atma Jaya, Prof. Rosdiana Sijabat, mengatakan AI telah berkembang dari sekadar alat bantu menjadi bagian dari logika sosial. Menurutnya, perubahan tersebut berlangsung melalui datafikasi, kurasi algoritmik, produksi generatif, dan adaptasi institusi terhadap logika platform.
![]()
“Mediasi: AI membantu kita bekerja. Mediatisasi: kita mulai bekerja menurut logika AI,” ujarnya, dikutip Sabtu 26 September 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dampaknya tidak hanya terlihat pada pilihan informasi yang muncul di layar. AI dan sistem algoritmik juga dapat memengaruhi preferensi serta cara pengguna mengambil keputusan karena informasi yang tersedia telah melalui proses pemilihan dan penyaringan tertentu.
Kondisi tersebut kemudian menghadirkan tantangan baru bagi masyarakat digital. Konten sintetis, deepfake, bias algoritmik, serta perubahan cara masyarakat menentukan informasi yang dapat dipercaya menjadi sejumlah persoalan yang perlu dihadapi seiring perkembangan AI.
Halaman Selanjutnya
Rektor Unika Atma Jaya Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K), menekankan pentingnya menempatkan perkembangan teknologi dalam kerangka yang tetap memperhatikan manusia. “Sebagai Universitas Katolik, bagi kita teknologi pada akhirnya harus kembali kepada satu pusat: martabat manusia. AI harus membuat kita lebih mampu, bukan lebih tergantung. Media harus membuat kita lebih tercerahkan, bukan lebih mudah dimanipulasi,” ujarnya.