Amankan Kredit Keberlanjutan, Vale (INCO) Dorong Arus Hilirisasi Nikel Hijau - Korporasi Katadata.co.id
PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memasuki babak baru hilirisasi bijih nikel setelah berhasil mengikat pinjaman berkelanjutan skala besar dari sejumlah kreditur global akhir April lalu. Emiten pelat merah itu menggaet pinjaman sustainability-linked loan (SLL) mencapai US$ 750 juta atau sekitar Rp 13,44 triliun (asumsi kurs Rp 17.922 per dolar AS) dari sindikasi 14 bank internasional untuk mendorong pengembangan blok tambang dan smelter perseroan.
Kredit skala besar itu menjadi capaian penting INCO untuk memperkuat bantalan finansial perseroan sembari mendorong proyek hilirisasi nikel yang bertumpu pada prinsip keberlanjutan. Fasilitas pinjaman berkelanjutan tersebut turut menghitung opsi penambahan nilai kredit atau greenshoe sebesar U$ 250 juta. Adapun fasilitas jumbo yang didukung aliansi bank global itu mencetak kelebihan permintaan atau oversubscribe 1,7 kali di pasar kredit sindikasi.
Minat besar penyokong dana internasional itu mencerminkan kepercayaan tinggi investor pada aspek pertambangan berkelanjutan yang dikembangkan anak usaha PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID tersebut.
Principal Economist di Energy Shift Institute, Ahmad Zuhdi Dwi Kusuma, menilai positif keberhasilan INCO mengamankan pinjaman berkelanjutan tersebut. Menurut dia, pinjaman SLL itu menjadi dukungan konkret pasar keuangan global pada target lingkungan, sosial dan tata kelola (ESG) yang disematkan INCO.
“Fasilitas ini mencerminkan kombinasi kepercayaan kreditur terhadap kelayakan bisnis Vale dan kesediaan perusahaan mengikat pembiayaan pada target keberlanjutan yang terukur,” kata Zuhdi kepada Katadata, Senin (28/9).
Zuhdi berpendapat pinjaman SLL itu memperkuat dorongan untuk memperbaiki praktik pertambangan dan tata kelola perusahaan dengan evaluasi yang terukur dan transparan. “Perolehan SLL sendiri belum membuktikan bahwa target tersebut sudah tercapai, realisasinya perlu dipantau dan diverifikasi selama masa pinjaman,” tuturnya.
Kredit sindikasi itu mengacu pada sustainability-linked financing framework, yang selaras dengan praktik internasional dalam pembiayaan berbasis berkelanjutan. Indikator kinerja utama (KPI) yang digunakan dalam pembiayaan tersebut mencakup penurunan intensitas emisi karbon dan peningkatan penggunaan energi terbarukan.
Kedua KPI itu mendapat penilaian strong dari second party opinion independen, yang menilai keselarasan dengan target global untuk membatasi kenaikan suhu sesuai Paris Agreement 1.5 derajat Celsius pathway serta kontribusi terhadap target nationally determined contribution (NDC) Indonesia.
Deretan bank global yang terlibat dalam pembiayaan bergulir itu antara lain OCBC Bank, Sumitomo Mitsui Trust Bank, JP Morgan, Bank of China, dan Oversea-Chinese Banking Corporation Ltd. Berikutnya, ada pula Krung Thai Bank Public Company Ltd, China Construction Bank Corporation Ltd, The Shanghai Commercial & Savings Bank, Ltd, Hua Nan Commercial Bank Ltd hingga Arab Banking Corporation.
Adapun, United Overseas Bank (UOB) bertindak sebagai sole coordinator dan sole sustainability coordinator, bermitra dengan Bank DBS dan Bank Mizuho sebagai mandated lead arranger, bookrunner dan underwriter.
“Vale berhasil memperoleh pendanaan sustainability-linked loan berkat profil emisinya yang relatif rendah,” kata Analis Keuangan Energi Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) Mutya Yustika saat dihubungi Katadata, Senin (28/9).
Intensitas emisi INCO tercatat hanya sebesar 28,8 tCO?eq per ton nikel (tCO2eq/tNi) sepanjang 2025, jauh di bawah rata-rata kompetitor yang turut terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) berkisar antara 56–65 tCO?eq/tNi.
Jejak gas buang yang relatif kecil itu didorong tiga pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan kapasitas gabungan sebesar 365 megawatt (MW) yang menopang kebutuhan energi tambang dan pabrik pemurnian di Blok Sorowako.
Ketiga pembangkit air yang menopang Blok Sorowako di antaranya PLTA Larona, Balambano dan Karebbe. Ketiga pembangkit itu memanfaatkan aliran Sungai Larona yang bersumber dari sejumlah danau besar seperti Matano, Mahalona dan Towuti.
Adapun Vale mencatatkan proporsi energi terbarukan tertinggi untuk kegiatan operasionalnya sebesar 30,87% sepanjang tahun lalu. Selain memenuhi kebutuhan operasional perusahaan, sekitar 10,7 MW listrik dari aliran sungai itu turut disalurkan untuk masyarakat di Kabupaten Luwu Timur lewat PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN.
“Peningkatan pemanfaatan energi terbarukan menjadi faktor krusial untuk menjaga daya saing sekaligus menekan intensitas emisi,” kata Mutya.
Di sisi lain, dia berpendapat bahwa keberhasilan INCO untuk menggaet pinjaman global mesti tetap diawasi secara ketat. Sebab, tantangan berikutnya berkaitan dengan dampak lingkungan dari operasi pertambangan dan keterlibatan masyarakat lokal.
“Meski SLL yang diperoleh Vale menandai langkah maju, praktik ESG perusahaan tetap perlu diawasi secara ketat,” kata dia.
Menuju Hilirisasi Berkelanjutan
Presiden Direktur & CEO INCO, Bernardus Irmanto menerangkan fasilitas pinjaman itu menandai langkah penting perseroan untuk menyelaraskan strategi pembiayaan dengan praktik hilirisasi nikel yang berkelanjutan. “Kami berkomitmen untuk terus menghadirkan nikel berkualitas tinggi dengan jejak karbon yang lebih rendah,” kata Bernardus saat seremoni fasilitas kredit sindikasi itu, Jakarta, Kamis (23/4).
INCO menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar US$ 7,2 miliar atau Rp 129,04 triliun untuk mendorong proyek Indonesia Growth Project (IGP) di Morowali, Pomalaa dan Sorowako.
Proyek pertumbuhan ini berkaitan dengan ekspansi kapasitas tambang sekaligus membangun smelter high pressure acid leaching (HPAL) skala besar berkongsi dengan rekanan bisnis global lainnya. INCO menggandeng GEM Co Ltd. dan EcoPro untuk mengerjakan proyek HPAL Sambalagi dengan target first mechanical completion akhir tahun ini.
Proyek HPAL terintegrasi dengan tambang Blok Bahodopi ini dikembangkan melalui usaha patungan PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI), dengan kapasitas produksi sekitar 90.000 ton kandungan nikel per tahun dalam bentuk mixed hydroxide precipitate (MHP).
Konsorsium proyek itu belakangan mencapai tonggak penting dengan kedatangan autoclave, peralatan utama untuk proyek HPAL akhir Juli 2026 lalu. Autoclave akan mengolah bijih limonit lewat kombinasi suhu tinggi, tekanan tinggi dan asam sulfat untuk mengekstraksi nikel dan kobalt secara efisien.
Di Blok Pomalaa, INCO menggandeng Ford Motor Co. dan Zhejiang Huayou Cobalt Co Ltd (Huayou) membentuk usaha patungan PT Kolaka Nickel Indonesia. Konsorsium itu akan menggarap smelter HPAL dengan estimasi kapasitas produksi tahunan 120.000 ton nikel dan sekitar 15.000 ton kobalt yang terkandung dalam MHP.
Chief Project Officer INCO, Muhammad Asril menuturkan, proyek HPAL Pomalaa telah memasuki tahap pengujian sistem atau commissioning. Sementara kegiatan pertambagan di Pomalaa telah berjalan dan siap memasok limonit ke pabrik.
“Di Pomalaa, progres proyek lebih advanced. Fasilitas HPAL telah memasuki tahap commissioning, sementara kegiatan pertambangan telah berjalan dan siap memasok limonit ke pabrik,” kata Asril saat public expose, Jakarta, Kamis (10/9).
Di sisi lain, kegiatan penambangan dan penambahan stok limonit terus berjalan di IGP Sorowako. INCO menggandeng Huayou dan PT Huali Nickel Indonesia untuk membangun smelter HPAL dengan kapasitas tahunan 60.000 ton nikel dan 5.000 ton kobalt dalam bentuk MHP.
“Pekerjaan awal HPAL juga telah dimulai, termasuk engineering slurry pipeline sekitar 60 kilometer dan pembangunan jetty dan proses pembebasan lahan,” tuturnya.
Lewat proyek pertumbuhan itu, INCO bakal berpeluang mengerek kapasitas produksi dari ekspansi tambang sekitar 42,9 juta ton limonit dan 12,5 juta saprolite secara bertahap mulai tahun ini.
Manajemen INCO memperkirakan kebutuhan capex untuk proyek pengembangan itu sekitar US$ 700 juta atau Rp 12,55 triliun pada tahun ini. Sementara itu, kebutuhan investasi diproyeksikan mencapai puncaknya pada tahun depan dengan anggaran sekitar US$ 1,1 miliar atau Rp 19,71 triliun terkait dengan pembangunan fasilitas HPAL baru.
Selanjutnya, belanja modal akan berada di kisaran US$ 800 juta atau Rp 14,34 triliun pada 2028, yang ikut memperhitungkan kebutuhan participating rights pada proyek HPAL Sorowako. Sebagian kebutuhan investasi itu akan ditopang oleh pinjaman berkelanjutan yang berhasil diamankan INCO akhir April lalu.
Selain itu, INCO juga merancang manfaat finansial dari penyesuaian margin berbasis kinerja keberlanjutan ke dalam program pengembangan masyarakat. Rancangan penyaluran manfaat finansial itu akan memastikan capaian lingkungan, sosial dan tata kelola (ESG) turut mengerek kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasional INCO.
Modal Lingkungan dan Sosial
Komitmen untuk mengembalikan manfaat finansial kepada masyarakat dari capaian keberlanjutan perseroan itu turut mendapat dukungan dari mitra perbankan. Sejumlah kreditur melihat rancangan pembiayaan dengan terikat pada target keberlanjutan itu memberi ruang pada praktik pertambangan yang bertanggung jawab dan melibatkan masyarakat sekitar.
Global Head Metals & Mining Institutional Banking DBS, Mike Zhang mengatakan, sektor pertambangan memiliki peran penting untuk memastikan transisi energi berjalan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. “Seiring dengan peran tersebut, muncul tanggung jawab yang sama pentingnya untuk menunjukkan kemajuan yang kredibel dan terukur dalam aspek keberlanjutan,” kata Zhang lewat keterangan resmi DBS, dikutip pada Selasa (29/9).
Sementara itu, Presiden Direktur PT Bank Mizuho Indonesia, Ken Matsuo, menilai minat perbankan relatif besar untuk ikut bergabung dalam proyek keberlanjutan INCO kendati pasar belakangan tengah bergejolak. Menurut dia, minat itu menunjukkan kuatnya kepercayaan perbankan terhadap model bisnis keberlanjutan INCO.
“Kami melihat integrasi ESG dalam struktur pembiayaan seperti ini sebagai langkah penting dalam mendukung transisi energi secara berkelanjutan,” kata Matsuo dikutip dari keterangan resminya.
Sebelumnya, Menteri Investasi sekaligus CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menilai positif sejumlah kemajuan inisiatif pertumbuhan dan pengembangan ESG yang didorong INCO beberapa tahun terakhir. Dalam lawatannya ke IGP Morowali pertengahan Juli 2026 lalu, Rosan ikut menghadiri seremoni kedatangan autoclave untuk proyek HPAL di kawasan pabrik Sambalagi.
Rosan juga meninjau langsung perkembangan proyek pemurnian bahan baku baterai setrum tersebut. Di sana, ia melihat sejumlah inisiatif keberlanjutan yang diterapkan INCO. Salah satu lokasi yang menarik perhatiannya adalah fasilitas nursery atau pusat pembibitan tanaman yang mendukung program rehabilitasi dan reklamasi lahan pascatambang.
Fasilitas itu menjadi bagian dari pendekatan jangka panjang perusahaan dalam mengintegrasikan prinsip ESG ke dalam seluruh siklus bisnisnya. “Kita melihat adanya fasilitas pembibitan, serta penerapan best mining practices dengan standar internasional. Harapannya, hal tersebut dapat terus dijaga," kata Rosan.
Apresiasi bos Danantara itu mencerminkan meningkatnya perhatian terhadap kualitas investasi yang masuk ke Indonesia. Menurut Rosan, aspek keberlanjutan menjadi fondasi penting agar pertumbuhan ekonomi dapat berlangsung secara inklusif.
“Dengan begitu, investasi yang masuk dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan, bukan hanya bagi perusahaan tetapi juga bagi daerah dan masyarakat," tuturnya.
Lewat capaian itu, INCO berada pada posisi paling strategis untuk memenuhi kebutuhan bahan baku baterai setrum global dengan basis ESG dan lingkungan yang kuat. Dalam forum LME Week 2025 di London, INCO bahkan mengajak industri global untuk beralih ke apa yang disebut dengan nikel yang tepat atau the right nickel.
Mengutip keterangan resmi INCO, the right nickel merujuk pada nikel rendah karbon, ditambang secara etis, dan bersumber secara transparan dari komunitas yang turut berkembang bersama operasionalnya. “Itu berarti operasi yang dapat ditelusuri, tata kelola yang transparan, dan kemitraan komunitas yang berkelanjutan bahkan setelah tambang berhenti beroperasi,” kata Bernardus.
Secara paralel, INCO memperkuat tata kelola melalui standar global yang ketat. Operasi utama di Sorowako kini tengah menjalani verifikasi independen di bawah Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA). Audit untuk Bahodopi dan Pomalaa dikabarkan akan menyusul kemudian.
Dari sudut pandang pasar global, kebutuhan akan nikel hijau kian mendesak sebagai tulang punggung transisi energi. Menurut laporan International Energy Agency (IEA), adopsi baterai kendaraan listrik mencapai 1,2 Terawatt-hour (TWh) sepanjang 2025, naik hampir 30% dibanding 2024 dan 7 kali lipat dibanding 2020.
IEA memproyeksikan adopsi baterai setrum itu akan meningkat mencapai 3 TWh pada 2030 dan 4 TWh pada 2035. Adapun, adopsi baterai listrik pada pasar berkembang di luar Cina akan naik sekitar 15% pada 2035.
Proyeksi permintaan baterai listrik itu tertuang dalam laporan IEA bertajuk Global EV Outlook 2026: Growing sales amid an energy crisis. Laporan itu turut menyoroti tren kenaikan permintaan nikel, grafit dan logam tanah jarang sekitar 50% sampai 90% hingga tahun 2040. Adapun, permintaan nikel untuk baterai hampir 370.000 ton pada 2023, naik 30% dibanding tahun sebelumnya.
Dalam lanskap tren kebutuhan baterai global itu, INCO memiliki tanggung jawab besar untuk menjamin pasokan bahan baku yang berkelanjutan dan transparan. Dengan demikian, arus baru transisi energi global dapat berjalan dalam koridor etis yang makin ketat.