kingsheadwye.com

AMRI gandeng Pascasarjana UIN Raden Mas Said gelar karya KH Ahmad Rifa'i

AMRI gandeng Pascasarjana UIN Raden Mas Said gelar karya KH Ahmad Rifa'i

Senin, 13 Juli 2026 16:55 WIB

Image Print

Pimpinan Pusat Angkatan Muda Rifa'iyah (PP AMRI) bekerja sama dengan Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta menggelar pameran naskah kuno (manuskrip) karya Pahlawan Nasional Kiai Haji Ahmad Rifa'i di Gedung Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta, Jawa Tengah, Senin (13/7/2026). ANTARA/Aris Wasita

Solo (ANTARA) - Pimpinan Pusat Angkatan Muda Rifa'iyah (PP AMRI) bekerja sama dengan Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta menggelar pameran naskah kuno (manuskrip) karya Pahlawan Nasional Kiai Haji Ahmad Rifa'i.

Acara yang diselenggarakan di Gedung Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta, Jawa Tengah, Senin ini diinisiasi untuk membuka ruang akademik yang lebih luas dalam mengkaji pemikiran sang ulama pejuang abad ke-18 tersebut.

Ketua Panitia Kegiatan Ahmad Zahid Ali, S.T., mengungkapkan dalam eksibisi kali ini, pihaknya memboyong puluhan dokumen otentik yang bernilai sejarah tinggi.

“Secara kitab manuskrip, kita membawa 52 kitab ke sini,” ujar Ahmad Zahid di Surakarta.

Selain tumpukan kitab, panitia juga memamerkan bukti fisik berupa bathok (tempurung kelapa) yang merupakan replika atau alat ukur zakat resmi buatan KH Ahmad Rifa'i pada zamannya. Ukuran tersebut dikenal dalam istilah fikih sebagai takaran satu mud.

Mendorong riset akademik dan meluruskan sejarah

Meski KH Ahmad Rifa'i telah dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh pemerintah Indonesia sejak tahun 2004, Zahid menilai diskursus serta riset ilmiah mengenai pemikiran beliau di ranah perguruan tinggi masih tergolong minim. Di UIN Raden Mas Said Surakarta sendiri, kajian atau rujukan berbasis karya-karya Rifa'iyah tercatat belum ada.

Melalui pameran ini, PP AMRI berharap muncul stimulus baru bagi dunia akademik, khususnya para mahasiswa pascasarjana untuk memulai penelitian lebih lanjut.

“Harapannya setelah ini, orang-orang akan melakukan penelitian lebih lanjut terkait pemikiran Kiai Haji Ahmad Rifa'i, baik berbentuk skripsi, tesis, disertasi, maupun diskusi ilmiah lainnya,” katanya.

Langkah ini sekaligus menjadi momentum penting untuk mengikis stigma historis. Berdasarkan catatan kolonial seperti Serat Cabolek yang diinisiasi pemerintah Hindia Belanda, ajaran KH Ahmad Rifa'i bersama KH Ahmad Mutamakin sempat dikategorikan "sesat" karena pemikiran dan doktrin yang dianggap berbahaya bagi pemerintah saat itu. Tarikan sejarah kelam itu membuat pengikut dan karyanya sempat terasingkan hingga medio tahun 2000-an.

Karakteristik dakwah: Bahasa Jawi Pegon dan Syair

KH Ahmad Rifa'i hidup pada periode 1800-an (1786 - 1871 M), jauh sebelum masa KH Hasyim Asy'ari (Nahdlatul Ulama) maupun KH Ahmad Dahlan (Muhammadiyah). Salah satu keistimewaan dan keberanian menonjol dari dakwah beliau adalah keberhasilannya menerjemahkan pemikiran Islam yang rumit ke dalam format yang membumi.

Ia mentransformasikan teks-teks Arab ke dalam bahasa Jawa beraksara Pegon yang digubah dalam bentuk syair (nadhom). Metode ini dinilai sangat revolusioner pada masanya untuk mencerdaskan masyarakat awam atau golongan “abangan” yang kesulitan membaca kitab kuning gundul. Berkat pendekatan berbasis translasi tersebut, para santri pengikutnya kerap dijuluki sebagai "Santri Tarjumah".

Koleksi asli tersebar di Leiden dan The British Library

Menyangkut keberadaan dokumen primer, Zahid menjelaskan manuskrip asli karya KH Ahmad Rifa'i saat ini tersebar di beberapa belahan dunia. Sebagian besar koleksi utama yang terawat baik justru disimpan oleh lembaga internasional.

“Koleksi secara asli itu masih tersimpan di beberapa tempat, salah satunya di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Ada juga sebagian kecil di The British Library (Perpustakaan Nasional Britania Raya), Inggris,” ungkapnya.

Sementara itu, sisa naskah lainnya yang berada di dalam negeri masih dirawat secara swadaya oleh individu serta para ahli waris jemaah Rifa'iyah secara turun-temurun.

Dalam pameran di UIN Surakarta ini, panitia sengaja memadukan manuskrip kuno dengan kitab-kitab cetakan baru. Hal tersebut dimaksudkan agar para pengunjung, khususnya generasi muda, tidak hanya sekadar mengagumi fisik naskah kuno, tetapi juga dapat belajar membaca aksara Pegon secara langsung di lokasi.


AMRI gandeng Pascasarjana UIN Raden Mas Said gelar karya KH Ahmad Rifa’i

Pimpinan Pusat Angkatan Muda Rifa'iyah (PP AMRI) bekerja sama dengan Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta menggelar pameran naskah kuno (manuskrip) karya Pahlawan Nasional Kiai Haji Ahmad Rifa'i.

Acara ini diinisiasi guna membuka ruang akademik yang lebih luas dalam mengkaji pemikiran sang ulama pejuang abad ke-18 tersebut.

Ketua Panitia Kegiatan Ahmad Zahid Ali, S.T., mengungkapkan dalam eksibisi kali ini, pihaknya memboyong puluhan dokumen otentik yang bernilai sejarah tinggi.

“Secara kitab manuskrip, kita membawa 52 kitab ke sini,” ujar Ahmad Zahid di Surakarta.

Selain tumpukan kitab, panitia juga memamerkan bukti fisik berupa *bathok* (tempurung kelapa) yang merupakan replika atau alat ukur zakat resmi buatan KH Ahmad Rifa'i pada zamannya. Ukuran tersebut dikenal dalam istilah fikih sebagai takaran satu mud.

Mendorong Riset Akademik dan Meluruskan Sejarah

Meski KH Ahmad Rifa'i telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia sejak tahun 2004, Zahid menilai diskursus serta riset ilmiah mengenai pemikiran beliau di ranah perguruan tinggi masih tergolong minim. Di UIN Raden Mas Said Surakarta sendiri, kajian atau rujukan berbasis karya-karya Rifa'iyah tercatat belum ada.

Melalui pameran ini, PP AMRI berharap muncul stimulus baru bagi dunia akademik, khususnya para mahasiswa pascasarjana untuk memulai penelitian lebih lanjut.

"Harapannya setelah ini, orang-orang akan melakukan penelitian lebih lanjut terkait pemikiran Kiai Haji Ahmad Rifa'i, baik berbentuk skripsi, tesis, disertasi, maupun diskusi ilmiah lainnya," kata Zahid menambahkan.

Langkah ini sekaligus menjadi momentum penting untuk mengikis stigma historis. Berdasarkan catatan kolonial seperti Serat Cabolek yang diinisiasi pemerintah Hindia Belanda, ajaran KH Ahmad Rifa'i bersama KH Ahmad Mutamakin sempat dikategorikan "sesat" karena gerakan perlawanan mereka yang radikal terhadap penjajah. Tarikan sejarah kelam itu membuat pengikut dan karyanya sempat terasingkan hingga medio tahun 2000-an.

Karakteristik Dakwah: Bahasa Jawi Pegon dan Syair

KH Ahmad Rifa'i hidup pada periode 1800-an, jauh sebelum masa KH Hasyim Asy'ari (Nahdlatul Ulama) maupun KH Ahmad Dahlan (Muhammadiyah). Salah satu keistimewaan dan keberanian menonjol dari dakwah beliau adalah keberhasilannya menerjemahkan pemikiran Islam yang rumit ke dalam format yang membumi.

Ia mentransformasikan teks-teks Arab ke dalam bahasa Jawa beraksara Pegon yang digubah dalam bentuk syair (nadhom). Metode ini dinilai sangat revolusioner pada masanya untuk mencerdaskan masyarakat awam atau golongan *abangan* yang kesulitan membaca kitab kuning gundul. Berkat pendekatan berbasis translasi tersebut, para santri pengikutnya kerap dijuluki sebagai "Santri Tarjumah".

Koleksi Asli Tersebar di Leiden dan Oxford

Menyangkut keberadaan dokumen primer, Zahid menjelaskan manuskrip asli karya KH Ahmad Rifa'i saat ini tersebar di beberapa belahan dunia. Sebagian besar koleksi utama yang terawat baik justru disimpan oleh lembaga internasional.

"Koleksi secara asli itu masih tersimpan di beberapa tempat, salah satunya di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Ada juga sebagian kecil di The British Library (Perpustakaan Nasional Britania Raya) di Inggris," ungkapnya.

Sementara itu, sisa naskah lainnya yang berada di dalam negeri masih dirawat secara swadaya oleh individu serta para ahli waris jemaah Rifa'iyah secara turun-temurun.

Dalam pameran di UIN Surakarta ini, panitia sengaja memadukan manuskrip kuno dengan kitab-kitab cetakan baru. Hal tersebut dimaksudkan agar para pengunjung, khususnya generasi muda, tidak hanya sekadar mengagumi fisik naskah kuno, tetapi juga dapat belajar membaca aksara Pegon secara langsung di lokasi.

Pewarta: Aris Wasita
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.