kingsheadwye.com

Anak Tukang Taman di Undip Viral Lulus Cumlaude, Ini Kisah Haru di Baliknya

Semarang -

Dibalik senyum bahagia dan foto viral bersama orang tuanya di taman FISIP Universitas Diponegoro (Undip), perjalanan akademis anak tukang taman yang viral ini ternyata dipenuhi perjuangan keras. Setelah sempat mengalami gap year selama 10 tahun, ia harus berjuang membagi waktu antara bekerja, membiayai kuliahnya sendiri, hingga berburu restu orang tua demi menuntaskan pendidikan S2.

Kisah haru sekaligus menginspirasi ini datang dari seorang wisudawan Magister (S2) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip). Melalui unggahan di akun Instagram miliknya, @kriskrissss_, pria tersebut membagikan momen kebahagiaannya saat merayakan kelulusan magister berpredikat cumlaude bersama kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai petugas kebersihan dan perawatan taman (tukang taman) di lingkungan kampus tempatnya menimba ilmu.

[Gambas:Instagram]

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perjuangan menyelesaikan studi jenjang magister bukanlah hal yang mudah baginya, terlebih ia harus membagi waktu antara bekerja dan berkuliah. Meskipun kedua orang tuanya tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi dan tidak memahami istilah-istilah akademis seperti SKS maupun tesis, dukungan moral serta doa tulus yang tiada henti menjadi bahan bakar utamanya untuk terus melangkah hingga garis akhir.

"Setiap kali aku ngeluh capek kerja sekaligus kuliah, mereka cuma bilang 'terusno, ojo mandheg' (lanjutkan, jangan berhenti). Doa yang nggak pernah putus, walau nggak pernah diucap keras-keras," tulisnya dalam unggahan tersebut, yang memperlihatkan kebanggaannya berfoto memakai toga tepat di taman indah hasil kerja keras kedua orang tuanya.

Momen haru lulusan S2 FISIP Universitas Diponegoro (Undip), Kristiyawanto rayakan kelulusan bersama orang tua yang merupakan tukang taman kampus. Ia persembahkan gelar cumlaude untuk kedua orang tua.Momen haru lulusan S2 FISIP Universitas Diponegoro (Undip), Kristiyawanto rayakan kelulusan bersama orang tua yang merupakan tukang taman kampus. Ia persembahkan gelar cumlaude untuk kedua orang tua. Foto: Dok. Instagram @kriskrissss_.

Momen haru tersebut terekam dalam potret hangat di depan kampus FISIP Undip, tempat Kris berdiri bangga mengenakan jubah toga lengkap dengan kalung wisudawan berpredikat cumlaude. Di sisinya, kedua orang tuanya tampak tersenyum lebar dengan pakaian kerja khas mereka, sang bapak mengenakan kaos lengan panjang oranye dipadu celana pendek yang dilapisi boots karet tinggi sambil menggenggam kapor/alat kebun, sementara sang ibu tampil bersahaja dengan hijab, topi caping penahan panas, dan sepatu boots senada.

Kontrasnya pakaian akademis yang megah dengan seragam kerja kebun yang sederhana justru mempertegas keindahan perjuangan keluarga ini, memperlihatkan bagaimana tangan-tangan yang merawat taman kampus itu berhasil mengantarkan sang anak meraih puncak prestasi akademisnya. KLIK DI SINI untuk membaca artikel viral!


Konfirmasi Wolipop

Pria berusia 34 tahun asal Bandungan, Jawa Tengah ini menceritakan bahwa foto wisuda yang viral tersebut diambil pada Sabtu (25/7/2026), beberapa hari sebelum prosesi wisuda resminya di Gedung Muladi Dome Undip Tembalang pada Kamis (30/7/2026).

Anak pertama dari dua bersaudara ini mengungkapkan bahwa postingan tersebut murni sebagai bentuk persembahan dan rasa syukurnya memiliki orang tua yang luar biasa.

"Postingan ini sebenarnya persembahan aku untuk kedua orang tua aku karena support yang luar biasa dari mereka. Aku merasa beruntung menjadi keluarga sederhana mereka," ujar pria yang akrab disapa Kris tersebut saat diwawancarai Wolipop.

Momen haru lulusan S2 FISIP Universitas Diponegoro (Undip), Kristiyawanto rayakan kelulusan bersama orang tua yang merupakan tukang taman kampus. Ia persembahkan gelar cumlaude untuk kedua orang tua.Momen haru lulusan S2 FISIP Universitas Diponegoro (Undip), Kristiyawanto rayakan kelulusan bersama orang tua yang merupakan tukang taman kampus. Ia persembahkan gelar cumlaude untuk kedua orang tua. Foto: Dok. Instagram @kriskrissss_

Awalnya, Kris sempat ragu meminta waktu orang tuanya untuk sesi foto. Sebab, pada hari Sabtu, sang ayah biasanya sangat sibuk bekerja sambilan sebagai pengemudi shuttle wisata di area Candi Gedongsongo dan Taman Bunga Celosia Bandungan.

Namun, demi sang anak, kedua orang tuanya menyanggupi. Ibu Kris bahkan sempat ingin menyiapkan baju spesial, walau Kris memintanya memakai pakaian kerja biasa saat merawat taman agar momen nostalgia mereka terasa autentik.

Sesi pemotretan tersebut membangkitkan kembali kenangan manis saat Kris masih aktif berkuliah. Momen saat ia belajar di dalam gedung FISIP, sementara orang tuanya sedang berkeringat menggarap taman di luar gedung, menjadi kenangan indah yang tak tergantikan.

"Setelah kelas, kami janjian untuk makan cemilan bekal di taman ini. Aku duduk bareng mereka dan aku nggak peduli apa kata anak-anak kampus saat itu. Kami banyak ngobrol soal apa yang sedang dikerjakan di taman. Nah, aku pengen mengabadikan momen-momen itu biar selalu saya ingat untuk bersyukur punya mereka," kenang lulusan yang sebelumnya menempuh S1 di ISI Yogyakarta dengan beasiswa Bidikmisi ini.

Perjuangan Menembus S2 Setelah Gap Year 10 Tahun

Keputusannya untuk melanjutkan pendidikan S2 setelah gap year selama 10 tahun bukanlah hal yang mudah. Kris sempat pontang-panting berburu beasiswa namun belum membuahkan hasil. Ketika ia memberanikan diri meminta izin, sang ibu sempat kaget dan mempertanyakan masalah biaya.

"Ibu sebenarnya kaget dan tanya bagaimana nanti dengan biayanya. Setelah saya jelaskan detail akademik, ibu ngerti dan bilang setuju karena saya mau berusaha untuk membayar UKT dengan usaha sendiri. Aku bilang hanya butuh izin dan restu. Bapak nggak banyak bicara, tapi hanya bilang 'Kalau ada kemauan, kamu harus bisa tanggung jawab'. Itu saja, mereka sangat support kalau tujuannya jelas," tuturnya.

Selama menjalani masa kuliah S2 sambil bekerja, tak jarang Krisss merasa lelah dan hampir menyerah. Namun, kekuatan doa dari kedua orang tuanya menjadi bahan bakar utama yang terus menguatkannya hingga berhasil meraih gelar Magister Ilmu Komunikasi.

"Saya ingin menyampaikan bahwa memang doa orang tua itu ajaib, semua yang saya jalani dan hasilkan sekarang itu dari doa orang tua. Sempat ingin menyerah, tapi setiap kali saya lembur mengerjakan tesis, bapak dan ibu bersujud dan berdoa," ungkap Krisss penuh haru.

Usai resmi menyandang gelar magister, Krisss berencana mencari peluang sebagai dosen praktisi untuk menimba pengalaman mengajar, sembari mempersiapkan diri serta memburu beasiswa untuk jenjang S3 mendatang.

"Ternyata memang sulit kuliah sambil kerja cari uang untuk UKT. Saya baru sadar dan salut sama teman-teman yang bisa menjalani kuliah sambil bekerja, jujur berat banget," pungkasnya.

(gaf/eny)