Anggota DPR dorong paradigma koeksistensi hadapi konflik global
Anggota DPR dorong paradigma koeksistensi hadapi konflik global
Minggu, 26 Juli 2026 12:18 WIB
Anggota Komisi II DPR RI Azis Subekti. ANTARA/HO-DPR RI/am.
Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi II DPR RI Azis Subekti mendorong masyarakat internasional untuk mulai beralih dari paradigma kemenangan mutlak menuju paradigma koeksistensi dalam menghadapi konflik global.
Azis dalam keterangan diterima di Jakarta, Minggu, mengatakan bahwa perkembangan teknologi, keterhubungan ekonomi, serta semakin besarnya kemampuan negara-negara untuk saling merusak membuat kemenangan absolut semakin sulit dicapai.
"Kekuatan masih penting, tetapi kemenangan menjadi semakin sulit didefinisikan," ujarnya.
Menurutnya, perang modern tidak hanya menimbulkan kerugian bagi pihak-pihak yang terlibat langsung, tetapi juga masyarakat di berbagai negara, seperti gangguan di jalur perdagangan, serangan siber, penggunaan pesawat nirawak, dan terganggunya rantai pasok.
Ia juga mengatakan kemampuan untuk memenangkan pertempuran juga tidak selalu menghasilkan keuntungan strategis.
"Kemenangan militer dapat berubah menjadi kekalahan ekonomi. Keberhasilan taktis dapat melahirkan kerugian strategis," katanya.
Oleh karena itu, ia mendorong penerapan paradigma koeksistensi dalam menghadapi konflik global.
Ia pun menegaskan bahwa koeksistensi bukan berarti menghapus persaingan atau mengabaikan perbedaan kepentingan antarnegara.
"Koeksistensi adalah kesadaran bahwa keberlanjutan lebih penting daripada kemenangan sesaat. Persaingan harus dikelola agar tidak berubah menjadi kehancuran bersama," katanya.
Adapun Menteri Luar Negeri RI Sugiono pada kesempatan sebelumnya menegaskan bahwa Indonesia akan terus memperkuat multilateralisme agar tetap mampu bekerja di tengah dunia yang semakin terfragmentasi dan penuh ketidakpastian.
"Bebas aktif bukan berarti pasif atau netral. Indonesia tidak akan terseret ke dalam blok-blok eksklusif, tetapi akan terus membangun jembatan dan memperluas ruang strategisnya," kata Menlu.
Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi dan diwarnai rivalitas strategis, Sugiono menjelaskan bebas aktif memberikan ruang bagi Indonesia untuk menentukan sikap secara mandiri, sekaligus tetap aktif berkontribusi bagi perdamaian, stabilitas, dan ketertiban dunia.
Pewarta : Nadia Putri Rahmani
Editor:
Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026