kingsheadwye.com

Antasyafi Robby Al Hilmi Juara World Climbing Series, Ngebut 4 Detik

Jakarta, CNN Indonesia --

Atlet panjat tebing Indonesia, Antasyafi Robby Al Hilmi, menjadi yang tercepat dalam ajang World Climbing Series Guiyang, China, Jumat (11/9).

Robby memastikan medali emas nomor speed perorangan putra dengan mencatatkan waktu 4,65 detik.

Selain meraih emas pertama di ajang World Climbing Series, catatan waktu tersebut juga mempertajam catatan pribadinya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pilihan Redaksi

  • Hasil Practice Moto3 San Marino: Veda Ega Ungguli Hakim Danish
  • Hasil Practice MotoGP San Marino: Bezzecchi Kalahkan Duo Marquez
  • Janice Tjen Resmi Tak Ikut Asian Games 2026

Robby mengalahkan Yongzhi Ling dari China yang hanya mampu memanjat dengan catatan waktu 4,75 detik. Robby juga lebih cepat 0,15 detik dibanding Shouhong Chu dari China dan atlet Jepang Ryo Omasa yang membukukan catatan waktu 4,99 detik.

"Saya senang karena ini emas pertama saya di World Climbing Series. Ini berkat dukungan semuanya dan latihan bersama teman-teman atlet di Indonesia," kata Robby dikutip dari rilis resmi Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI).

Selain mempersembahkan emas kepada rakyat Indonesia. Ada satu sosok spesial yang dengan lantang ia sebut setelah jadi yang terbaik.

"Ibu, akhirnya aku emas!" ucapnya.

Robby mengakui kekalahan tiga kali dalam World Climbing Series sebelumnya jadi pemicu semangat untuk tampil lebih baik.

Kendati demikian Robby pun masih merasa belum mencapai titik sempurna. Menurutnya masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi, khususnya teknik pemanjatan.

Dengan kemenangan ini, Robby kokoh bertengger di peringkat satu dunia speed perorangan putra seri 2026 dengan skor 2.864.

Atlet panjat Indonesia lainnya yakni Raharjati Nursamsa harus terhenti di babak semifinal. Di nomor putri, Rajiah Sallsabillah terhenti di semifinal, sedangkan Adi Asih dan Berthdigna Devi Surya terhenti di perempat final.

Pemanjatan speed dalam seri 2026 menggunakan empat jalur. Namun, dalam sejarahnya, kompetisi speed diselenggarakan menggunakan dua jalur. Format empat jalur hanya pernah digunakan pada ajang regional tertentu, seperti Asian Games.

Dalam pemanjatan empat jalur, terdapat empat atlet mendaki jalur standar yang sejajar secara bersamaan. Alih-alih hanya dua atlet yang berlomba memperebutkan medali emas dan perak, babak final menampilkan empat pesaing yang berlomba bersama untuk memperebutkan medali emas, perak, perunggu, dan tempat keempat.

[Gambas:Video CNN]

(nva/nva)