Antisipasi Banjir, GP Ansor Siapkan Aksi Bersih Sungai |Republika Online
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) akan menggelar aksi bersih-bersih sungai di berbagai daerah untuk merespons kekeringan sekaligus mengurangi risiko banjir. Gerakan tersebut akan melibatkan perangkat organisasi melalui Satuan Tugas Aksi Kemanusiaan Ansor 2026 yang mulai bergerak pada pekan ini.
Ketua Umum GP Ansor Addin Jauharudin mengatakan, seluruh perangkat organisasi akan dilibatkan dalam aksi tersebut. “Seluruh perangkat sumber daya organisasi agar digerakkan. Singsingkan lengan baju kita, keluarkan sumber daya kita dan kelola personel organisasi untuk kemasalahatan Indonesia,” ujar Addin dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Satuan Tugas Aksi Kemanusiaan Ansor 2026 dibentuk bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan tasyakuran pascamuktamar ke-36 NU di Jakarta. Selain membersihkan sungai, satgas tersebut akan terlibat dalam penanganan banjir, kebakaran hutan dan lahan, pascaerupsi gunung api, gempa di NTT, serta kekeringan di sejumlah wilayah.
“Kita bahu membahu membangun persatuan dan gotong royong meringankan beban masyarakat terdampak bencana,” kata Addin.
Selain aksi kemanusiaan, organisasi sayap MDS Rijalul Ansor akan menggelar gerakan spiritual kebangsaan melalui sejumlah kegiatan, antara lain ziarah makam raja-raja Nusantara dan ulama, peringatan Maulid Nabi, shalat istisqa, pemberian ijazah, serta doa untuk bangsa.
Aksi tersebut juga dikaitkan dengan gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) yang diluncurkan Presiden Prabowo pada awal 2026 untuk mendorong lingkungan yang bersih.
“Di lapangan, Aksi Kemanusiaan Ansor 2026 ini agar berkolaborasi dengan semua unsur baik Pemerintah Daerah, TNI, Polri, Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD), Swasta dan elemen masyarakat,” kata dia.
Gerakan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi musim hujan pada Desember 2026 hingga Februari 2027. Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramadhani mengatakan, curah hujan secara akumulatif pada periode tersebut diperkirakan berada pada kondisi normal, tetapi dapat turun dengan intensitas tinggi dalam waktu yang relatif singkat.
“Meskipun durasi musim hujannya relatif pendek, curah hujan akumulasinya umumnya normal. Nah ini yang perlu diwaspadai. Jadi bisa saja hujan nanti jatuh secara intens di bulan-bulan tersebut dan untuk wilayah-wilayah yang secara historikal terjadi bencana hidrometeorologi basah, itu perlu diwaspadai,” kata dia.
sumber : Antara