Antrean Jual Saham GOTO Mengular, Tembus 419 Juta Lot - Bursa Katadata.co.id
Antrean jual saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mengular capai 419,22 juta lot hingga perdagangan intraday hari ini, Kamis (20/8) pukul 14.17 WIB. Volume yang diperdagangkan tercatat 8,67 juta dengan nilai transaksi Rp 433,48 juta dan kapitalisasi pasarnya mencapai Rp 57,03 triliun.
Harga saham GOTO sudah berbulan-bulan stagnan di Rp 50. Tak hanya itu, secara year to date (ytd), saham emiten ojek online itu sudah anjlok 21,88%.
Tekanan terhadap saham itu berlanjut kala indeks bergengsi MSCI pada periode Agustus 2026 mengeluarkan GOTO dari MSCI Global Standard Indexes. MSCI menyebut, rendahnya likuiditas saham GOTO berpotensi menyulitkan investor dalam mereplikasi kinerja indeks.
Saham GOTO diketahui terus diperdagangkan pada harga minimum Rp 50 per saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak penutupan perdagangan 13 Mei 2026. MSCI menghapus GOTO dari MSCI Indonesia Investable Market Index dengan menetapkan harga sistem terendah sebesar 0,00001 dari mata uang harga saham tersebut sebagai dasar perhitungan indeks.
Sejumlah sekuritas sebelumnya sudah mewanti-wanti kemungkinan besar saham teknologi itu didepak dari indeks. Equity Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Wilbert Arifin, memproyeksikan dana pasif yang keluar mencapai sekitar Rp 1 triliun apabila GOTO keluar dari MSCI.
Nilai tersebut setara sekitar 20 miliar saham atau sekitar 2% dari kepemilikan asing di GOTO. Berdasarkan perhitungan Mirae Asset Sekuritas, kapitalisasi pasar indeks MSCI Indonesia berpotensi turun hingga 6%.
Kinerja Perseroan hingga Semester I 2026
Meskipun harga sahamnya tidak ke mana-mana, secara umum kinerja keuangan GOTO membukukan "rapor" positif. Hingga semester pertama 2026, GOTO mencetak laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 607,49 miliar. Torehan itu berbalik positif atau melonjak sekitar 204,7% secara tahunan atau year on year (YoY) dari rugi Rp 580,01 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Berdasarkan laporan keuangannya, pendapatan GOTO juga melonjak 28,4% YoY dari Rp 8,55 triliun menjadi Rp 10,9 triliun hingga Juni 2026. Secara terperinci, segmen on-demand services (Gojek) membukukan EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp 464 miliar, meningkat 41% yoy, ditopang oleh pendapatan bersih yang mencapai Rp 3,6 triliun.
Jumlah pesanan yang diselesaikan tumbuh 3% YoY dan 8% secara kuartalan atau quarter on quarter (qoq). Sementara itu, nilai transaksi bruto (GTV) naik 2% YoY menjadi Rp 16,7 triliun. Perseroan menyatakan tetap memprioritaskan peningkatan margin menjelang penerapan aturan komisi 8% yang baru.
Di segmen delivery, margin GOTO meningkat menjadi 2,1% dari 1,8% pada periode yang sama tahun lalu. Adapun margin di segmen mobility naik menjadi 5,0% dari 3,0%. GOTO menyebut pelanggan yang memiliki tingkat pengeluaran tinggi menjadi pendorong utama kinerja. Ini tercermin dari kenaikan jumlah pengguna dengan tingkat pengeluaran sangat tinggi sebesar 21% dibandingkan tahun lalu.
Di sisi lain, investasi pada segmen pasar massal atau mass market mulai menunjukkan hasil. Seiring implementasi kebijakan komisi 8%, perseroan akan mengalihkan fokus ke produk yang lebih terjangkau dan memiliki frekuensi penggunaan tinggi.
Kemudian pada segmen fintech (GoPay), GOTO membukukan EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp 481 miliar atau melonjak 447% secara tahunan. Pendapatan bersih juga meningkat 53% YoY menjadi lebih dari Rp 2,0 triliun.