APEC proyeksi perekonomian kawasan tumbuh 3,2 persen pada 2026
Jakarta (ANTARA) - Forum Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) memprediksi rata-rata pertumbuhan ekonomi seluruh anggotanya dapat mencapai 3,2 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada tahun ini, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi dunia yang diperkirakan hanya 3,0 persen yoy.
Menurut laporan yang dirilis di Dalian, China, Jumat, para analis APEC menyatakan pertumbuhan itu ditopang oleh pesatnya perdagangan produk teknologi, layanan digital, dan aliran investasi di sektor-sektor tersebut.
“Perdagangan masih menjadi salah satu sektor yang menunjukkan kinerja positif di kawasan ini. Ekspansi yang tercatat pada tahun 2025 berlanjut hingga awal tahun 2026, terutama didorong oleh produk-produk teknologi,” tulis laporan tersebut.
Nilai ekspor tercatat melonjak 18,8 persen yoy dengan kenaikan volume sebesar 10,8 persen yoy, sedangkan nilai impor meningkat 10,2 persen yoy dengan kenaikan volume sebesar 11,1 persen yoy.
Sektor layanan digital juga terus menunjukkan kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi di kawasan. Sepanjang 2025, nilai ekspor dan impor layanan digital masing-masing menembus 1,8 triliun dolar AS dan 1,5 triliun dolar AS, melonjak sekitar 70-75 persen dibandingkan pencapaian pra-pandemi.
Pertumbuhan tersebut juga didukung aliran Penanaman Modal Asing (PMA) yang secara umum stabil dengan investasi baru (greenfield investment) berfokus ke layanan digital, elektronik, dan energi.
Ketiga sektor itu mendominasi 57,6 persen dari total investasi baru global pada 2025, melonjak hampir 10 poin persentase dibandingkan lima tahun lalu.
Hal tersebut mencerminkan pergeseran struktural di kalangan anggota APEC menuju perekonomian yang lebih terdigitalisasi dan berfokus pada ketahanan energi.
Meskipun demikian, inflasi yang cukup tinggi masih menjadi ancaman. Rata-rata inflasi di kawasan tersebut diproyeksikan meningkat dari 2,4 persen pada 2025 menjadi 2,9 persen pada 2026.
Kenaikan inflasi tersebut salah satunya dipicu oleh ketegangan geopolitik yang masih berlangsung. Hal itu menyebabkan peningkatan harga energi dan biaya asuransi logistik, yang berujung pada naiknya tarif pengiriman barang secara global.
Selain itu, inflasi juga didorong oleh menurunnya produksi sektor pertanian akibat cuaca ekstrem dan fenomena El Niño sehingga mendorong lonjakan harga bahan pangan.
Kenaikan biaya logistik dan harga pangan tersebut dikhawatirkan akan menguras daya beli masyarakat, meningkatkan beban operasional bisnis, dan membuat iklim investasi menjadi lebih fluktuatif.
Untuk menghadapi risiko ekonomi tersebut, para analis APEC menyampaikan empat rekomendasi kebijakan, yakni akselerasi transformasi digital, penguatan rantai pasok, peningkatan adaptasi iklim dan ketahanan pangan, serta mobilisasi investasi secara produktif.
“Guna merealisasikan hal tersebut, diperlukan kerja sama regional yang lebih kuat, investasi berkelanjutan pada infrastruktur dan keterampilan (sumber daya manusia), serta kebijakan yang mendukung pertumbuhan secara luas dan memperkuat kapasitas kawasan dalam menghadapi guncangan di masa depan,” demikian laporan tersebut.
Baca juga: China perdalam kerja sama industri energi dengan mitra APEC
Baca juga: APEC bahas penyuntingan gen untuk perkuat ketahanan pangan kawasan
Baca juga: China dorong inovasi dan digitalisasi UKM dalam Forum APEC
Pewarta: Uyu Septiyati Liman
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.