Bahlil Ungkap Dampak El Nino terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Air |Republika Online
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia (kedua dari kanan) saat menyapa pengguna kendaraan listrik yang sedang melakukan pengisian daya di SPKLU Rest Area KM 519B, Sragen, Jawa Tengah, Kamis (26/3/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkap dampak fenomena El Nino terhadap pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi tersebut terjadi karena El Nino menyebabkan penurunan debit air yang menjadi sumber utama PLTA.
Bahlil mengatakan penurunan debit air membuat produksi listrik dari PLTA di sejumlah wilayah tidak dapat berjalan maksimal. Kondisi tersebut juga terlihat dari sejumlah sungai yang mengalami pendangkalan akibat berkurangnya debit air.
"Memang kita tahu bahwa El Nino ini kan banyak yang membuat debit air kita itu berkurang," kata Menteri ESDM, di ICE BSD Tangerang, dikutip Kamis (24/9/2026)
Menurut Bahlil, kondisi tersebut terjadi di sejumlah wilayah yang mengandalkan PLTA sebagai sumber pembangkit listrik. Berkurangnya debit air membuat kemampuan pembangkit menghasilkan listrik ikut menurun.
"Bahkan sebagian sungai-sungai yang tadinya bisa dilalui pakai kapal, kayak di Papua, di Papua Selatan untuk menuju Asmat itu agak mengalami kedangkalan daripada sungai. Dan debit air berkurang, sungai berkurang, pasti menghasilkan listrik yang tidak maksimal," ujarnya.
Bahlil mengatakan pemerintah bersama PT PLN (Persero) terus melakukan penyesuaian untuk menghadapi kondisi tersebut. Menurut dia, dampak terhadap sistem kelistrikan di sejumlah wilayah mulai dapat diatasi secara bertahap.
"Dan perlahan-lahan sudah mulai bisa diatasi. Ini memang kondisi yang kita semua harus mampu menyesuaikan," kata tokoh yang juga Ketua Umum Partai Golkar ini.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo sebelumnya menjelaskan penurunan kapasitas PLTA akibat El Nino terjadi cukup signifikan di sejumlah daerah. Di Sulawesi Selatan, misalnya, kapasitas PLTA berkurang sekitar 650 megawatt.
PLN kemudian menyiapkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang dilengkapi Battery Energy Storage System (BESS) sebagai langkah menghadapi penurunan produksi PLTA saat musim kering. Strategi tersebut digunakan sebagai penyangga pasokan listrik ketika pembangkit berbasis air mengalami penurunan kapasitas.
Darmawan mengatakan PLN juga menghadapi tantangan serupa di sejumlah wilayah lain dan melakukan penanganan secara bertahap. Perusahaan juga melakukan perbaikan tata kelola sistem kelistrikan untuk menjaga keandalan pasokan di daerah terdampak.