BCA Digital: QRIS penopang utama volume transaksi digital hingga 2026
Dengan kontribusi terbesar berasal dari transaksi QRIS yang menyumbang 36 persen dari total volume transaksi.
Jakarta (ANTARA) - PT Bank Digital BCA (BCA Digital) mencatat Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) masih menjadi penopang utama dari total volume transaksi digital di luar transfer perusahaan dalam tiga tahun terakhir.
Head of Corporate Planning BCA Digital Yoga T Halim dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu, mengatakan total volume transaksi digital di luar transfer BCA Digital dalam tiga tahun terakhir per Agustus 2026 adalah senilai Rp13,13 triliun, atau melonjak 186 persen.
“Dengan kontribusi terbesar berasal dari transaksi QRIS yang menyumbang 36 persen dari total volume transaksi,” kata Yoga.
Lebih lanjut, ia mengatakan pertumbuhan frekuensi transaksi harian per 31 Agustus 2026 pun mencatatkan lonjakan signifikan.
Frekuensi transaksi harian QRIS melesat 124 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), didukung oleh penambahan beragam jenis atau variasi QRIS, seperti QRIS CPM, QRIS Tun-Tas, dan QRIS Tap.
“Penggunaan QRIS meningkatnya 100 persen. QRIS ini juga merupakan fitur awal dan utama yang dikembangkan di dalam blu by BCA Digital. Seperti yang kita ketahui angkanya cukup menggembirakan, (naik lebih dari) 100 persen dari tahun ke tahun,” ujar Yoga.
Selain QRIS, fitur keuangan digital lainnya yang menjadi unggulan dari performa BCA Digital per akhir Agustus 2026 adalah dompet digital (e-wallet). Penggunaan layanan ini tumbuh 71 persen secara tahunan, diperkuat penambahan integrasi mitra e-wallet dan direct connect dalam ekosistem blu by BCA Digital.
Lebih lanjut, ada fitur bluPayment yang juga tumbuh 56 persen secara tahunan melalui penambahan lebih dari 100 mitra; serta performa fitur Bayar/Beli (Biller) yang menunjukkan kenaikan 44 persen yoy seiring bertambahnya tiga kategori biller baru dengan lebih dari 300 biller tambahan.
Adapun sepanjang semester I tahun 2026, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat tumbuh 20 persen secara tahunan, didukung oleh peningkatan Net Open Customer (NOC) sebesar 25 persen yoy.
“Pertumbuhan ini digerakkan oleh porsi demografi anak muda yang sangat dominan, di mana 56 persen nasabah blu merupakan Gen Z dan 35 persen merupakan Milenial (total 91 persen digital natives),” kata Yoga.
“Laju akuisisi nasabah baru pun dipimpin oleh Gen Z dengan pertumbuhan 30 persen secara tahunan, disusul milenial sebesar 20 persen yoy,” ujarnya menambahkan.
Di sisi lain, Direktur Bisnis BCA Digital Aditya Wahyu Windarwo mengatakan bahwa lima tahun pertama perjalanan blu by BCA Digital adalah fase membangun fondasi, kepercayaan publik, serta skala bisnis yang teruji.
“Memasuki fase ekspansi ke depan, fokus kami adalah deepening ecosystem, di mana kami memastikan blu tidak sekadar menjadi aplikasi perbankan digital pilihan, melainkan bagian tak terpisahkan dari gaya hidup finansial harian masyarakat Indonesia secara berkelanjutan,” kata Aditya.
Baca juga: Wisata dan QRIS, jalan baru ekonomi perbatasan Temajuk
Baca juga: BI menjajaki potensi pengguna QRIS di Arab Saudi hingga Australia
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.