Bencana Super El Nino 2026 Akan Terus Menguat Hingga 2027
Jakarta -
Fenomena El Nino 2026 terus menunjukkan tanda-tanda penguatan dan diperkirakan menjadi salah satu yang terkuat dalam beberapa dekade terakhir. Sejumlah lembaga cuaca, termasuk National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat, memperkirakan El Nino akan terus menguat hingga akhir 2026 dan bertahan sampai awal 2027.
Dikutip dari Surfer, Senin (27/7/2026) NOAA menyatakan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur kini berada di atas normal, disertai perubahan pola sirkulasi atmosfer yang menjadi ciri khas El Nino.
"Suhu permukaan laut di wilayah ekuator Samudra Pasifik bagian tengah dan timur berada di atas rata-rata. Anomali sirkulasi atmosfer di wilayah ekuator Pasifik juga konsisten dengan kondisi El Nino," tulis NOAA.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lembaga tersebut memperkirakan peluang El Nino bertahan hingga awal musim semi 2027 mencapai 97%. Salah satu dampak awal yang mulai terlihat adalah meningkatnya aktivitas badai tropis di Samudra Pasifik.
Badai Tropis Elida menjadi badai pertama yang terbentuk di bawah kondisi El Nino pada pertengahan Juli. Beberapa hari kemudian, Badai Fausto berkembang menjadi badai yang lebih kuat dan menghasilkan gelombang laut panjang menuju Hawaii serta pesisir Meksiko.
Laporan Surfer menyebutkan, El Nino mengurangi wind shear atau perbedaan kecepatan angin di atmosfer bagian timur Pasifik. Kondisi tersebut membuat badai tropis lebih mudah terbentuk dan berkembang menjadi lebih kuat.
Sejumlah analisis terbaru bahkan memperkirakan El Nino kali ini berpotensi memecahkan rekor. Analisis ilmuwan iklim Zeke Hausfather menunjukkan suhu di kawasan NiƱo 3.4 berpotensi meningkat hingga 3,6 derajat Celsius di atas kondisi normal. Jika terwujud, angkanya akan melampaui rekor El Nino 2015-2016 dan menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah pencatatan modern.
NOAA juga menyebut terdapat peluang sekitar 81% bahwa El Nino berkembang menjadi kategori sangat kuat pada periode Oktober hingga Desember 2026. Meski identik dengan cuaca ekstrem, dampak El Nino berbeda-beda di setiap wilayah.
Di Amerika Serikat bagian selatan, fenomena ini umumnya meningkatkan peluang musim dingin yang lebih basah. Sebaliknya, sejumlah wilayah lain dapat mengalami kekeringan berkepanjangan, gelombang panas, atau peningkatan risiko kebakaran hutan.
Di kawasan Pasifik Timur, El Nino juga memengaruhi kondisi laut dan aktivitas perikanan karena suhu laut yang lebih hangat mengurangi pasokan nutrisi dari dasar laut. Meski demikian, para ilmuwan mengingatkan bahwa masih ada ketidakpastian mengenai seberapa kuat El Nino akan berkembang.
Intensitas akhirnya bergantung pada interaksi antara lautan dan atmosfer dalam beberapa bulan ke depan. Namun, tren saat ini menunjukkan fenomena tersebut terus menguat dan berpotensi membawa dampak cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia.
(rns/fay)
TAGSLIHAT LAINNYA