BI catat inflasi tahunan Kepri menurun dalam kisaran sasaran nasional
BI catat inflasi tahunan Kepri menurun dalam kisaran sasaran nasional
Sabtu, 3 Oktober 2026 17:24 WIB
Kepala Perwakilan BI Kepri Rony Widijarto. ANTARA/HO-BI Kepri
Batam (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) mencatat inflasi tahunan Kepulauan Riau (Kepri) pada September 2026 sebesar 3,49 persen (year on year/yoy), menurun dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 3,87 persen (yoy), dan kini berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional 2,5±1 persen.
Kepala Perwakilan BI Kepri Rony Widijarto mengatakan, meski tekanan harga masih terjadi pada sejumlah komoditas, sinergi pengendalian inflasi bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus diperkuat untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan.
"Sinergi dan kolaborasi TPID baik di level provinsi maupun kabupaten/kota tetap terjaga di tengah berlanjutnya momentum pertumbuhan ekonomi Kepri," kata Rony dalam keterangan resmi yang diterima di Batam, Sabtu.
Pihaknya secara konsisten bersinergi dengan TPID se-Kepri melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) dalam menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional.
Secara tahunan, inflasi Kepri yakni 3,49 persen didorong kenaikan harga emas perhiasan dengan andil 0,44 persen, angkutan udara 0,30 persen, bensin 0,27 persen, nasi dengan lauk 0,26 persen, serta beras 0,18 persen.
Sementara secara bulanan, Kepri mengalami inflasi 0,27 persen (month to month/mtm) pada September, berbalik dari deflasi 0,17 persen pada Agustus.
Kenaikan tersebut dipengaruhi harga cabai merah, kangkung, dan cabai rawit akibat keterbatasan panen di daerah sentra produksi Sumatera bagian Utara dan Jawa.
Harga daging ayam ras juga meningkat seiring permintaan yang naik dan pasokan yang terbatas.
Untuk menahan tekanan tersebut, BI bersama TPID Kepri menjalankan sejumlah langkah stabilisasi harga. Pada September, upaya yang dilakukan antara lain High Level Meeting TPID se-Provinsi Kepri dan Rapat Koordinasi TPID Kota Batam, penyaluran Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) secara rutin di berbagai kabupaten/kota, serta penyaluran sarana dan prasarana ketahanan pangan kepada kelompok tani unggulan di Kepri.
Memasuki Oktober, Rony mengatakan terdapat sejumlah risiko yang tetap perlu diwaspadai, seperti volatilitas harga emas dunia, tekanan inflasi dari komoditas impor, serta potensi kenaikan harga cabai merah dan cabai rawit.
"Ke depan, Bank Indonesia bersama TPID akan terus memperkuat sinergi untuk stabilitas inflasi di Kepri," ujarnya.
Upaya tersebut akan dilanjutkan melalui peningkatan produksi pangan, pelaksanaan pasar murah, penguatan kerja sama antardaerah (KAD), serta koordinasi pengendalian inflasi di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.
"Penguatan produksi pangan, pelaksanaan pasar murah, penguatan KAD serta penguatan koordinasi pengendalian inflasi diharapkan dapat menjaga inflasi Kepri pada akhir tahun 2026 tetap terkendali dalam rentang sasaran 2,5±1 persen," kata Rony.
Baca juga: Kapolri Suyudi rotasi 19 kapolda termasuk kepri
Pewarta : Amandine Nadja
Editor:
Nadilla
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.