kingsheadwye.com

BI: Transaksi QRIS Tumbuh 82 Persen, Uang Tunai Tetap Jadi Andalan

Pada saat yang sama, uang kartal yang diedarkan (UYD) juga mengalami pertumbuhan. Jumlah uang tunai yang beredar di masyarakat mencapai Rp1.314 triliun, meningkat 15,10% yoy.

Baca Juga: Soal Fit and Propert Test Gubernur Bank Indonesia, Misbakhun: Minggu Depan Akan Kita Laksanakan

Pjs Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan perubahan sistem pembayaran tidak serta-merta membuat uang tunai ditinggalkan. Pembayaran digital tumbuh cepat, sementara kebutuhan terhadap uang kartal tetap meningkat.

“Transaksi ekonomi dan keuangan digital pada Juli 2026 tetap tumbuh didukung oleh sistem pembayaran yang aman, lancar dan andal serta infrastruktur yang stabil dan struktur industri yang sehat,” kata Destry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI secara daring di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Pertumbuhan transaksi digital salah satunya ditopang oleh penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS.

BI mencatat transaksi QRIS pada Juli 2026 tumbuh 82,42% yoy. Pertumbuhan tersebut didukung oleh peningkatan jumlah pengguna dan merchant yang menggunakan QRIS sebagai sarana pembayaran.

Pertumbuhan QRIS tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan transaksi digital secara keseluruhan yang mencapai 28,69% yoy.

Hal ini memperlihatkan QRIS menjadi salah satu kanal pembayaran yang mengalami ekspansi cepat dalam ekosistem pembayaran digital Indonesia.

Selain QRIS, transaksi melalui internet dan aplikasi mobile juga masih mencatat pertumbuhan. Transaksi melalui internet tumbuh 9,39% yoy, sedangkan transaksi melalui aplikasi mobile meningkat 24,25% yoy.

Dengan demikian, pertumbuhan pembayaran digital tidak hanya berasal dari satu kanal. Masyarakat menggunakan sejumlah infrastruktur pembayaran digital, mulai dari transaksi berbasis aplikasi hingga pembayaran menggunakan QRIS.

Pertumbuhan pembayaran digital juga terlihat pada transaksi ritel melalui BI-Fast.

Baca Juga: Riset DBS Ungkap Wajah Baru Bank Indonesia dan Prediksi Masa Depan Rupiah, Ini yang Perlu Kamu Ketahui

BI mencatat volume transaksi melalui BI-Fast mencapai 546 juta transaksi pada Juli 2026, tumbuh 31,62% yoy. Dari sisi nilai, transaksi tersebut mencapai Rp1.355 triliun.

BI-Fast merupakan infrastruktur pembayaran ritel yang memungkinkan transfer dana secara real time dan tersedia sepanjang waktu.

Pertumbuhan volume dan nilai transaksi menunjukkan penggunaan infrastruktur pembayaran ritel semakin luas.

Sementara itu, transaksi bernilai besar melalui sistem BI-RTGS juga mengalami pertumbuhan, meski dengan laju yang lebih rendah dibandingkan transaksi ritel.

Volume transaksi BI-RTGS tercatat sebanyak 0,99 juta transaksi, tumbuh 3,12% yoy. Adapun nominal transaksinya tumbuh 1,54% yoy menjadi Rp20.097 triliun.

Perbedaan pertumbuhan tersebut memperlihatkan karakter masing-masing sistem pembayaran. Transaksi ritel seperti BI-Fast berkembang lebih cepat dari sisi volume, sementara BI-RTGS tetap berperan dalam transaksi bernilai besar.

Di tengah ekspansi pembayaran digital, BI juga mencatat peningkatan jumlah uang tunai yang beredar.

Uang kartal yang diedarkan mencapai Rp1.314 triliun pada Juli 2026, tumbuh 15,10% yoy.

Angka tersebut menunjukkan bahwa peningkatan penggunaan pembayaran digital belum menghilangkan kebutuhan masyarakat terhadap uang fisik.

BI menyatakan tetap menjaga ketersediaan uang rupiah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia.

“Selain itu, Bank Indonesia juga terus menjaga ketersediaan uang rupiah dalam jumlah yang cukup dengan kualitas yang layak edar di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), termasuk daerah Terdepan, Terluar dan Terpencil (3T),” ujar Destry.

Ketersediaan uang tunai tersebut menjadi bagian dari sistem pembayaran yang tetap harus dijaga meskipun transaksi digital berkembang pesat.

Data Juli 2026 memperlihatkan bahwa perkembangan sistem pembayaran Indonesia tidak bergerak hanya ke satu arah.

Di satu sisi, volume transaksi digital telah mencapai miliaran transaksi dan tumbuh 28,69% yoy. QRIS bahkan mencatat pertumbuhan lebih dari 80%, sementara transaksi BI-Fast meningkat 31,62%.

Di sisi lain, uang kartal yang diedarkan tetap meningkat 15,10% menjadi Rp1.314 triliun.

Artinya, digitalisasi pembayaran belum sepenuhnya menggantikan transaksi tunai. Masyarakat masih menggunakan uang fisik bersamaan dengan berbagai kanal pembayaran digital.

Bagi BI, perkembangan tersebut membuat pengelolaan sistem pembayaran harus berjalan pada dua sisi sekaligus. Infrastruktur digital perlu dipastikan aman, lancar dan andal, sementara ketersediaan uang rupiah fisik juga harus tetap dijaga.

“Transaksi ekonomi dan keuangan digital pada Juli 2026 tetap tumbuh didukung oleh sistem pembayaran yang aman, lancar dan andal serta infrastruktur yang stabil dan struktur industri yang sehat,” kata Destry.

Perkembangan tersebut juga memperlihatkan semakin beragamnya pilihan pembayaran masyarakat. Transfer melalui BI-Fast, pembayaran menggunakan QRIS, transaksi melalui aplikasi mobile dan internet, hingga penggunaan uang tunai tetap menjadi bagian dari aktivitas ekonomi.

Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi digital pada Juli 2026 tidak hanya tercermin dari semakin banyaknya transaksi tanpa uang fisik. Pada saat yang sama, kebutuhan terhadap uang rupiah dalam bentuk tunai masih menunjukkan pertumbuhan.