kingsheadwye.com

BMHS Perluas Peran Rumah Sakit, Bangun Ekosistem Kesehatan Ibu dan Anak lewat Bunda Parenting Convention 2026

Salah satu wujudnya terlihat melalui penyelenggaraan Bunda Parenting Convention 2026 oleh RSIA Bunda Jakarta dalam rangka memperingati Hari Anak Internasional dan Pekan Menyusui Sedunia. Mengusung tema From The First Heartbeat to a Bright Future, Every Step Matters, kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang edukasi bagi keluarga untuk memahami perjalanan tumbuh kembang anak sejak awal kehidupan.

Mengapa BMHS Memperkuat Ekosistem Kesehatan Ibu dan Anak?

Pendekatan BMHS berangkat dari pemahaman bahwa kesehatan ibu dan anak tidak berhenti di ruang konsultasi atau ketika seorang pasien selesai menerima tindakan medis.

Dalam kehidupan sehari-hari, keputusan yang memengaruhi kesehatan anak justru lebih banyak dilakukan keluarga. Orang tua menentukan pola pemberian makan, memberikan stimulasi, mengamati perkembangan anak, mendampingi proses menyusui, hingga memutuskan kapan perlu mencari bantuan tenaga kesehatan.

Karena itu, pengetahuan keluarga menjadi bagian penting dari rantai pelayanan kesehatan.

Presiden Komisaris PT Bundamedik Tbk (BMHS), Dr. dr. Ivan Rizal Sini, mengatakan BMHS telah memperkuat ekosistem keluarga selama lebih dari lima dekade melalui integrasi layanan klinis, edukasi, dan pendampingan.

“Selama lebih dari lima dekade, BMHS terus memperkuat ekosistem keluarga agar mampu mendampingi tumbuh kembang anak sejak awal kehidupan hingga tumbuh optimal. Komitmen ini kami wujudkan dengan mengintegrasikan layanan klinis, edukasi, dan pendampingan keluarga, sekaligus aktif membuka ruang kolaborasi bagi berbagai pemangku kepentingan dalam ekosistem pengasuhan. Melalui pendekatan ini, kami ingin memastikan keluarga Indonesia memperoleh dukungan yang relevan dan berkelanjutan dalam menghadapi berbagai tantangan pengasuhan di era modern," ujar Ivan melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, dikutip Minggu, 9 Agustus 2026.

Pernyataan tersebut menunjukkan perubahan cara melihat layanan kesehatan ibu dan anak. Rumah sakit tidak hanya ditempatkan sebagai fasilitas yang didatangi ketika terjadi masalah kesehatan, tetapi juga sebagai bagian dari sumber pengetahuan dan pendampingan bagi keluarga.

Di sinilah konsep ekosistem menjadi penting. Layanan klinis tetap menjadi fondasi, tetapi dampaknya dapat diperkuat ketika keluarga memahami apa yang harus dilakukan sebelum, selama, dan setelah memperoleh layanan kesehatan.

Dari layanan medis menuju pendampingan keluarga

Pendekatan tersebut juga menjawab persoalan yang semakin relevan bagi orang tua modern. Akses terhadap informasi kesehatan kini jauh lebih mudah, tetapi kemudahan tersebut tidak otomatis membuat keluarga memperoleh informasi yang benar.

Orang tua dapat menemukan berbagai panduan tentang menyusui, makanan pendamping ASI, tumbuh kembang, hingga perawatan bayi hanya melalui mesin pencari dan media sosial. Masalahnya, informasi yang banyak tidak selalu berarti informasi tersebut sesuai dengan kondisi setiap anak.

Dalam konteks ini, edukasi yang diberikan oleh tenaga kesehatan memiliki fungsi berbeda. Informasi tidak sekadar disampaikan, tetapi dapat ditempatkan dalam konteks kondisi ibu dan anak serta dikaitkan dengan kebutuhan keluarga.

Dokter Spesialis Anak RSIA Bunda Jakarta, dr. I Gusti Ayu Nyoman Partiwi, Sp.A., MARS atau dr. Tiwi, menilai tantangan tumbuh kembang anak saat ini juga berkaitan dengan kesiapan keluarga dan komunitas.

“Tantangan tumbuh kembang anak di era modern tidak lagi hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga kesiapan keluarga serta komunitas dalam mendapatkan dukungan dan edukasi yang tepat bagi tumbuh kembang anak.”

Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kesehatan anak tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada satu pihak. Dokter memiliki peran dalam memberikan layanan dan pengetahuan medis, sementara keluarga menjadi pihak yang menjalankan berbagai keputusan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana BMHS Mengintegrasikan Layanan Klinis dan Edukasi Keluarga?

Komitmen BMHS terhadap ekosistem kesehatan keluarga juga tercermin dari pengembangan berbagai Center of Excellence. Layanan yang diperkuat mencakup kesehatan wanita dan anak, robotic surgery, uro-nefrologi, ortopedi, digestif, hingga kardiovaskular.

Untuk konteks kesehatan ibu dan anak, RSIA Bunda Jakarta menjadi salah satu bagian dari jaringan RS Bunda Group yang menerapkan pendekatan Family Integrated Care (FICare) di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU).

Pendekatan ini menarik karena menempatkan orang tua bukan sekadar sebagai pengunjung bayi yang sedang dirawat, melainkan sebagai bagian dari tim perawatan.

Konsep tersebut memiliki implikasi praktis. Ketika bayi membutuhkan perawatan intensif, terutama bayi yang lahir prematur, orang tua tetap perlu memahami kondisi dan kebutuhan anak. Pengetahuan tersebut nantinya menjadi penting ketika bayi meninggalkan rumah sakit dan kembali menjalani kehidupan bersama keluarga.

Pendekatan FICare kemudian dipadukan dengan Kangaroo Mother Care (KMC) serta edukasi antenatal dan pascapersalinan. Dengan demikian, pendampingan tidak hanya dimulai ketika masalah muncul, tetapi dapat berlangsung sejak masa kehamilan hingga setelah kelahiran.

Bagi keluarga, pola seperti ini mengubah posisi edukasi. Edukasi bukan lagi pelengkap setelah pelayanan medis selesai, melainkan bagian dari proses menyiapkan keluarga menghadapi tahapan berikutnya.

Mengapa keterlibatan keluarga penting dalam perawatan bayi prematur?

Kebutuhan tersebut menjadi semakin penting pada bayi prematur. Perjalanan keluarga tidak otomatis selesai ketika bayi diperbolehkan meninggalkan rumah sakit.

Dokter Anak Konsultan Neonatologi RSIA Bunda Jakarta, Dr. dr. R. Adhi Teguh Perma Iskandar, Sp.A., Subsp.Neo., menekankan pentingnya keterlibatan seluruh anggota keluarga dalam tahap tersebut.

“Perawatan bayi prematur tidak berhenti saat bayi diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Keterlibatan aktif seluruh anggota keluarga menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan, perkembangan, serta kesiapan bayi menghadapi berbagai tantangan di awal kehidupannya.”

Pernyataan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa edukasi keluarga memiliki posisi penting dalam ekosistem kesehatan ibu dan anak. Bayi yang sebelumnya mendapatkan pengawasan tenaga medis pada akhirnya akan kembali berada di lingkungan rumah.

Artinya, keluarga membutuhkan kesiapan untuk meneruskan perawatan dan mengamati perkembangan bayi dalam situasi sehari-hari. Pengetahuan yang diberikan sebelum kepulangan dapat membantu orang tua menjadi lebih siap menghadapi fase tersebut.

Dalam konteks inilah pendekatan BMHS memiliki dimensi yang lebih luas daripada penyelenggaraan kegiatan parenting. Ada upaya menghubungkan layanan klinis dengan kemampuan keluarga untuk melanjutkan perawatan di rumah.

Bunda Parenting Convention 2026 Jadi Ruang Edukasi Keluarga

Pendekatan tersebut kemudian diterjemahkan melalui Bunda Parenting Convention 2026. Alih-alih hanya menghadirkan seminar umum, rangkaian kegiatan dirancang melalui berbagai workshop interaktif yang membahas persoalan yang sering dihadapi keluarga.

Materinya mencakup perjalanan pengasuhan sejak masa kehamilan hingga anak memasuki usia sekolah, antara lain:

  • persiapan kehamilan melalui hypnobirthing;

  • perawatan bayi baru lahir;

  • pemahaman tumbuh kembang anak;

  • deteksi dini gangguan tumbuh kembang;

  • masalah makan pada bayi dan anak usia dini;

  • pencegahan obesitas pada anak;

  • keterlibatan tenaga pendidik dalam mendukung kesehatan anak;

  • serta dukungan ayah terhadap keberhasilan menyusui.

Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa ekosistem kesehatan anak yang dibangun BMHS tidak berhenti pada hubungan antara dokter dan pasien. Orang tua, ayah, sekolah, tenaga pendidik, dan komunitas juga ditempatkan sebagai bagian dari lingkungan yang memengaruhi tumbuh kembang anak.

Pada titik ini, Bunda Parenting Convention 2026 dapat dilihat bukan sekadar sebagai agenda edukasi, melainkan sebagai salah satu cara BMHS mempertemukan layanan kesehatan dengan kebutuhan praktis keluarga.

Baca Juga: Prospek Kerja untuk Jurusan Kedokteran: Bukan Cuma di Rumah Sakit

Baca Juga: Puan: Persoalan Kita Bukan Cuma Nakes yang Tak Punya Empati, Tapi Juga Sistem dan Pelayanan Kesehatan

Mengapa Peran Ayah Juga Penting dalam Ekosistem Menyusui?

Pembahasan mengenai kesehatan ibu dan anak sering kali menempatkan ibu sebagai pusat perhatian. Padahal, keberhasilan menyusui juga dipengaruhi oleh lingkungan terdekat ibu, termasuk pasangan.

Perspektif tersebut diangkat BMHS melalui sesi talkshow bertema Ayah ASI dalam Bunda Parenting Convention 2026. Sesi ini mempertemukan para ayah untuk berbagi pengalaman mengenai dukungan yang dapat diberikan kepada ibu selama masa menyusui.

Poin tersebut penting karena proses menyusui tidak hanya berlangsung ketika ibu memberikan ASI kepada bayi. Di luar momen tersebut, terdapat banyak kebutuhan lain yang perlu ditangani agar ibu dapat menjalankan proses menyusui dengan lebih nyaman.

Dukungan pasangan dapat berkaitan dengan pembagian peran di rumah, dukungan emosional, hingga membantu memastikan kebutuhan ibu dan bayi terpenuhi.

Dalam narasi BMHS, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan yang kemudian dilanjutkan hingga usia dua tahun ditempatkan sebagai tanggung jawab bersama. Dengan demikian, ayah tidak diposisikan hanya sebagai pihak yang “membantu” ibu, melainkan bagian dari ekosistem yang mendukung keberhasilan menyusui.

Perspektif tersebut sejalan dengan pandangan Komisaris Independen BMHS, Retno Marsudi, mengenai pentingnya kerja sama dalam keluarga.

“Sebagai seorang ibu, saya percaya bahwa ibu adalah arsitek kehidupan. Nilai dan prinsip tidak pertama kali disemai di institusi pendidikan, tetapi dari rumah sejak dini, dan ibu adalah penyemai pertama.”

Retno juga menekankan bahwa perempuan dapat menjalankan peran profesional sekaligus membangun keluarga ketika mendapatkan dukungan dari lingkungan.

“Menjalankan peran sebagai perempuan yang bekerja sekaligus membangun keluarga memang penuh tantangan, tetapi sesuatu yang sangat mungkin dan dapat dilakukan. Dengan teamwork sebagai kunci dalam keluarga serta lingkungan yang mendukung, ibu dapat menjalankan kedua perannya secara optimal.”

Pernyataan tersebut memperluas pembahasan kesehatan ibu dan anak dari aspek klinis menuju aspek sosial. Kesehatan keluarga tidak hanya membutuhkan pengetahuan medis, tetapi juga pembagian peran dan lingkungan yang memungkinkan orang tua menerapkan pengetahuan tersebut.

Cegah Obesitas Anak, Mengapa Sekolah Perlu Dilibatkan?

Salah satu hal menarik dalam Bunda Parenting Convention 2026 adalah perhatian terhadap pencegahan obesitas anak. Isu ini tidak hanya dibahas dari sudut pandang keluarga, tetapi juga melibatkan tenaga pendidik dari jenjang TK dan SD.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa lingkungan tempat anak menghabiskan waktunya ikut memengaruhi kebiasaan sehari-hari. Sekolah bukan sekadar tempat anak memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga salah satu ruang tempat kebiasaan mengenai aktivitas fisik dan pola hidup terbentuk.

Karena itu, upaya mencegah obesitas tidak cukup hanya dengan memberikan nasihat kepada orang tua. Anak juga membutuhkan lingkungan yang mendukung kebiasaan sehat.

Dalam konteks ini, kolaborasi antara tenaga kesehatan dan dunia pendidikan menjadi relevan. Tenaga medis memiliki pengetahuan mengenai risiko kesehatan, sementara guru berinteraksi dengan anak dalam lingkungan pendidikan.

Bagi BMHS, pelibatan tenaga pendidik juga memperluas makna ekosistem kesehatan. Institusi kesehatan tidak berdiri sendiri, melainkan dapat bekerja bersama pihak lain yang memiliki pengaruh terhadap kehidupan anak.

Pendekatan ini juga memperlihatkan perbedaan antara pengobatan dan pencegahan. Ketika persoalan kesehatan sudah muncul, layanan klinis diperlukan. Namun, jika faktor risikonya dapat dikenali dan dicegah lebih awal, intervensi dapat dilakukan sebelum masalah berkembang lebih jauh.

Dengan kata lain, edukasi menjadi salah satu jembatan antara layanan kesehatan dan upaya pencegahan.

Dari Kehamilan hingga Usia Sekolah, Mengapa Pendampingan Harus Berkesinambungan?

Materi yang dihadirkan dalam Bunda Parenting Convention 2026 memperlihatkan satu pola yang cukup jelas: kebutuhan keluarga berubah mengikuti usia anak.

Pada masa kehamilan, perhatian keluarga dapat berfokus pada persiapan persalinan dan kesiapan menjadi orang tua. Setelah bayi lahir, kebutuhan bergeser ke perawatan bayi baru lahir dan menyusui.

Ketika anak bertumbuh, persoalan yang muncul dapat berubah lagi. Orang tua mulai menghadapi pertanyaan mengenai tumbuh kembang, pola makan, stimulasi, hingga pencegahan obesitas.

Karena itu, edukasi parenting tidak ideal jika hanya diberikan dalam satu titik kehidupan anak.

Pendekatan berkelanjutan memungkinkan keluarga memperoleh informasi yang relevan sesuai tahap yang sedang dihadapi. Dalam kerangka yang dibangun BMHS, hal tersebut berjalan beriringan dengan layanan klinis dan pendampingan.

Ada satu hal penting yang dapat ditarik dari pendekatan tersebut: kebutuhan kesehatan anak bersifat dinamis, sehingga dukungan kepada keluarga juga perlu mengikuti perjalanan tumbuh kembang anak.

Inilah alasan mengapa kegiatan edukasi yang membahas berbagai fase kehidupan anak memiliki nilai lebih dibandingkan edukasi yang hanya berfokus pada satu persoalan.

“It Takes a Village to Raise a Child” dan Ekosistem Pengasuhan

Pepatah Afrika, “It takes a village to raise a child,” menjadi salah satu gagasan yang relevan untuk memahami pendekatan BMHS.

Secara sederhana, pepatah tersebut menggambarkan bahwa membesarkan anak bukan hanya tanggung jawab orang tua. Anak tumbuh dalam lingkungan yang terdiri dari keluarga, tenaga kesehatan, sekolah, dan komunitas.

Dalam konteks kesehatan, gagasan tersebut menjadi semakin relevan karena keputusan yang memengaruhi anak tidak selalu terjadi di fasilitas kesehatan.

Dokter dapat memberikan rekomendasi, tetapi orang tua yang menerapkannya di rumah. Sekolah dapat mendukung aktivitas fisik, tetapi anak juga membutuhkan kebiasaan yang konsisten di lingkungan keluarga. Tenaga kesehatan dapat memberikan edukasi menyusui, tetapi ibu membutuhkan dukungan pasangan dan keluarga ketika menjalankannya.

Hubungan tersebut dapat digambarkan secara sederhana:

Tenaga kesehatan memberikan pengetahuan → keluarga menerapkan → sekolah dan komunitas mendukung → anak mendapatkan lingkungan yang lebih kondusif untuk tumbuh.

Di sinilah pendekatan ekosistem menjadi berbeda dari pendekatan yang hanya berpusat pada layanan medis.

Bagi BMHS, kolaborasi berbagai pihak menjadi bagian dari upaya memperkuat dukungan kepada keluarga. Bunda Parenting Convention 2026 menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan perspektif tersebut melalui kehadiran dokter, orang tua, ayah, serta tenaga pendidik.

Apa Arti Pendekatan Ekosistem BMHS bagi Keluarga Indonesia?

Bagi keluarga, pendekatan tersebut setidaknya memberikan satu pesan penting: orang tua tidak harus menghadapi seluruh persoalan pengasuhan seorang diri.

Tantangan tumbuh kembang anak dapat terasa rumit karena setiap tahap kehidupan menghadirkan kebutuhan yang berbeda. Keluarga dapat membutuhkan dokter ketika menghadapi persoalan medis, tenaga kesehatan ketika membutuhkan edukasi, pasangan ketika menghadapi tantangan menyusui, hingga sekolah ketika anak mulai memasuki lingkungan pendidikan.

Karena itu, ekosistem yang baik bukan berarti semua pihak mengambil alih peran orang tua. Justru sebaliknya, ekosistem membantu orang tua memiliki akses terhadap pengetahuan dan dukungan yang diperlukan untuk menjalankan perannya.

Perspektif ini juga membuat layanan kesehatan menjadi lebih preventif. Edukasi mengenai tumbuh kembang, masalah makan, menyusui, perawatan bayi prematur, dan obesitas dapat membantu keluarga mengenali persoalan lebih awal.

Namun, edukasi tetap tidak menggantikan konsultasi medis. Ketika anak menunjukkan kondisi yang membutuhkan penilaian profesional, keluarga tetap perlu mendapatkan pemeriksaan dan penanganan dari tenaga kesehatan.

BMHS dan Pergeseran Peran Rumah Sakit dalam Kesehatan Keluarga

Dari rangkaian program dan layanan yang dipaparkan, pendekatan BMHS menunjukkan bahwa rumah sakit dapat mengambil peran yang lebih luas dalam perjalanan kesehatan keluarga.

Layanan klinis tetap menjadi fondasi. Namun, fondasi tersebut diperkuat melalui edukasi dan keterlibatan keluarga.

Pendekatan ini juga menjelaskan mengapa BMHS tidak hanya menghadirkan layanan wanita dan anak, tetapi menghubungkannya dengan program edukasi dan pendampingan. FICare di NICU, KMC, edukasi antenatal dan pascapersalinan, hingga Bunda Parenting Convention berada dalam satu garis besar yang sama: membantu keluarga menghadapi berbagai tahapan kehidupan anak.

Bagi industri kesehatan, pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa hubungan antara penyedia layanan kesehatan dan keluarga tidak harus berakhir setelah konsultasi atau tindakan medis selesai.

Ada ruang untuk membangun hubungan yang lebih panjang melalui edukasi, pencegahan, dan pendampingan.

BMHS Perkuat Ekosistem Kesehatan, Bukan Sekadar Gelar Parenting Convention

Bunda Parenting Convention 2026 pada akhirnya dapat dilihat sebagai salah satu bagian dari strategi yang lebih besar.

Kegiatan tersebut memang menghadirkan berbagai workshop dan talkshow untuk orang tua. Namun, substansi yang dibawa lebih luas, mulai dari persiapan kehamilan, perawatan bayi baru lahir, tumbuh kembang, masalah makan, menyusui, bayi prematur, hingga pencegahan obesitas.

Benang merahnya adalah keterlibatan keluarga.

Hal tersebut sejalan dengan komitmen BMHS untuk mengintegrasikan layanan klinis, edukasi, dan pendampingan keluarga dalam ekosistem kesehatan ibu dan anak.

Seperti disampaikan Dr. Ivan Rizal Sini, BMHS ingin memastikan keluarga Indonesia memperoleh dukungan yang relevan dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan pengasuhan di era modern.

Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan ketika tantangan kesehatan anak berkembang bersama perubahan gaya hidup dan pola konsumsi informasi. Orang tua kini memiliki akses informasi yang lebih luas, tetapi pada saat yang sama membutuhkan kemampuan untuk memilah informasi dan memahami kapan sebuah persoalan membutuhkan bantuan tenaga profesional.

Dengan demikian, tantangan kesehatan ibu dan anak tidak cukup dijawab dengan menambah akses terhadap layanan medis. Keluarga juga perlu memiliki pengetahuan, dukungan, dan lingkungan yang membantu mereka menerapkan keputusan kesehatan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi BMHS, penguatan ekosistem tersebut menjadi bagian dari upaya mendampingi keluarga Indonesia sejak awal kehidupan anak. Mulai dari masa kehamilan, kelahiran, perawatan bayi, menyusui, tumbuh kembang, hingga anak memasuki lingkungan pendidikan, setiap tahap membutuhkan dukungan yang berbeda.

Pada akhirnya, gagasan From The First Heartbeat to a Bright Future, Every Step Matters bukan hanya berbicara mengenai satu kegiatan. Tema tersebut menggambarkan pentingnya melihat kesehatan anak sebagai perjalanan panjang yang membutuhkan perhatian sejak awal dan keterlibatan banyak pihak di sepanjang prosesnya.

Baca Juga: Industri Kesehatan Indonesia 2026: BMHS Siap Tumbuh Double Digit Lewat Layanan Medis Kompleks dan Fokus Kualitas

FAQ

Apa yang dilakukan BMHS untuk memperkuat kesehatan ibu dan anak?

BMHS memperkuat ekosistem kesehatan ibu dan anak melalui integrasi layanan klinis, edukasi, dan pendampingan keluarga. Pendekatan tersebut diwujudkan antara lain melalui layanan wanita dan anak di RS Bunda Group, Family Integrated Care di NICU RSIA Bunda Jakarta, Kangaroo Mother Care, edukasi antenatal dan pascapersalinan, serta kegiatan edukasi seperti Bunda Parenting Convention 2026.

Apa itu Bunda Parenting Convention 2026?

Bunda Parenting Convention 2026 merupakan kegiatan edukasi keluarga yang diselenggarakan RSIA Bunda Jakarta sebagai bagian dari BMHS. Kegiatan ini mengangkat tema From The First Heartbeat to a Bright Future, Every Step Matters dan menghadirkan berbagai materi mengenai persiapan kehamilan, perawatan bayi baru lahir, tumbuh kembang, masalah makan, pencegahan obesitas, serta dukungan ayah dalam proses menyusui.

Apa yang dimaksud Family Integrated Care?

Family Integrated Care atau FICare merupakan pendekatan perawatan di NICU yang melibatkan orang tua sebagai bagian dari proses perawatan bayi. Di RSIA Bunda Jakarta, pendekatan ini diterapkan sebagai bagian dari layanan untuk bayi yang membutuhkan perawatan intensif dan dipadukan dengan Kangaroo Mother Care serta edukasi bagi keluarga.

Mengapa keluarga penting dalam perawatan bayi prematur?

Keluarga memiliki peran penting karena perawatan bayi prematur tidak berakhir ketika bayi diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Setelah berada di rumah, orang tua dan anggota keluarga perlu melanjutkan perhatian terhadap pertumbuhan, perkembangan, serta kebutuhan bayi. Karena itu, edukasi dan kesiapan keluarga menjadi bagian penting dari kesinambungan perawatan.

Mengapa ayah perlu terlibat dalam mendukung ASI?

Ayah dapat menjadi bagian penting dari lingkungan yang mendukung ibu selama menyusui. Dukungan tersebut membuat proses menyusui dipandang sebagai tanggung jawab bersama dalam keluarga, bukan hanya tugas ibu. Perspektif ini menjadi salah satu tema dalam sesi Ayah ASI yang dihadirkan pada Bunda Parenting Convention 2026.

Mengapa sekolah perlu dilibatkan dalam pencegahan obesitas anak?

Sekolah merupakan salah satu lingkungan tempat anak belajar dan menjalani aktivitas sehari-hari. Karena itu, pencegahan obesitas membutuhkan dukungan yang tidak hanya berasal dari keluarga, tetapi juga dari lingkungan pendidikan. Bunda Parenting Convention 2026 melibatkan tenaga pendidik TK dan SD untuk memperkuat pemahaman mengenai pentingnya lingkungan belajar yang mendukung aktivitas fisik anak.

Mengapa edukasi menjadi bagian penting dari layanan kesehatan ibu dan anak?

Edukasi membantu keluarga memahami berbagai kebutuhan kesehatan anak dalam kehidupan sehari-hari. Ketika edukasi diintegrasikan dengan layanan klinis, orang tua tidak hanya memperoleh penanganan ketika menghadapi masalah, tetapi juga mendapatkan pengetahuan untuk mendukung perawatan, mengenali persoalan lebih awal, dan mengambil keputusan yang lebih tepat bersama tenaga kesehatan.