kingsheadwye.com

BMKG Kotim prakirakan karhutla masih mengancam hingga pertengahan Oktober

BMKG Kotim prakirakan karhutla masih mengancam hingga pertengahan Oktober

Selasa, 15 September 2026 19:35 WIB

Image Print

Kepala BMKG Kotim Mulyono Leo Nardo. ANTARA/Devita Maulina

Sampit (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, memprakirakan musim kemarau masih berlangsung hingga akhir September 2026, sedangkan awal musim hujan baru akan terjadi pada dasarian II Oktober, sehingga ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih harus diwaspadai.

“Untuk kondisi cuaca kita, di September ini adalah puncak musim kemarau di wilayah Kotawaringin Timur. Prakiraan sampai akhir bulan ini kondisinya masih kering,” kata Kepala BMKG Kotim Mulyono Leo Nardo di Sampit, Selasa.

Mulyono menyebutkan, September ini merupakan puncak musim kemarau di wilayah Kotawaringin Timur sehingga kondisi cuaca diprakirakan masih kering hingga penghujung bulan.

Berdasarkan hasil pemantauan dan prakiraan BMKG, peralihan musim diperkirakan mulai terjadi pada awal Oktober. Namun, awal musim hujan tidak berlangsung bersamaan di seluruh wilayah Kotawaringin Timur karena bergerak dari kawasan utara menuju selatan.

Wilayah Kotim bagian utara diprakirakan mulai memasuki musim hujan pada dasarian II Oktober atau sekitar pertengahan bulan. Selanjutnya, wilayah bagian tengah menyusul pada dasarian III Oktober.

“Awal musim hujan di wilayah Kotawaringin Timur bagian utara itu ada di Oktober II. Kemudian bagian tengah Oktober III, sedangkan Sampit dan Baamang serta sekitarnya November I. Terakhir November III di daerah Teluk Sampit dan sekitarnya,” sebutnya.

Ia melanjutkan, wilayah yang berpotensi lebih dahulu memasuki musim hujan antara lain sebagian Telaga Antang, Antang Kalang, Tualan Hulu dan Bukit Santuai pada dasarian II Oktober.

Kemudian, dasarian III Oktober, musim hujan diprakirakan meluas ke sejumlah wilayah seperti Mentaya Hulu, Parenggean, sebagian Mentaya Hilir Utara, Kota Besi, Antang Kalang, Telawang, Cempaga Hulu, Tualan Hulu dan Bukit Santuai.

Baca juga: TNI dorong inovasi pengolahan organik untuk cegah karhutla Kotim

Sementara itu, kawasan Sampit, Baamang, Mentawa Baru Ketapang, Seranau, Mentaya Hilir Selatan, serta sejumlah wilayah lainnya diprakirakan baru memasuki awal musim hujan pada dasarian I November. Sedangkan, Teluk Sampit menjadi salah satu wilayah yang diprakirakan paling akhir, yakni dasarian III November.

Kondisi tersebut juga tercermin dari hasil analisis BMKG terhadap curah hujan Agustus 2026. Seluruh wilayah Kotawaringin Timur berada dalam kategori curah hujan rendah, yakni 0-20 milimeter, dengan sifat hujan berada pada kategori bawah normal.

“Pemantauan hari tanpa hujan hingga 10 September juga menunjukkan sebagian wilayah Kalimantan Tengah mengalami periode tanpa hujan sangat panjang hingga ekstrem. Kondisi tersebut memperkuat potensi lahan dan vegetasi menjadi semakin mudah terbakar,” jelasnya.

Menanggapi hujan gerimis yang sempat turun di sejumlah lokasi Kotim dalam beberapa hari terakhir, Mulyono menyebut kondisi itu belum dapat dikategorikan sebagai tanda dimulainya musim hujan.

Menurutnya, hujan tersebut terjadi secara terbatas dan salah satunya merupakan dampak dari kegiatan modifikasi cuaca yang dilaksanakan BMKG bersama BNPB dan instansi terkait lainnya.

Penyemaian dalam rangka modifikasi cuaca dilakukan di wilayah Katingan dan Seruyan. Dampaknya turut dirasakan sejumlah wilayah di Kotim sehingga terjadi hujan meski intensitasnya masih berupa gerimis dan berlangsung singkat.

“Dalam beberapa hari ini memang ada yang hujan rintik-rintik di beberapa wilayah, seperti Kecamatan Baamang, daerah Tidar dan bandara. Itu dari hasil modifikasi cuaca yang dilakukan BMKG dan stakeholder lainnya,” ujarnya.

Baca juga: Bea Cukai Sampit musnahkan BKC ilegal senilai Rp1,35 Miliar

Hujan dengan intensitas seperti itu, lanjut Mulyono, belum cukup untuk menurunkan ancaman kebakaran hutan dan lahan secara signifikan. Pasalnya, masih terdapat titik-titik yang belum mendapatkan pembasahan sehingga sumber asap tetap berpotensi muncul.

“Kalau dinilai dari cukup atau tidaknya hujan tersebut untuk membantu pemadaman kebakaran lahan, sepertinya tidak. Karena asap ini masih tetap keluar. Pembasahan secara sempurna baru bisa menghilangkan asap,” terangnya.

Ia menambahkan, hujan yang lebih efektif untuk menekan karhutla adalah hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat dan berlangsung dalam durasi tertentu pada wilayah yang cukup luas.

“Karakteristik hujan yang bisa menurunkan karhutla itu hujannya lebat dengan durasi singkat, mungkin satu sampai tiga jam, tetapi sangat lebat dan radiusnya lumayan luas,” imbuhnya.

BMKG mencatat kondisi kekeringan di Kotim saat ini masih menjadi perhatian karena indikator kemudahan terbakar menunjukkan potensi tinggi. Hal tersebut terlihat dari kondisi kelembaban bahan bakar permukaan hingga lapisan tanah yang masih kering.

Mulyono menegaskan ancaman karhutla di Kalimantan Tengah, termasuk Kotim, masih tinggi. Kondisi ini dipengaruhi oleh kemarau yang belum berakhir serta rendahnya curah hujan yang diprakirakan masih berlangsung pada September.

“Untuk kondisi sekarang ancaman karhutla di Kalteng masih tinggi. Potensinya sangat tinggi dan sangat besar terjadi kebakaran hutan. Untuk itu, kami imbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menghindari hal-hal yang dapat memicu kebakaran lahan,” demikian Mulyono.

Baca juga: Legislator Kotim dorong percepatan pelaksanaan program

Baca juga: DPRD Kotim minta pemulihan listrik dipercepat

Baca juga: Pemkab Kotim koordinasikan pencarian warga korban terbaliknya KM Virgo

Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.