BMKG terus lakukan survei pascagempa NTT demi kuatkan mitigasi risiko
Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) masih terus melakukan survei teknis di sejumlah wilayah terdampak gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk mendukung penanganan pascabencana dan penguatan mitigasi risiko.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, dikutip di Jakarta, Sabtu, mengatakan bahwa data lapangan yang akurat diperlukan untuk menentukan langkah pemulihan di wilayah terdampak gempa.
"Kami bergerak cepat berkoordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, BNPB, Kemendagri, serta unsur Forkopimda demi memastikan keselamatan warga dan menyajikan data faktual yang komprehensif," kata Faisal.
Diketahui, tim BMKG melakukan sejumlah survei, mulai dari makroseismik, mikroseismik, hingga survei tsunami untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai dampak gempa dan kondisi wilayah terdampak.
Baca juga: BMKG kerahkan tim survei dan uji makroseismik pascagempa M7,7 di NTT
Survei makroseismik dilakukan untuk memverifikasi, mengidentifikasi, dan mendokumentasikan tingkat guncangan serta dampak kerusakan bangunan. Lalu, survei mikroseismik dilakukan untuk mengukur karakteristik tanah, termasuk menggunakan metode mikrotremor dan Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW). Dengan demikian, dapat diperoleh informasi mengenai kondisi tanah dan struktur bawah permukaan yang dapat memengaruhi respons wilayah terhadap guncangan gempa.
Adapun survei tsunami dilakukan untuk memperoleh informasi lapangan mengenai kondisi pesisir serta memverifikasi dampak perubahan muka air laut setelah gempa bumi.
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensi, dan Tanda Waktu BMKG Teguh Rahayu mengatakan survei lapangan dilakukan di sejumlah wilayah terdampak, antara lain Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, dan Nagekeo, serta wilayah lain di sekitar Flores.
Baca juga: BMKG catat 2.768 gempa susulan M7,7 terjadi di Flores
Berdasarkan pemetaan sementara, ditemukan kerusakan pada sejumlah rumah masyarakat, fasilitas publik, dan bangunan lainnya. Namun, Teguh menegaskan temuan tersebut masih merupakan hasil observasi sementara sehingga tim BMKG masih melakukan verifikasi dan pengumpulan data untuk memperoleh gambaran mengenai distribusi tingkat guncangan, karakteristik kondisi tanah, serta pola kerusakan.
"Instansi atau tenaga teknis yang memiliki kewenangan di bidang struktur bangunan tetap harus memeriksa keamanan struktur bangunan secara lebih detail," kata dia.
Berikutnya, Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama mengatakan selain survei teknis, pihaknya juga terus mengoordinasikan dan menyosialisasikan informasi kepada pemerintah daerah serta masyarakat.
Hingga saat ini, diketahui tim survei masih melakukan pengukuran di sejumlah lokasi. Seluruh hasil survei selanjutnya akan dianalisis secara komprehensif dan disusun menjadi kajian teknis pascagempa bumi. Kajian tersebut diharapkan dapat mendukung pemerintah dan pemangku kepentingan dalam penanganan pascabencana, perencanaan rehabilitasi dan rekonstruksi, serta penguatan mitigasi dan pengurangan risiko gempa bumi di NTT.
Baca juga: Pemerintah pastikan kawal pemulihan warga terdampak gempa di NTT
Baca juga: BMKG: Gempa susulan NTT masih akan berlangsung hingga 30 hari ke depan
Pewarta: Tri Meilani Ameliya
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.