kingsheadwye.com

BRIN berdayakan warga Gunungkidul olah limbah air cucian rumput laut

Kenapa dipilih sargasum? Karena memang dia adalah salah satu sumber rumput laut yang tidak optimal pengelolaannya di Indonesia

Jakarta (ANTARA) - Peneliti Pusat Riset Elektronika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Athanasia Amanda Septevani memberdayakan masyarakat pesisir Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), untuk mengolah limbah air cucian rumput laut jenis sargasum menjadi cairan ekoenzim yang bernilai guna tinggi.

"Kenapa dipilih sargasum? Karena memang dia adalah salah satu sumber rumput laut yang tidak optimal pengelolaannya di Indonesia," kata Amanda di sela-sela kegiatan Gender Equality Learning Program (GELP) Symposium di Jakarta, Selasa.

Amanda menjelaskan selama ini para kelompok tani dan warga pesisir biasanya hanya memanen sargasum untuk langsung dijual dalam bentuk mentah (raw material) atau hanya dijadikan pupuk biasa.

Melalui program pendanaan kolaboratif antara BRIN dan KONEKSI, tim peneliti akhirnya menggali potensi tersembunyi dari komoditas laut tersebut.

Baca juga: Ilmuwan kembangkan bibit rumput laut yang adaptif dan tahan penyakit

Amanda menemukan air limbah perasan atau cucian sargasum yang biasanya hanya dibuang begitu saja, ternyata dapat difermentasi dengan penambahan konsorsium bakteri EM4.

Hasil uji laboratorium membuktikan cairan turunan rumput laut cokelat ini teruji ampuh memiliki sifat antibakteri kuat, yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri E. Coli dan S. aureus.

Guna memastikan teknologi ini bisa diadopsi oleh masyarakat akar rumput, BRIN langsung mengerahkan tim untuk melatih para warga pesisir

"Kami juga melakukan, sudah melakukan workshop gitu ya, karena kebetulan mitra kami itu adalah dari Gunungkidul, kami melakukan workshop di sana dan mengajarkan mereka membuat E. enzim," ujarnya.

Baca juga: BRIN bentuk bank benih rumput laut, atasi kekurangan bibit

Dalam kegiatan lokakarya yang digelar pada Juli 2026 di Desa Duwet, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, itu lebih dari 50 partisipan lintas entitas yang didominasi oleh ibu-ibu pesisir ikut terlibat aktif.

Selain diajarkan memproduksi cairan ekoenzim secara mandiri, warga juga dilatih memformulasikan ekoenzim tersebut menjadi produk turunan harian seperti sabun cuci antibakteri rumahan.

Melalui inovasi sederhana ini, Amanda berharap kemandirian ekonomi masyarakat pesisir dapat tercipta, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem laut yang lebih sehat dan bebas pencemaran pada masa depan.

Baca juga: BRIN: Biostimulan dari rumput laut jadi prebiotik perikanan budidaya

Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.