Bukan Cuma Beras! Zulkifli Hasan dan Dirgayuza Bedah Pentingnya Gizi Protein Lewat Buku Pangan Indonesia di IdeaFest 2026
Gagasan besar ini mengemuka saat Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan bersama Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan Dirgayuza Setiawan merilis karya literasi terbaru bertajuk Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul.
Baca Juga: Zulkifli Hasan: Tidak Ada Impor Beras dan Ayam, Indonesia Surplus 4,2 Juta Ton
Acara peluncuran buku tersebut menjadi salah satu sorotan utama dalam gelaran ajang kreatif IdeaFest 2026 yang berlangsung di Jakarta, Jumat (4/9/2026).
Buku ini memaparkan rekam jejak perjuangan pangan Tanah Air, dari keberhasilan pemenuhan pangan pokok hingga tantangan baru menyediakan sumber nutrisi yang tak cuma melimpah, tapi juga bergizi tinggi dan ramah di kantong masyarakat.
Berdasarkan catatan statistik pada 2025, produksi beras nasional berhasil menembus angka sekitar 34 juta ton, melampaui angka kebutuhan konsumsi domestik yang berada di kisaran 31 juta ton.
Meski pencapaian ini menjadi milestone penting bagi kedaulatan pangan, fokus pembangunan kini resmi melebarkan sayapnya ke komoditas sumber protein seperti daging, ikan, telur, hingga susu.
Dalam pemaparannya, Zulkifli Hasan membentangkan visi strategis Indonesia menuju perayaan satu abad kemerdekaan pada 2045 mendatang, di mana gizi menjadi pilar paling vital dalam pembangunan sumber daya manusia.
“Bayangkan Indonesia 2045: sebuah bangsa dengan 300 juta manusia yang tidak hanya cukup pangan, tetapi unggul secara gizi. Generasi yang tumbuh sehat, produktif, dan berdaya saing. Bangsa yang tidak hanya memberi makan dirinya sendiri, tetapi berkontribusi pada ketahanan pangan kawasan dan dunia,” ujar Zulkifli Hasan.
Baca Juga: Mendag Zulkifli Hasan Resmikan Pameran Indo Leather & Footwear 2024
Buku setebal empat bab ini mengupas tuntas sembilan komoditas pangan vital Indonesia, yakni beras, jagung, kedelai, daging ruminansia, daging ayam, ikan, telur, susu, hingga gula.
Penulis menghubungkan secara cermat antara rantai produksi dan pola konsumsi dengan peningkatan mutu kehidupan manusia Indonesia.
Tak hanya membahas angka dan kebijakan, buku ini juga mengajak pembaca menyelami sejarah keragaman pangan lokal Nusantara.
Mengangkat kembali kekayaan bahan pangan tradisional seperti ikan, sagu, talas, sukun, jewawut, jagung, hingga aneka umbi-umbian yang telah menjadi bagian dari dinamika konsumsi masyarakat sejak lampau.
Menariknya, evolusi kuliner dan gizi masyarakat juga diulas dengan detail.
Jika ikan telah lama mendominasi piring makan masyarakat Nusantara jauh sebelum Indonesia merdeka, kehadiran telur ayam ras sebagai menu protein harian massal rupanya baru populer di akhir era 1950-an.
Sementara itu, Dirgayuza Setiawan menegaskan bahwa pembahasan isu pangan pada dasarnya merupakan investasi langsung pada kualitas pembangunan manusia. Tanpa pemenuhan gizi yang optimal, peradaban bangsa yang kuat sulit terwujud.
“Tidak ada negara yang kuat tanpa pangan yang cukup. Tidak ada masyarakat yang produktif tanpa gizi yang baik. Tidak ada sumber daya manusia unggul tanpa piring makan yang sehat,” kata Dirgayuza Setiawan.
Lebih luas lagi, buku ini membedah berbagai langkah kebijakan dan penguatan ekosistem yang dibutuhkan untuk menyokong kedaulatan pangan secara berkelanjutan.
Keberhasilan swasembada beras pun diposisikan sebagai batu loncatan awal, bukan destinasi akhir dari perjuangan pangan nasional.
Pemilihan panggung perhelatan IdeaFest 2026—yang kini memasuki usia ke-15 penyelenggaraan—menjadi sarana efektif untuk membawa isu pangan ke perbincangan publik yang lebih luas dan inklusif.
Mengusung tema besar ReHumanize, ajang kreatif ini menaruh manusia sebagai pusat dari segala inovasi dan kebijakan.
Semangat tersebut beririsan sempurna dengan pesan utama buku Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul.
Lewat sajian nutrisi yang sehat di atas piring masyarakat, Indonesia tengah menyiapkan lahirnya generasi masa depan yang sehat, unggul, produktif, serta sanggup bersaing di kancah global.