kingsheadwye.com

Bukan Kurang Garam, Ini Alasan Makanan Pesawat Terasa Hambar

Jakarta, CNBC Indonesia - Makanan yang disajikan selama penerbangan kerap dianggap kurang lezat dibandingkan hidangan serupa di darat. Tak jarang, penumpang menyalahkan maskapai atau koki karena makanan terasa hambar, meskipun telah dipersiapkan dengan bumbu yang cermat.

Namun, penelitian ilmiah menunjukkan bahwa persoalan tersebut tidak selalu berkaitan dengan cara memasak atau takaran bumbu. Keadaan di kabin pesawat pada ketinggian jelajah justru dapat mengubah cara tubuh manusia menangkap dan mempersepsikan cita rasa makanan.

Melansir Times of India, ketika pesawat berada di ketinggian sekitar 35.000 kaki, kondisi di dalam kabin berbeda dengan lingkungan di permukaan laut. Perbedaan tekanan udara, kelembapan, hingga kebisingan mesin dapat memengaruhi kinerja indra penciuman dan pengecap.

Tekanan Kabin Memengaruhi Persepsi Rasa

Kabin pesawat komersial memang menggunakan sistem tekanan udara, tetapi tekanannya tidak disamakan dengan kondisi di permukaan laut. Sebagian besar kabin memiliki tekanan yang setara dengan ketinggian sekitar 6.000 hingga 8.000 kaki.

Di sisi lain, kelembapan udara di dalam kabin biasanya jauh lebih rendah dibandingkan kondisi di darat. Kombinasi kedua faktor tersebut dapat menyebabkan hidung dan mulut menjadi lebih kering.

Kondisi ini berpotensi mengurangi kemampuan indra penciuman dan pengecap dalam menangkap sensasi rasa secara optimal. Padahal, penciuman memiliki peran besar dalam membentuk persepsi manusia terhadap cita rasa makanan.

Sejumlah penelitian, termasuk studi yang ditugaskan oleh maskapai Jerman Lufthansa dan dilakukan Fraunhofer Institute for Building Physics, menemukan bahwa persepsi terhadap rasa manis dan asin dapat menurun dalam kondisi kabin pesawat.

Akibatnya, makanan yang terasa pas bumbunya ketika disantap di darat dapat terasa lebih hambar saat dinikmati di udara.

Dengungan Mesin Juga Berpengaruh

Selain tekanan udara dan kelembapan, kebisingan di dalam kabin turut memengaruhi pengalaman makan penumpang.

Suara dengungan mesin pesawat yang konstan, dengan tingkat kebisingan yang kerap berada di kisaran 80 hingga 85 desibel selama penerbangan, dapat menekan persepsi rasa manis sekaligus memperkuat sensasi gurih atau umami.

Penelitian dari Cornell University juga mengkaji hubungan antara kebisingan lingkungan dan persepsi rasa. Hasilnya menunjukkan bahwa suara di sekitar seseorang dapat memengaruhi bagaimana makanan dan minuman dirasakan.

Temuan tersebut membantu menjelaskan mengapa jus tomat menjadi salah satu minuman yang populer di dalam pesawat. Kandungan rasa umami yang kuat pada jus tomat cenderung lebih bertahan dibandingkan sensasi manis dalam kondisi kabin yang bising.

Maskapai Menyesuaikan Resep Makanan

Karena persepsi rasa penumpang dapat berubah selama penerbangan, tim katering maskapai biasanya menyesuaikan resep makanan yang disajikan di udara.

Hidangan dapat menggunakan lebih banyak rempah-rempah, bahan kaya umami, atau bumbu tertentu untuk mempertahankan cita rasa. Namun, penyesuaian tersebut tetap harus mempertimbangkan aspek nutrisi, keamanan pangan, serta kualitas makanan setelah dipanaskan kembali.

Menambahkan garam dalam jumlah berlebihan bukan selalu solusi. Bumbu yang terlalu kuat justru dapat membuat makanan terasa kurang menyenangkan bagi penumpang yang tidak mengalami penurunan sensitivitas rasa secara signifikan.

Pemanasan Ulang Turut Menentukan

Sebagian besar makanan maskapai dimasak di darat, kemudian didinginkan dengan cepat sebelum dipanaskan kembali di dalam pesawat.

Walaupun sistem katering modern dirancang untuk mempertahankan kualitas makanan, proses pemanasan ulang dapat memengaruhi tekstur dan karakter rasa hidangan tertentu. Sayuran, misalnya, bisa menjadi lebih lembek, sementara makanan yang seharusnya renyah dapat kehilangan teksturnya. Cita rasa yang lembut juga berpotensi menjadi kurang menonjol.

Karena itu, menu penerbangan sering mengandalkan hidangan seperti kari, semur, daging yang dimasak perlahan, dan pasta. Jenis makanan tersebut cenderung lebih mampu mempertahankan tekstur serta cita rasanya setelah melalui proses pemanasan ulang.

Pengalaman Setiap Penumpang Bisa Berbeda

Tidak semua orang merasakan perubahan cita rasa dengan tingkat yang sama. Usia, kondisi hidrasi, kesehatan, hingga keadaan seperti sedang pilek dapat memengaruhi pengalaman seseorang ketika menyantap makanan di pesawat.

Memastikan tubuh cukup terhidrasi sebelum dan selama penerbangan dapat membantu mengurangi dampak udara kabin yang kering, meskipun tidak sepenuhnya mengembalikan persepsi rasa seperti di darat.

Dengan demikian, ketika makanan di pesawat terasa kurang menggugah selera, penyebabnya belum tentu terletak pada koki atau resep yang digunakan. Perpaduan antara tekanan kabin, udara kering, kebisingan mesin, dan proses pemanasan ulang dapat mengubah cara otak mempersepsikan cita rasa makanan.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]