Chief Asia Economist HSBC: Perekonomian Indonesia masih sangat tangguh
Jakarta (ANTARA) - Chief Asia Economist HSBC Frederic Neumann menyatakan perekonomian Indonesia masih sangat tangguh di tengah berbagai gejolak global.
“Kita mengetahui bahwa pada semester pertama tahun ini, ekonomi (Indonesia) tumbuh sebesar 5,4 persen. Proyeksi kami untuk keseluruhan tahun juga berada di angka 5,4 persen. Sementara untuk tahun depan, kami memproyeksikan pertumbuhan sebesar 5,2 persen, sedikit melambat, namun tetap merupakan pertumbuhan yang sangat kuat di tengah kondisi gejolak ini,” ujarnya dalam agenda Media Briefing HSBC Indonesia Summit 2026 di Jakarta, Selasa.
Saat ini, dunia disebut tengah menghadapi sejumlah gejolak yang dialami oleh seluruh negara. Mulai dari gejolak energi yang masih berlanjut seiring harga solar secara global berada pada tingkatan tertinggi sepanjang sejarah, lalu tantangan El-Nino yang meningkatkan tekanan terhadap harga pangan, hingga masalah peningkatan suku bunga yang terjadi di berbagai negara.
Di tengah berbagai gejolak tersebut, Neumann menilai pemerintah Indonesia mampu mengelola gejolak energi dengan cukup baik melalui kebijakan subsidi dan pengelolaan harga, sehingga dampak terhadap konsumen tak terasa seberat yang terjadi negara-negara lain.
“Sejauh ini, pemerintah Indonesia juga masih mampu menanggung kendali harga tersebut, dan hal ini menjadi jangkar penting bagi stabilitas perekonomian,” ungkap dia.
Terkait harga pangan, lanjutnya, saat ini inflasi harga pangan di Indonesia masih relatif rendah. Kendati pada periode El-Nino sebelumnya terjadi adanya lonjakan harga pangan yang signifikan di Tanah Air, namun kali ini sistem distribusi pangan di seluruh negeri dianggap jauh lebih baik, sehingga tekanan harga pangan dapat dijaga tetap rendah.
Selain itu, Indonesia juga merupakan eksportir netto pangan yang membuat negara ini tak terlalu tergantung pada impor pangan. Meskipun masih mengimpor beberapa komoditas tertentu, kata Neumann, secara umum Indonesia tetap merupakan eksportir netto pangan, dan hal ini turut melindungi Indonesia dari dampak El Nino.
Baca juga: BI tegaskan pentingnya kerja sama untuk ketahanan ekonomi di BRICS
Baca juga: Kadin yakini RI dan Thailand berpeluang unggul dalam ketahanan pangan
Mengenai suku bunga, menurut dia, Indonesia pada dasarnya sudah terbiasa dengan tingkat suku bunga yang tinggi, sehingga negara ini telah teruji dan memahami dengan baik cara mengelola risiko bunga tersebut.
Sektor korporasi sendiri telah memahami cara menghadapi tingkat suku bunga yang lebih tinggi. Di sisi lain, pemerintah tergolong pula relatif konservatif selama bertahun-tahun dalam mengelola utang dan defisit anggaran.
Karena itu, dia menilai kenaikan suku bunga global takkan menjadi penghambat utama bagi perekonomian Indonesia.
“Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa kami meyakini bahwa ketiga gejolak tersebut dapat diserap dengan baik oleh Indonesia, sehingga perekonomian nasional akan terus menunjukkan ketahanan yang cukup kuat,” kata Neumann.
Pihaknya sendiri memperkirakan Bank Indonesia hanya perlu menaikkan suku bunga acuan satu kali lagi. Bahkan jika Federal Reserve menaikkan suku bunga lebih tinggi, Indonesia sebenarnya tidak membutuhkan pengetatan moneter lebih lanjut.
Nilai tukar rupiah juga disebut terlihat relatif stabil, sehingga pihaknya memproyeksikan nilai tukar ke depan akan tetap terjaga stabil. Begitu pula defisit anggaran yang dinilai akan berada jauh di bawah target 3 persen untuk tahun depan, yang tentunya akan memberikan kepastian bagi investor asing.
“Dalam beberapa minggu terakhir, kita telah melihat kembalinya aliran modal masuk (capital inflows) ke Indonesia seiring dengan makin yakinnya investor asing terhadap stabilitas makroekonomi yang terjaga di negara ini,” ucap Chief Asia Economist HSBC.
Baca juga: Deputi Gubernur BI: Ekonomi Indonesia cukup kuat
Baca juga: Ketahanan energi dan ujian fiskal Indonesia
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.