kingsheadwye.com

CKG jadi bantalan perlindungan saat fenomena

CKG jadi bantalan perlindungan saat fenomena "downgrade" gaya hidup

Rabu, 7 Oktober 2026 11:55 WIB

Image Print

Petugas kesehatan memeriksa kondisi gigi siswa saat Cek Kesehatan Gratis (CKG) di SDN 4 Getas Pejaten, Kudus, Jawa Tengah, Kamis (24/9/2026). Kementerian Kesehatan mendorong penguatan upaya promotif dan preventif untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut anak sejak dini, mengingat 41 persen anak sekolah yang diperiksa melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) mengalami karies atau gigi berlubang. ANTARA FOTO/Nirza/app/wsj.

Jakarta (ANTARA) - Health Collaborative Center (HCC) menekankan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diinisiasi pemerintah menjadi bantalan perlindungan kesehatan utama bagi masyarakat yang tengah melakukan penyesuaian anggaran di tengah fenomena penurunan gaya hidup.

Praktisi Kesehatan Masyarakat dari HCC dr. Ray Wagiu Basrowi dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, mengatakan bahwa sebagaimana namanya, program CKG hadir sebagai solusi strategis agar masyarakat tetap mendapat jaminan deteksi dini penyakit tanpa perlu menambah beban biaya rumah tangga.

"Kalau biaya menjadi alasan untuk menunda pemeriksaan, manfaatkan CKG. Sudah gratis, sayang sekali jika tidak digunakan. Datanglah sebelum sakit, bukan setelah penyakit menimbulkan komplikasi," kata dia.

Ray menekankan bahwa keberadaan layanan CKG menjadi pintu masuk yang sangat krusial untuk menjaring berbagai faktor risiko penyakit tidak menular yang kerap berkembang tanpa gejala klinis.

Penyakit seperti tekanan darah tinggi, diabetes, anemia, serta gangguan fungsi organ sering kali tidak disadari oleh warga yang merasa kondisinya tetap bugar dan beraktivitas normal harian.

Program ini selaras dengan hasil studi terbaru dari HCC yang menunjukkan hampir 60 persen anak muda usia di bawah 40 tahun memilih swadiagnosis terlebih dahulu ketika mengalami keluhan kesehatan, dan tidak langsung berkonsultasi ke dokter atau fasilitas kesehatan.

Penelitian itu dilakukan pada Maret-Mei 2026 melalui pendekatan mixed-method yang melibatkan survei terhadap 448 responden urban dari berbagai kota besar di Indonesia, termasuk Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta.

Pihaknya menemukan bahwa mesin pencari berbasis AI menjadi sumber utama swadiagnosis, diikuti situs kesehatan dan konten digital lainnya. Keluhan yang paling sering dicari berkaitan dengan gangguan pernafasan dan kardiovaskular, pencernaan, hingga masalah psikologis.

Yang menjadi perhatian, kata dia, studi ini juga menemukan bahwa ternyata 36 persen responden langsung melakukan swamedikasi atau mengobati diri sendiri tanpa ke dokter, serta 27 persen mengabaikan resep dokter karena bertentangan dengan informasi internet.

"Silakan downgrade gengsi, hiburan, atau barang yang tidak mendesak. Tetapi jangan ikut menurunkan perlindungan terhadap kesehatan. Manfaatkan CKG, kenali risiko sejak dini, dan jangan menunggu tubuh mengirimkan tagihan dalam bentuk penyakit," kata Ray, yang juga dosen di Program Magister Kedokteran Kerja, Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: CKG jadi bantalan perlindungan saat fenomena "downgrade" gaya hidup

Pewarta : M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026