kingsheadwye.com

COVID-19 Mendadak 'Ngegas' Lagi di Thailand, Dalam Sebulan Catat 64 Ribu Kasus

Jakarta -

Kasus COVID-19 di Thailand menunjukkan tren peningkatan. Department of Disease Control Thailand (DDC) melaporkan rata-rata 15.000 kasus baru setiap pekan dalam empat minggu terakhir.

Otoritas kesehatan Thailand mengimbau masyarakat memantau perkembangan penyakit dan risiko kesehatan yang berkaitan dengan musim hujan serta perubahan cuaca. Masyarakat juga diminta menerapkan langkah pencegahan untuk mengurangi risiko sakit dan penyakit berat.

Sejak 1 Januari hingga 15 September 2026, Thailand mencatat 135.667 kasus kumulatif COVID-19 atau angka kesakitan sebesar 206 kasus per 100.000 penduduk. Sebanyak 26 orang meninggal dunia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski mengalami sedikit peningkatan, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan jumlah kasus yang tercatat dalam dua hingga tiga tahun terakhir. Hal tersebut disampaikan pakar medis senior DDC, Dr Jurai Wongsawat dan Dr Weerawat Manosuthi, dalam konferensi pers pada Selasa.

Dalam kurun waktu satu bulan, yakni 9 Agustus hingga 8 September, sebanyak 64.937 kasus COVID-19 dilaporkan di seluruh Thailand.

Selama empat minggu terakhir, jumlah kasus meningkat rata-rata 15.000 kasus per pekan. Sementara itu, jumlah kematian rata-rata mencapai dua hingga empat orang per pekan, kata Dr Jurai.

Dikutip dari Bangkok Post, provinsi dengan jumlah kasus tertinggi adalah Chon Buri, Bangkok, dan Phuket.

Dr Weerawat mengatakan varian COVID-19 yang dominan di Thailand saat ini adalah NB.1.8.1, disusul JN.1. Kedua varian tersebut umumnya menyebabkan gejala ringan.

Namun, Thailand juga melaporkan kemunculan varian PQ.16.1.1 yang oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) diklasifikasikan sebagai variant under monitoring atau varian yang sedang dipantau.

Hingga saat ini, Thailand telah mencatat enam kasus PQ.16.1.1. Jumlah tersebut menunjukkan sedikit peningkatan, tetapi belum ada indikasi bahwa varian tersebut menyebabkan penyakit yang lebih berat, kata Dr Weerawat.

Menurut DDC, lima penyakit yang paling banyak dilaporkan selama periode 9 Agustus hingga 8 September adalah influenza, penyakit diare, COVID-19, pneumonia, serta penyakit tangan, kaki, dan mulut (hand, foot and mouth disease/HFMD).

Sementara itu, lima penyakit dengan tingkat kematian pasien (case fatality rate) tertinggi pada periode yang sama adalah rabies, penyakit Legionnaires, melioidosis, sindrom syok toksik akibat streptokokus, dan ensefalitis.

(suc/naf)