kingsheadwye.com

Cuaca ekstrem tandai pentingnya kerja sama iklim antara China dan UE

Beijing (ANTARA) - Dengan perubahan iklim yang semakin menjadi tantangan global, para pakar menilai bahwa kerja sama yang lebih erat antara China dan Uni Eropa (UE) mengenai aksi iklim serta transisi hijau akan menjadi faktor penting dalam memajukan tata kelola iklim global.

Di beberapa wilayah Eropa, suhu baru-baru ini melebihi 40 derajat Celsius, sementara otoritas kesehatan melaporkan peningkatan tajam angka kematian terkait panas selama periode suhu terpanas.

Pendingin udara buatan China juga mengalami pertumbuhan penjualan yang kuat di beberapa pasar Eropa, mencerminkan meningkatnya permintaan akan solusi adaptasi iklim di tengah gelombang panas yang semakin sering terjadi.

Para ilmuwan mengatakan gelombang panas terbaru sebagian disebabkan oleh sistem tekanan tinggi persisten yang dikenal sebagai "kubah panas" (heat dome), sementara perubahan iklim membuat peristiwa cuaca ekstrem seperti itu menjadi lebih sering dan intens.

Sementara itu, Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) telah memperingatkan bahwa penguatan El Niño diperkirakan akan meningkatkan kemungkinan gelombang panas, kekeringan, hujan lebat, dan peristiwa cuaca ekstrem lainnya di banyak bagian dunia dalam beberapa bulan mendatang.

"Meningkatnya jumlah korban akibat cuaca ekstrem memberikan pesan yang jelas: ketika bencana melanda, perbatasan negara tidak memberikan perlindungan," kata Wang Lei, seorang profesor di Fakultas Pemerintahan Beijing Normal University.

Seiring meningkatnya risiko iklim, kerja sama antara China, negara berkembang terbesar di dunia, dan UE, kelompok negara-negara maju terbesar, memiliki konsekuensi global.

Wang menyatakan bahwa dalam konteks penarikan diri Amerika Serikat dari Perjanjian Paris, tekanan pada komitmen iklim multilateral dan kesenjangan yang semakin besar antara negara maju dan negara berkembang, China dan UE memainkan peran yang semakin penting sebagai "kekuatan penstabil" dalam tata kelola iklim global, sehingga aksi iklim yang lebih kuat menjadi penting.

Kerja sama iklim telah lama menjadi landasan hubungan China-UE. Pada 2025, para pemimpin China dan UE menegaskan kembali komitmen mereka terhadap aksi iklim global, menyatakan bahwa kedua pihak memiliki fondasi yang kuat untuk kerja sama dan potensi kolaborasi yang luas dalam transisi hijau.

Nicholas Stern, ketua Institut Penelitian Grantham tentang Perubahan Iklim dan Lingkungan (Grantham Research Institute on Climate Change and the Environment) di London School of Economics, berpendapat bahwa China dan UE harus bekerja sama memberikan kepemimpinan dalam tata kelola iklim global, termasuk dengan menciptakan lingkungan domestik dan internasional yang mendorong investasi dalam transisi menuju emisi nol bersih dan perekonomian yang tangguh terhadap iklim.

Dia juga menekankan perlunya memperluas kapasitas pembiayaan bank pembangunan multilateral, agar perekonomian-perekonomian berkembang dapat memanfaatkan peluang investasi signifikan yang ditawarkan oleh transisi hijau.

"Mendorong lebih lanjut Kemitraan Hijau China-UE akan sejalan dengan kepentingan masyarakat di kedua belah pihak sekaligus menawarkan harapan baru bagi pembangunan berkelanjutan global," kata Zhang Haibin, wakil direktur Institut Netralitas Karbon Universitas Peking.

Dengan komitmen kuat para pemimpin China dan UE untuk memajukan kerja sama iklim, tugas selanjutnya adalah menghilangkan hambatan kebijakan dan teknologi serta mengubah konsensus luas menjadi proyek-proyek yang dapat diterapkan, imbuh Zhang.

China dan UE mengupayakan pembangunan rendah karbon melalui pendekatan yang berbeda, kata Hu Bin, lektor kepala di Institut Perubahan Iklim dan Pembangunan Berkelanjutan di Universitas Tsinghua, Beijing, mengutip upaya China untuk menyelaraskan tujuan iklim dengan pertumbuhan ekonomi, kemajuan teknologi, dan keamanan energi.

Sementara itu, UE telah mengupayakan transisi hijaunya melalui penetapan harga pada emisi karbon, regulasi, dan sistem standar, katanya.

"China dan Eropa sangat saling bergantung," ujar Hu, seraya menunjuk pada peluang baru di berbagai bidang seperti standar rendah karbon, energi hidrogen, dan penyimpanan energi.

Pewarta: Xinhua
Editor: Hanni Sofia
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.