kingsheadwye.com

Damkar Mataram menyiagakan armada hadapi kebakaran akibat kemarau

Mataram (ANTARA) - Dinas Pemadam Kebakaran Kota Mataram di Nusa Tenggara Barat (NTB) menyiagakan sedikitnya 70 persen kekuatan armada dan personel selama 24 jam untuk mengantisipasi peningkatan ancam kebakaran selama musim kemarau.  

Kepala Seksi Pengendalian Kebakaran Kota Mataram Agus Sopiandi mencatat ada lebih dari 20 kasus kebakaran yang berlangsung sejak awal musim kemarau tahun ini. 

"Sebagian besar dipicu kebakaran lahan dan kelalaian warga membakar sampah sembarangan," ujar dia saat ditemui di Mataram, Selasa.  

Agus menjelaskan kesiapsiagaan tersebut dilakukan lantaran kondisi lahan yang semakin kering akibat kemarau ditambah embusan angin kencang dapat membuat api cepat menjalar.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat kebakaran yang awalnya hanya berupa titik api kecil dapat dengan cepat meluas apabila tidak segera ditangani oleh petugas Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar).    

"Dalam hitungan menit bisa membakar sekitar beberapa are kalau kami tidak segera menangani," kata Agus.

Agus memastikan perlengkapan standar dalam kondisi lengkap, sehingga tetap dapat mendukung penanganan apabila terjadi kebakaran berikutnya.   

Ia mengimbau masyarakat tidak membakar sampah secara sembarangan, terutama ketika angin bertiup kencang. Jika pembakaran sampah terpaksa dilakukan, maka warga diminta tetap mengawasi hingga api padam.  

"Kalau bakar sampah ditunggu, jangan sampai merambat ke tempat lain, apalagi angin keras," kata dia.

Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, BMKG telah menetapkan sembilan dari 10 kabupaten/kota di Nusa Tenggara Barat (NTB) masuk status awas kekeringan meteorologis seiring periode hari tanpa hujan yang semakin panjang di wilayah tersebut.

Baca juga: Pemkot Jakbar bangun pos Damkar-hidran mandiri

Pada dasarian III Agustus atau 21-31 Agustus 2026, kondisi hari tanpa hujan berturut-turut (HTH) secara umum berada pada kategori sangat panjang rentang 31-60 hari hingga kekeringan ekstrem dengan HTH lebih dari 60 hari.

Bahkan, hari tanpa hujan berturut paling panjang tercatat di Pos Hujan Bolo yang terletak di Kabupaten Bima yang mencapai 105 hari dan masuk kategori kekeringan ekstrem.

Pewarta : Sugiharto Purnama dan Dia Asri
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026