Dari Nagari untuk Negeri, Teknologi Perontok Kapulaga UNAND jadi harapan baru petani Pakan Rabaa Utara
Solok Selatan (ANTARA) - Universitas Andalas (UNAND) kembali memperkuat perannya dalam menghadirkan inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat, tim dosen Universitas Andalas bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Unand Periode II.
Kegiatan pengabdian itu hadir di Nagari Pakan Rabaa Utara, Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh (KPGD), Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat untuk memperkenalkan teknologi tepat guna bagi petani kapulaga.
Mengusung judul “Penerapan Teknologi Tepat Guna Alat Perontok Kapulaga untuk Meningkatkan Efisiensi Pascapanen dan Pendapatan Petani di Nagari Pakan Rabaa Utara Kabupaten Solok Selatan”, program ini dilaksanakan melalui skema Program Kemitraan Masyarakat Terintegrasi dengan Kegiatan Mahasiswa (PKM-TKM) dan mendapat dukungan pendanaan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Andalas Tahun 2026.
Tim pengabdian diketuai oleh Dr. Hendra Saputra, S.TP, M.P dengan anggota Fea Firdani, SKM, MKM dan Afrima Sari, SP, MP. Kegiatan ini semakin bermakna dengan keterlibatan aktif mahasiswa KKN Universitas Andalas Periode II Nagari Pakan Rabaa Utara yang turut mendampingi masyarakat dalam setiap tahapan pelaksanaan program.
Kehadiran program ini berangkat dari perhatian terhadap kondisi petani kapulaga yang masih menghadapi sejumlah tantangan dalam proses pascapanen. Tahapan perontokan yang dilakukan secara manual membutuhkan waktu, tenaga, dan ketelitian yang cukup besar. Kondisi tersebut berpotensi mempengaruhi efisiensi kerja petani serta produktivitas hasil pertanian.
Melalui penerapan alat perontok kapulaga, tim pengabdian Universitas Andalas berupaya menghadirkan solusi yang sederhana, aplikatif, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Teknologi yang diperkenalkan diharapkan mampu membantu petani mempercepat proses pascapanen sekaligus mengurangi beban kerja yang selama ini harus dilakukan secara manual.
Ketua tim pengabdian, Dr. Hendra Saputra, S.TP, M.P mengatakan bahwa perguruan tinggi tidak hanya memiliki peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk membawa hasil inovasi tersebut agar dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
“Teknologi yang kami terapkan diharapkan dapat membantu petani mempercepat proses perontokan kapulaga, meningkatkan efisiensi kerja, serta mengurangi ketergantungan pada proses manual. Harapan akhirnya tentu adalah meningkatnya produktivitas dan memberikan dampak positif terhadap pendapatan petani,” ujarnya.
Namun, kegiatan pengabdian ini tidak berhenti pada penerapan teknologi semata. Tim juga memberikan pendampingan kepada masyarakat terkait penggunaan, pengoperasian, dan perawatan alat agar teknologi yang diterapkan benar-benar dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan.
Menurut Fea Firdani, SKM, MKM, penerapan teknologi tepat guna dalam proses pascapanen juga perlu memperhatikan aspek kesehatan dan keselamatan kerja petani. Proses perontokan yang dilakukan secara manual dan berulang dalam waktu lama dapat menimbulkan kelelahan fisik dan meningkatkan risiko keluhan akibat posisi kerja yang kurang ergonomis.
Oleh karena itu, penggunaan alat perontok kapulaga diharapkan tidak hanya meningkatkan efisiensi dan produktivitas, tetapi juga membantu mengurangi beban fisik petani serta menciptakan proses kerja yang lebih aman, sehat, dan nyaman.
“Peningkatan produktivitas harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kesehatan dan keselamatan petani, karena kesejahteraan petani bukan hanya diukur dari peningkatan pendapatan, tetapi juga dari kemampuan mereka untuk bekerja secara sehat dan aman,” ujarnya.
Sementara itu, Afrima Sari, SP, MP, menekankan pentingnya penguatan aspek pertanian dan pascapanen sebagai bagian dari upaya meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal. Menurutnya, kapulaga memiliki potensi yang dapat terus dikembangkan apabila didukung dengan penanganan pascapanen yang lebih baik dan efisien.
“Kapulaga memiliki potensi yang dapat terus dikembangkan. Dengan penanganan pascapanen yang lebih baik dan efisien, diharapkan petani memiliki peluang yang lebih besar untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah hasil pertaniannya,” katanya.
Pelaksanaan kegiatan ini juga menjadi ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa KKN Universitas Andalas Periode II. Mahasiswa tidak hanya terlibat dalam membantu pelaksanaan kegiatan, tetapi juga menjadi bagian dari proses transfer pengetahuan dan teknologi antara perguruan tinggi dengan masyarakat.
Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan masyarakat menjadi salah satu kekuatan utama dalam skema Program Kemitraan Masyarakat Terintegrasi dengan Kegiatan Mahasiswa (PKM-TKM). Melalui pendekatan tersebut, ilmu pengetahuan yang berkembang di lingkungan kampus diharapkan dapat bersinergi dengan pengalaman, potensi, dan kebutuhan nyata masyarakat di nagari.
Masyarakat Nagari Pakan Rabaa Utara menyambut baik kegiatan tersebut. Kehadiran alat perontok kapulaga memberikan harapan baru bagi petani untuk melakukan proses pascapanen secara lebih efektif dan efisien.
Lebih dari sekadar penerapan sebuah alat, kegiatan ini menjadi gambaran bagaimana inovasi dapat tumbuh dari kolaborasi. Ketika perguruan tinggi, mahasiswa, dan masyarakat berjalan bersama, teknologi tidak lagi hanya menjadi hasil penelitian, tetapi dapat berubah menjadi solusi nyata yang memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
Melalui dukungan LPPM Universitas Andalas Tahun 2026, program ini diharapkan mampu memberikan dampak berkelanjutan bagi petani kapulaga di Nagari Pakan Rabaa Utara.
Ke depan, penerapan teknologi tepat guna diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari penguatan potensi pertanian lokal, peningkatan efisiensi pascapanen, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Dari sebuah nagari di Kabupaten Solok Selatan, kolaborasi antara kampus dan masyarakat kembali membuktikan bahwa inovasi akan memiliki makna yang lebih besar ketika hadir, tumbuh, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.