kingsheadwye.com

Desakan Transisi Energi Menguat Usai Kebakaran Hutan Dekat Lokasi COP31 Turki - Investasi Hijau Katadata.co.id

Kebakaran hutan dan lahan di Aksu, Antalya, menjadi sorotan 350 Turki. Organisasi yang fokus pada isu perubahan iklim dan transisi energi itu menilai, insiden tersebut adalah bukti dampak perubahan iklim.

Menurut Juru Kampanye 350 Turki, Ege Tok, desakan itu tidak lepas dari peran penting Turki sebagai tuan rumah dan bagian dari Kepresidenan Konferensi Para Pihak ke-31 (COP31) November mendatang. Bahkan, titik kerusakan itu hanya berjarak beberapa kilometer dari lokasi gelaran COP31.

“Krisis iklim membakar rumah kita dan penyebab sebenarnya adalah bahan bakar fosil,” ujar Ege dalam keterangan resmi, dikutip pada Jumat (2/10).

Dia berharap, dampak krisis iklim yang kian nyata ini juga mendorong adanya tindakan penanggulangan yang nyata. Mereka juga mendesak Turki menyusun rencana konkret untuk menghentikan penggunaan bahan bakar fosil.

“Turki harus memastikan bahwa konferensi tingkat tinggi ini akan menghasilkan tindakan nyata yang akan membuka jalan bagi transisi cepat dan adil dari batu bara, minyak, dan gas,” ujarnya. 

350 Turki mendesak adanya jadwal konkret untuk menghapus penggunaan bahan bakar fosil, dimulai dari batu bara. Organisasi ini juga meminta agar transisi menuju energi terbarukan juga berjalan secara adil dan teratur, ditambah penguatan kebijakan untuk melindungi masyarakat,

Pada intinya, 350 Turki menekankan transisi energi dari bahan bakar fosil sebagai pusat agenda COP31. Kepresidenan COP31 dinilai sebagai kesempatan bagi Türki untuk menunjukkan kepemimpinan yang dapat mengarahkan negara-negara lain menuju aksi iklim yang lebih kuat. 

Turki Membara Awal September

Mengutip Direktorat Jenderal Kehutanan Turki, terjadi 146 insiden kebakaran hutan dan 260 kebakaran non-hutan pada 8 hari pertama September 2026. Kebakaran di Antalya, Mugla, dan Adana, dinilai sebagai bukti bahwa risiko kebakaran hutan masih ada meski musim panas kian berakhir.

Otoritas pemerintah tersebut kemudian mengingatkan warganya untuk terus waspada, serta mengantisipasi dampak dari cuaca kering dan berangin di wilayahnya. 

“Meskipun musim gugur telah tiba, risiko kebakaran tetap ada karena suhu tinggi dan vegetasi mengering,” demikian dikutip dari laman resmi Direktorat Jenderal Kehutanan Turki.