Di Muktamar NU, Prabowo Ungkap Cita-cita Pendiri NU untuk Indonesia
Prabowo mengatakan semangat kebangsaan para pendiri NU telah tumbuh jauh sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 1945. Salah satu buktinya, menurut dia, terlihat dari lagu Syubbanul Wathan karya KH Abdul Wahab Chasbullah.
“Yang menarik bagi kita semua, terutama generasi muda, yang menarik adalah bahwa lagu ini diciptakan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah belasan tahun sebelum proklamasi kemerdekaan,” ujar Prabowo.
Menurut Prabowo, Syubbanul Wathan merupakan lagu yang menunjukkan kuatnya semangat patriotisme dan nasionalisme dari kalangan ulama pesantren.
Ia menilai hal tersebut menjadi penting karena lagu itu lahir ketika bentuk dan nama negara Indonesia belum jelas.
Baca Juga: Prabowo Buka Muktamar ke-35 NU di Jombang: Jas Hijau, Jangan Lupakan Peran Ulama
“Pada waktu itu belum tahu negara yang diproklamasikan bentuknya bagaimana, namanya saja belum begitu jelas. Tapi pemimpin-pemimpin religius berani membuat lagu yang demikian patriotik dan nasionalis belasan tahun sebelum proklamasi kemerdekaan,” katanya.
Prabowo kemudian mengutip bagian dari lirik Syubbanul Wathan yang menggambarkan kecintaan terhadap tanah air dan seruan agar bangsa Indonesia bangkit.
“Jadi cita-cita pendiri NU adalah agar bangsa Indonesia bangkit, agar bangsa Indonesia setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini,” ujar Prabowo.
Bangkit Harus Disertai Keadilan
Prabowo mengatakan kebangkitan bangsa tidak hanya berkaitan dengan posisi Indonesia di antara negara-negara lain. Menurutnya, bangsa yang bangkit harus menjadi bangsa yang terhormat, sedangkan kehormatan bangsa berkaitan erat dengan keadilan dan kemakmuran.
“Agar bangsa Indonesia kalau bangkit artinya bangsa Indonesia itu terhormat, bangsa yang terhormat adalah bangsa yang adil dan makmur,” katanya.
Prabowo menegaskan kemakmuran dan keadilan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
“Tidak ada bangsa yang dihormati kalau ia tidak makmur, dan tidak ada kemakmuran tanpa keadilan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga menyampaikan apresiasi atas kesempatan untuk hadir dalam forum tertinggi NU tersebut. Ia menegaskan dirinya tidak mengatur jalannya Muktamar NU.
“Saya tentunya mengucapkan terima kasih atas kehormatan yang besar yang diberikan kepada saya sebagai Presiden Republik Indonesia yang ke-8 hadir di Muktamar ke-35, saya tidak mengatur ini semua, saya juga tidak mengerti,” kata Prabowo.
Ia kemudian mengucapkan selamat bermuktamar kepada seluruh peserta Muktamar ke-35 NU.
Baca Juga: Prabowo Bertolak ke Jombang untuk Buka Muktamar ke-35 NU
“Terima kasih dan saya tidak akan panjang-lebar dalam sambutan ini, selamat bermuktamar Nahdlatul Ulama,” ujar Presiden.
Muktamar ke-35 NU digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026. Forum tersebut menjadi momentum bagi NU untuk membahas berbagai agenda organisasi sekaligus menentukan arah kepemimpinan dan kebijakan organisasi ke depan.