Dinas Pendidikan Sulteng perkuat deteksi dini radikalisme pelajar di medsos
Dinas Pendidikan Sulteng perkuat deteksi dini radikalisme pelajar di medsos
Senin, 21 September 2026 16:33 WIB
Kepala Dinas Pendidikan Sulteng Firmanza. ANTARA/HO-Afia Febrianti
Kota Palu (ANTARA) - Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) memperkuat deteksi dini guna mencegah keterlibatan peserta didik di daerah tersebut dalam grup media sosial bermuatan konten kekerasan dan radikalisme.
Kepala Dinas Pendidikan Sulteng Firmanza di Kota Palu, Senin, mengatakan pentingnya upaya kolaboratif sebagai bentuk kewaspadaan terhadap maraknya penyebaran konten berbahaya yang menjadikan kelompok usia remaja di lingkungan sekolah sebagai sasaran.
"Saat ini kami aktif berkoordinasi dengan Densus 88 Polri untuk mendeteksi dini hal-hal seperti itu. Ini penting agar potensi penyebaran konten kekerasan atau paham ekstremis di kalangan pelajar bisa langsung kita cegah sebelum berkembang," kata Firmanza.
Berdasarkan hasil pantauan, pihaknya menemukan sebanyak empat kasus pelajar di Sulawesi Tengah yang sempat terpapar dan masuk ke dalam grup media sosial bermuatan konten kekerasan, dua di antaranya terdeteksi di Kabupaten Poso.
Menurut dia, sebagian besar modus yang digunakan para pelaku terbilang rapi dengan memanfaatkan grup percakapan minat umum, seperti komunitas olahraga, sebelum akhirnya mengarahkan para siswa ke materi bermuatan kekerasan.
"Modusnya ini yang berbahaya. Awalnya mereka masuk ke grup-grup olahraga, tidak lama kemudian digiring masuk ke konten-konten kekerasan. Kebanyakan anak-anak ini awalnya hanya terikut karena iseng," ucapnya.
Ia menuturkan Dinas Pendidikan Sulteng mengambil langkah persuasif dengan mendatangi sekolah yang bersangkutan.
"Kami sudah memberikan pembinaan khusus dan pendampingan tanpa mempublikasikan identitas siswa guna menjaga masa depan serta psikologis anak. Pendekatan ini penting agar mereka menyadari bahayanya dan kembali fokus pada kegiatan belajar," ujarnya.
Firmanza menyebutkan pengawasan ketat dan pembinaan sejak dini merupakan kunci utama untuk mencegah terjadinya aksi nekat yang dipicu oleh paparan konten ekstrem dari media sosial.
"Kami mengimbau seluruh pihak sekolah, guru, serta orang tua untuk lebih peka memantau aktivitas digital anak-anak, khususnya dalam penggunaan aplikasi pesan singkat dan media sosial di luar jam sekolah," kata dia.
Diketahui saat ini jumlah eks napiter di Kabupaten Poso berjumlah 181 orang dan sudah mengikuti program pembinaan dan pemberdayaan di daerah tersebut.
Pewarta : Moh Salam
Editor:
Muhammad Zulfikar
COPYRIGHT © ANTARA 2026