Dinkes P2KB Gorontalo respons cepat KLB campak diPulau Dudepo - ANTARA News Gorontalo
Gorontalo (ANTARA) - Tim Gerak Cepat (TGC) Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) Provinsi Gorontalo bersama TGC Gorontalo Utara merespons cepat kejadian luar biasa (KLB) campak di Desa Dudepo Kepulauan, Kabupaten Gorontalo Utara.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo Erni Nuraini Mansur di Gorontalo, Rabu, mengatakan pelayanan kesehatan tersebut merupakan implementasi standar pelayanan minimal (SPM) Bidang Kesehatan, yang mewajibkan pemerintah memberikan pelayanan dasar secara cepat dan komprehensif dalam situasi KLB/wabah penyakit atau masalah kesehatan masyarakat.
Respons cepat dilakukan setelah hasil pemeriksaan laboratorium Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya, mengonfirmasi lima sampel positif campak.
Dari jumlah tersebut empat kasus berasal dari wilayah kerja Puskesmas Ilangata, tepatnya di Desa Dudepo Kepulauan, Kecamatan Anggrek.
Temuan ini memenuhi kriteria KLB, sehingga mengharuskan penanggulangan segera sesuai pedoman Kementerian Kesehatan.
Langkah yang dilakukan meliputi kajian epidemiologi untuk menetapkan wilayah dan kelompok sasaran, survei cepat di masyarakat, koordinasi lintas program dan lintas sektor, serta pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI).
Edukasi melalui penyuluhan tentang hidup sehat dan pentingnya imunisasi juga dilakukan.
Respons tersebut dilaksanakan sesuai standar operasional prosedur (SOP) dan petunjuk teknis, yang mengamanatkan agar respons KLB dilakukan paling lambat tujuh hari setelah suatu wilayah dinyatakan memenuhi kriteria KLB.
Upaya penanggulangan melibatkan berbagai unsur, termasuk Puskesmas Ilangata, pemerintah kecamatan, desa dan tokoh masyarakat setempat.
Kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan seluruh sasaran dapat dijangkau dengan cepat, terutama di wilayah kepulauan yang memiliki tantangan geografis.
Perjalanan menuju Pulau Dudepo menjadi tantangan tersendiri bagi petugas kesehatan, sebab rombongan harus menyeberangi laut menggunakan perahu sekitar 20 menit.
Kondisi ini sekaligus menggambarkan komitmen pemerintah untuk menghadirkan pelayanan kesehatan yang setara, termasuk bagi masyarakat di daerah terdepan, terluar dan tertinggal (3T).
Pelaksanaan ORI di Desa Dudepo mendapat sambutan positif dari masyarakat. Warga antusias membawa anak-anak untuk mendapatkan imunisasi tambahan campak tanpa memandang status imunisasi Measles Rubella (MR) sebelumnya.
Tingginya partisipasi warga menjadi modal penting dalam memutus upaya rantai penularan penyakit. "Alhamdulillah petugas tidak menemukan penolakan terhadap imunisasi. Ini menunjukkan kepercayaan masyarakat sudah mulai terbuka terhadap program imunisasi pemerintah," katanya.
Respons cepat petugas kesehatan juga menjadi bukti dedikasi nyata, dalam menjalankan program pemerintah terutama pemerintah Provinsi Gorontalo.
Dalam pelaksanaan skrining, juga ditemukan kasus tambahan yang dicurigai campak dengan gejala khasnya, sehingga dilakukan tata laksana kasus dengan pemberian vitamin A sesuai dosis.
Program ORI dijadwalkan berlangsung selama dua pekan dengan target cakupan lebih dari 95 persen pada seluruh kelompok sasaran.
“Target tersebut merupakan syarat penting untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity),
sehingga penularan virus campak dapat dihentikan dan risiko munculnya kasus baru dapat ditekan semaksimal mungkin," kata Erni.
Kepala Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo Anang S Otoluwa memberikan perhatian penuh terhadap penanganan KLB campak di Desa Dudepo.
Menurutnya, setiap warga negara berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang berkualitas tanpa membedakan lokasi tempat tinggal.
Oleh karena itu, daerah kepulauan dan wilayah 3T menjadi perhatian khusus pemerintah agar tidak terjadi kesenjangan akses pelayanan kesehatan, termasuk dalam penanggulangan KLB.
Penanganan KLB campak di Desa Dudepo menunjukkan bahwa keberhasilan pengendalian penyakit menular tidak semata-mata ditentukan oleh kesiapan tenaga kesehatan, tetapi juga memerlukan kolaborasi lintas sektor serta keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap upaya penanggulangan.
“Dengan respons cepat, pelayanan sesuai standar dan dukungan masyarakat yang tinggi, pemerintah optimistis penyebaran campak di wilayah tersebut dapat segera dikendalikan, sehingga masyarakat kembali terlindungi dari ancaman penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi," kata Anang.
Pewarta: Susanti Sako
Editor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.