kingsheadwye.com

Dispar DIY tingkatkan kompetensi teknis bagi pelaku industri batik

Dispar DIY tingkatkan kompetensi teknis bagi pelaku industri batik

Senin, 13 Juli 2026 16:55 WIB

Image Print

Pelatihan berbasis kompetensi dan sertifikasi kompetensi bidang ekonomi kreatif skema warna sintetis di BBSPJIKB Kementerian Perindustrian di Yogyakarta, Senin (13/7/2026). (ANTARA/Hery Sidik)

Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Pariwisata (Dispar) Daerah Istimewa Yogyakarta bersama Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menggelar pelatihan berbasis kompetensi dan sertifikasi kompetensi bidang ekonomi kreatif guna meningkatkan kompetensi teknis perajin batik.

"Pelatihan yang berlangsung selama lima hari ke depan ini menjadi langkah nyata untuk meningkatkan kompetensi teknis para pelaku batik, khususnya pada skema pewarna batik dengan warna sintetis," kata Kepala Dispar DIY Imam Pratanadi saat membuka pelatihan di Yogyakarta, Senin.

Menurut dia, penguasaan teknik pewarnaan yang tepat akan menghasilkan produk yang memenuhi standar mutu, memiliki ketahanan warna yang baik, efisien dalam proses produksi, serta tetap memperhatikan aspek keselamatan kerja dan kelestarian lingkungan.

Pelatihan yang diikuti 25 pelaku batik tersebut akan diakhiri dengan sertifikasi kompetensi profesi, sertifikat kompetensi bukan sekadar dokumen, melainkan pengakuan resmi atas kemampuan seseorang sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).

Menurut dia, pelaku industri batik yang difasilitasi mengikuti pelatihan tersebut adalah investasi bagi masa depan, sehingga harapannya peserta mengikuti sungguh-sungguh, aktif berdiskusi, banyak berlatih, serta memanfaatkan pengalaman para asesor dan instruktur yang kompeten.

"Jangan hanya mengejar sertifikat, tetapi jadikan pelatihan ini sebagai sarana meningkatkan kualitas karya dan profesionalisme," katanya.

Dispar juga berharap, kolaborasi dengan berbagai pihak dalam pelaksanaan pelatihan bagi industri kreatif ini terus diperkuat, agar batik Yogyakarta semakin berkualitas, inovatif, semakin berkelanjutan, dan semakin mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat.

Sementara itu, Kepala BBSPJIKB Kemenperin Zya Labiba mengatakan batik bukan sekadar produk sandang, namun adalah identitas budaya, sumber kreativitas, sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.

Menurut dia, pengakuan UNESCO pada 2 Oktober 2009 terhadap Batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan menjadi bukti bahwa batik memiliki nilai budaya yang diakui dunia.

"Pengakuan tersebut sekaligus menjadi amanah bagi kita untuk terus menjaga kualitas, meningkatkan kompetensi, dan mendorong inovasi agar batik Indonesia tetap relevan dan berdaya saing," katanya.

Yogyakarta memiliki posisi yang sangat strategis sebagai salah satu pusat batik nasional, dan batik bukan hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi menjadi tulang punggung bagi banyak pelaku UMKM, perajin, desainer, hingga pelaku ekonomi kreatif.

"Karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar," katanya.

Pewarta : Hery Sidik
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026