kingsheadwye.com

DNA Mumi Chile Ungkap Jejak Cacar yang Dibawa Kolonisasi Eropa ke Amerika

Bagikan:

JAKARTA - DNA mumi kuno dari Chile memberi bukti ilmiah paling kuat sejauh ini bahwa kolonisasi Eropa membawa penyakit cacar ke Benua Amerika. Temuan ini memperkuat catatan sejarah tentang wabah yang membunuh jutaan orang dan menghantam populasi masyarakat adat.

Kyodo News dikutip Minggu, 3 Agustus, melaporkan, bukti itu ditemukan dari analisis mumi yang berasal dari situs arkeologi Camarones, Chile utara. Penelitian tersebut melibatkan ahli genetika Shigeki Nakagome dari Trinity College Dublin dan sejumlah koleganya.

Cacar pernah menjadi salah satu penyakit paling mematikan dalam sejarah manusia sebelum diberantas pada 1980 lewat vaksinasi. Selama berabad-abad, virus ini membunuh sekitar sepertiga orang yang terinfeksi.

Banyak penyintas cacar juga mengalami bekas luka dalam. Sebagian mengalami luka yang merusak penampilan.

Wabah cacar lebih dulu menyerang Asia dan Eropa. Penyakit itu kemudian menyebar ke Benua Amerika. Catatan kolonial, dokumen administrasi, dan laporan misionaris mencatat bagaimana cacar menewaskan jutaan orang serta menghancurkan masyarakat adat yang belum pernah terpapar virus tersebut.

Kini, catatan sejarah itu mendapat penguat dari DNA kuno.

BACA JUGA:


Nakagome mengatakan analisis mumi Chile memberi hubungan genetik paling kuat sejauh ini dengan virus cacar yang sebelumnya ada di luar Benua Amerika. Temuan ini juga memberi gambaran lebih jelas tentang bagaimana cacar menjangkau populasi terpencil lewat kolonisasi.

Dalam studi itu, para peneliti memeriksa 13 sampel tulang dari situs Camarones. Mereka menemukan bukti dua infeksi cacar pada DNA kuno dari pecahan tulang kaki seorang laki-laki dewasa dan seorang perempuan dewasa.

Berdasarkan penanggalan jasad dan pemeriksaan gen, kedua orang itu diperkirakan meninggal antara 1492 dan 1631.

Para ilmuwan kemudian membandingkan gen virus cacar tersebut dengan versi lain. Hasilnya, galur cacar dari Amerika berada di antara galur Eropa abad pertengahan dan versi yang muncul kemudian.

Galur adalah kelompok virus yang memiliki ciri genetik tertentu. Perbandingan galur penting untuk melacak asal-usul dan perubahan virus dari waktu ke waktu.

Hasil itu menjadi bukti molekuler penting. Artinya, jejak virus dibaca dari materi genetik, bukan hanya dari catatan sejarah.

Bukti tersebut menunjukkan galur cacar yang menginfeksi orang-orang di Benua Amerika lebih dulu berevolusi dari Eropa.

“Tidak ada orang yang akan mempertanyakan bahwa cacar datang ke belahan bumi ini melalui kolonisasi, tetapi temuan ini membuktikannya,” kata Patricia Foster, ahli biologi Indiana University.

Foster tidak terlibat dalam penelitian yang diterbitkan pada Kamis di jurnal Science tersebut.

Meski begitu, para penulis studi menyebut belum jelas populasi mana yang pertama membawa cacar dari Dunia Lama ke Benua Amerika.

Pemukim Eropa datang dalam beberapa gelombang setelah penjelajahan Christopher Columbus di Karibia pada 1492 dan Amerigo Vespucci di pesisir Amerika Selatan sekitar satu dekade kemudian.

Para peneliti juga membuka kemungkinan penyakit itu melewati Afrika, seiring masuk dan meluasnya perdagangan budak.

Kyodo News menyebut, infeksi cacar di Amerika Selatan ini ditemukan di wilayah yang sebelumnya tidak memiliki catatan tentang penyakit tersebut. Temuan itu membuka pertanyaan baru tentang bagaimana virus bisa bergerak begitu jauh ke selatan.

Salah satu kemungkinannya, cacar menyebar lewat jaringan perdagangan masyarakat adat yang sudah ada jauh sebelum kedatangan orang Eropa.

Dengan mempelajari berbagai galur, ilmuwan dapat melihat perubahan virus dari waktu ke waktu, termasuk bagaimana sebagian gen menjadi tidak aktif dan memengaruhi kemampuan virus menyebabkan infeksi.

Penelitian ini tidak hanya menguatkan sejarah penyebaran cacar. Temuan tersebut juga menunjukkan korban manusia di balik wabah itu.

Dua individu yang diteliti berusia antara 18 dan 35 tahun. Penyakit cacar kemungkinan besar menjadi penyebab kematian mereka.

Salah satu penulis studi, Constanza de la Fuente Castro, antropolog biologi dari University of Chile, mengatakan temuan itu menunjukkan besarnya dampak cacar di seluruh Benua Amerika. Penyakit ini memusnahkan banyak populasi dan membuat mereka lebih rentan terhadap penaklukan Eropa.

“Ini bukan hanya soal budaya atau demografi. Hal itu benar-benar tertulis dalam bukti biologis yang masih bisa kita pulihkan dan baca hari ini,” kata de la Fuente Castro.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+