Dokter Paru Bagikan Cara Lindungi Diri dari Asap Karhutla
Jakarta -
Paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat mengancam kesehatan masyarakat, terutama warga yang tinggal di wilayah terdampak dan tidak memiliki pilihan untuk berpindah tempat. Untuk mengurangi risikonya, ada sejumlah langkah perlindungan yang dapat dilakukan, mulai dari menjaga kualitas udara di dalam rumah hingga mengenali gejala gangguan kesehatan sejak dini.
Spesialis paru Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), menjelaskan upaya pencegahan dampak asap karhutla terbagi menjadi tiga tahap, yaitu pencegahan primer, sekunder, dan tersier.
Pencegahan primer bertujuan meminimalkan jumlah polutan yang terhirup. Salah satu langkah yang dapat dilakukan masyarakat adalah mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat atau berbahaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ketika kualitas udara karena asap kebakaran hutan itu sedang masuk yang tidak sehat atau berbahaya, maka aktivitas di dalam rumah atau di dalam ruangan itu dipastikan menjadi kewajiban. Tapi pastikan ruangan kita, rumah kita itu dengan kualitas udara yang baik," kata Prof Agus dalam tayangan detikSore, Selasa (20/10/2026).
Ia menyarankan masyarakat menutup pintu dan jendela untuk mengurangi masuknya partikel polutan dari luar. Jika tersedia, alat pembersih udara atau air purifier dapat digunakan untuk membantu menjaga kualitas udara di dalam ruangan.
Penggunaan pendingin ruangan atau AC juga dapat dilakukan dengan memastikan pengaturannya menggunakan mode sirkulasi ulang atau recirculate. Dengan mode ini, udara di dalam ruangan disirkulasikan kembali tanpa sengaja menarik udara luar yang tercemar ke dalam rumah.
Selain itu, ia juga mengimbau untuk menghindari aktivitas yang menambah polusi di dalam ruangan, seperti merokok, membakar lilin, dan menggunakan obat nyamuk bakar.
Jika terpaksa beraktivitas di luar rumah, Prof Agus menyarankan penggunaan masker yang memiliki kemampuan filtrasi partikel halus PM2,5 di atas 90 persen. Contohnya adalah respirator N95, KN94, atau FFP2 yang memenuhi standar filtrasi terkait.
Bagi yang bepergian menggunakan mobil, ia menyarankan agar jendela kendaraan ditutup dan AC diatur pada mode recirculate untuk mengurangi masuknya udara luar yang tercemar.
Prof Agus juga menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam melindungi masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak karhutla. Pemerintah dapat menyediakan tempat atau rumah sehat dengan kualitas udara yang terjaga, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu, dan orang yang memiliki penyakit sebelumnya.
Fasilitas tersebut dapat menjadi tempat perlindungan bagi masyarakat yang rumahnya belum memiliki sarana memadai untuk menjaga kualitas udara. Menurutnya, fasilitas ini juga dapat dilengkapi tenaga kesehatan, obat-obatan, dan oksigen sesuai kebutuhan medis.
Selain pencegahan primer, langkah kedua adalah pencegahan sekunder, yakni mengenali gejala sedini mungkin dan segera mendapatkan pertolongan medis.
Masyarakat yang mengalami keluhan setelah terpapar asap karhutla disarankan mendatangi fasilitas kesehatan terdekat, seperti puskesmas, klinik, atau rumah sakit. Penanganan sejak dini diperlukan untuk mengurangi risiko komplikasi dan mencegah kondisi berkembang menjadi lebih berat.
Di sisi lain, pemerintah juga berperan dalam melakukan skrining dan pemeriksaan berkala terhadap masyarakat yang terpapar. Pemeriksaan dapat mencakup kondisi dan fungsi paru serta keluhan kesehatan yang dialami warga.
"Harusnya pemerintah itu turun secara berkala pada penduduk yang terpajan, dilakukan pemeriksaan, bagaimana kondisi parunya, fungsi parunya bagaimana, atau keluhan-keluhan penduduknya bagaimana. Yang ada keluhan-keluhan, segera ditangani," jelasnya.
Tahap ketiga adalah pencegahan tersier, yaitu mencegah kondisi orang yang sudah sakit agar tidak semakin parah, mengalami kecacatan, atau meninggal dunia.
Prof Agus mengatakan masyarakat yang memiliki penyakit dan harus mengonsumsi obat secara rutin perlu memastikan ketersediaan obat di rumah serta menggunakannya sesuai anjuran dokter. Jika muncul keluhan, mereka perlu segera mendapatkan penanganan.
Pemerintah daerah juga perlu memastikan tersedianya layanan kesehatan yang mudah dijangkau, termasuk sistem rujukan dari puskesmas ke rumah sakit apabila kondisi pasien membutuhkan fasilitas yang lebih lengkap.
"Ketika keluhan itu tidak bisa diatasi di puskesmas, harus dirujuk kemana? Rumah sakit punya fasilitas yang lebih bagus untuk dapat mengenangi supaya tidak ada komplikasi, supaya tidak ada risiko kematian," ucapnya lagi.
Halaman 2 dari 2
(suc/suc)