kingsheadwye.com

Dolar AS Jatuh, Asia Malah Terbelah: Rupiah-Ringgit Perkasa, Yen Turun

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

20 August 2026 09:47

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia bergerak bervariasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (20/8/2026).

Meski dolar AS masih berada di area lemah, sebagian mata uang kawasan tampak mulai melakukan penyesuaian setelah lebih dulu merespons pelemahan greenback pada perdagangan sebelumnya.

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.20 WIB, dari 10 mata uang Asia, lima mata uang terpantau menguat terhadap dolar AS. Sementara lima lainnya melemah.

Ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia pagi ini. Ringgit naik 0,39% ke posisi MYR 4,037/US$.

Peso Filipina menyusul dengan penguatan 0,28% ke posisi PHP 61,604/US$. Baht Thailand juga menguat 0,18% ke THB 32,84/US$.

Rupiah turut berada di zona hijau. Mata uang Garuda menguat 0,14% ke posisi Rp17.800/US$. Penguatan ini melanjutkan tren positif setelah pada perdagangan sebelumnya rupiah ditutup menguat 0,14% ke level Rp17.825/US$.

Dong Vietnam menguat 0,10% ke VND 26.154/US$, sementara yuan China naik 0,08% ke CNY 6,724/US$.

Di sisi lain, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan tekanan terdalam di Asia. Won melemah 0,47% ke posisi KRW 1.394,61/US$.

Yen Jepang juga terkoreksi 0,21% ke JPY 158,49/US$. Dolar Singapura melemah 0,06% ke SGD 1,271/US$, sedangkan dolar Taiwan turun 0,03% ke TWD 31,849/US$.

Pergerakan mata uang Asia pagi ini masih lekat dengan dinamika dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) pada waktu yang sama terpantau stagnan di posisi 98,835.

Meski pagi ini bergerak mendatar, DXY sebelumnya jatuh cukup dalam. Pada penutupan perdagangan sebelumnya, indeks dolar AS melemah 0,83%, membuat posisinya tetap berada dekat level terendah dalam tiga bulan terakhir.

Dolar AS menghadapi tekanan setelah pelaku pasar mencermati langkah Departemen Keuangan AS untuk meredam gejolak di pasar obligasi. Langkah tersebut muncul setelah imbal hasil Treasury AS tenor panjang sempat melonjak ke level tertinggi sejak 2007.

Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana untuk menggandakan operasi pembelian kembali obligasi bertenor panjang. Kebijakan ini dilakukan setelah aksi jual tajam di pasar obligasi mendorong yield Treasury AS tenor 30 tahun menyentuh 5,337%, level tertinggi dalam 19 tahun.

Tony Sycamore, market analyst IG, menilai langkah tersebut memberi sinyal bahwa pemerintah AS mulai merespons kenaikan premi jangka panjang di pasar obligasi.

"Ini bukan QE formal dan bukan yield curve control, tetapi ini merupakan sinyal jelas bahwa Washington siap menahan kenaikan term premium," ujar Sycamore, dikutip dari Reuters.

Brian Jacobsen, chief economic strategist Annex Wealth Management, menilai langkah tersebut hanya menjadi peredam sementara bagi pasar.

"The Fed tidak berdaya dalam memengaruhi suku bunga jangka panjang. Sekarang Treasury akan menerbitkan lebih banyak utang jangka pendek karena lemahnya permintaan terhadap utang jangka panjang," ujar Jacobsen, dikutip dari Reuters.

Meski dolar AS sedang melemah, pasar tetap belum sepenuhnya tenang.

Risalah rapat bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) bulan lalu menunjukkan kekhawatiran terhadap inflasi semakin dalam.

Beberapa pejabat bahkan siap menaikkan suku bunga, sementara banyak pejabat lainnya menilai kenaikan biaya pinjaman akan diperlukan jika inflasi tidak turun menuju target 2%.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)