Dolar AS Sempat Jatuh ke 155 Yen, Jepang-AS Buka Peluang Intervensi Lagi
Bagikan:
JAKARTA - Dolar AS jatuh tajam terhadap yen pada perdagangan Senin. Mata uang Amerika Serikat itu sempat menyentuh 155,20 yen setelah Jepang dan Amerika Serikat mengakui pembelian yen terkoordinasi pada akhir pekan lalu.
Kyodo News dikutip Senin, 3 Agustus, melaporkan, dolar AS sempat turun ke kisaran bawah 155 yen dari level atas 157 yen. Tekanan muncul setelah Tokyo dan Washington memperingatkan kemungkinan intervensi lanjutan.
Intervensi valas adalah langkah otoritas membeli atau menjual mata uang untuk menahan pergerakan nilai tukar yang terlalu tajam.
Pada pukul 17.00, dolar AS berada di 156,76-156,78 yen. Posisi itu dibandingkan dengan 157,33-157,43 yen di New York dan 160,20-160,22 yen di Tokyo pada Jumat sore.
Dolar AS sudah melemah lebih dari 8 yen dalam sepekan terakhir. Level tersebut menjadi yang terlemah sejak awal Mei.
Euro berada di 1,1526-1,1527 dolar AS dan 180,69-180,73 yen pada pukul 17.00. Pada Jumat sore di Tokyo, euro berada di 1,1514-1,1515 dolar AS dan 184,46-184,50 yen.
BACA JUGA:
Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik 0,025 poin persentase menjadi 2,820 persen.
Imbal hasil adalah tingkat keuntungan yang diminta investor dari obligasi. Jika harga obligasi turun, imbal hasil biasanya naik.
Kenaikan imbal hasil terjadi saat spekulasi kenaikan suku bunga Bank of Japan atau BOJ menguat setelah intervensi mata uang terkoordinasi Jepang-AS.
Dolar AS bergerak sempit pada perdagangan sore di Tokyo, sebagian besar di level tengah 156 yen. Sejumlah pelaku pasar menduga intervensi lanjutan sudah dilakukan pada awal perdagangan.
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menolak berkomentar apakah intervensi lain dilakukan pada Senin.
Sebelumnya, Tokyo dan Washington menyebut telah melakukan intervensi pasar bersama pada Jumat. Itu menjadi intervensi bersama pertama kedua negara dalam 15 tahun.
Atsushi Mimura, Wakil Menteri Keuangan Jepang untuk Urusan Internasional, mengatakan Jepang akan terus mengambil langkah untuk menahan volatilitas berlebihan pada yen.
Volatilitas adalah kondisi ketika harga atau nilai bergerak naik-turun tajam dalam waktu singkat.
Mimura menyebut intervensi terbaru sebagai bentuk lengkap aliansi mata uang Jepang-AS. Ia mengatakan kedua negara akan terus merespons tanpa kehilangan momentum.
Katayama juga menegaskan Jepang dan AS tidak akan ragu melakukan intervensi bersama lebih lanjut.
Takuya Kanda, peneliti senior di Gaitame.com Research Institute, menilai intervensi hanya menjadi solusi cepat atau cara membeli waktu.
“Intervensi tidak lain adalah perbaikan cepat, atau cara untuk membeli waktu, dan intervensi terkoordinasi adalah cara untuk membuat dampaknya bertahan lebih lama,” kata Kanda.
Penguatan yen ikut menekan pasar saham Tokyo. Indeks Nikkei sempat turun lebih dari 2 persen karena investor khawatir lonjakan yen dapat mengganggu prospek bisnis perusahaan.
Nikkei Stock Average yang berisi 225 saham ditutup turun 607,12 poin atau 0,94 persen menjadi 63.754,90. Indeks Topix yang lebih luas melemah 43,27 poin atau 1,08 persen menjadi 3.960,03.
Di Prime Market, tekanan terbesar datang dari saham real estat, peralatan transportasi, dan transportasi darat.
Kyodo News mencatat, saham Tokyo memangkas kerugian pada perdagangan sore setelah sebagian saham terkait kecerdasan buatan atau AI dan semikonduktor kembali dibeli investor.
Salah satunya Kioxia, yang melaporkan permintaan kuat untuk memori semikonduktor dalam laporan keuangannya.
“Tren dasar perusahaan yang diuntungkan dari ekspansi pasar AI tidak berubah,” kata Wataru Akiyama, ahli strategi di Departemen Konten Investasi Nomura Securities Co.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+