kingsheadwye.com

Dosen UMPR dorong ibu rumah tangga naik kelas lewat produksi teh herbal

Dosen UMPR dorong ibu rumah tangga naik kelas lewat produksi teh herbal

Kamis, 20 Agustus 2026 22:26 WIB

Image Print

Dosen UMPR dorong ibu rumah tangga naik kelas lewat produksi teh herbal di Palangka Raya. ANTARA/UMPR

Palangka Raya (ANTARA) - Tim dosen Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (UMPR) melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) mendorong ibu rumah tangga di Kelurahan Kalampangan meningkatkan kualitas produksi teh herbal bunga telang dan serai agar lebih higienis, terstandar, terdokumentasi, dan berkelanjutan.

"Pendampingan tersebut dilaksanakan melalui Program Pengmas 2026 berjudul 'Inkubasi Pembentukan Kelompok Produksi Herbal Rumah Tangga bagi Ibu-Ibu Pengajian Kelampangan melalui Penguatan Manajemen, Standarisasi Mutu, dan Pengemasan Produk'," kata Ketua Tim Pengmas UMPR Nurul Qamariah, MSi di Palangka Raya, Kamis

Program yang dilaksanakan dalam skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dengan ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat itu didukung anggota tim, yakni Dibyo Waskito Guntoro MPd dan Dr apt Mohammad Rizki Fadhil Pratama MSi.

Nurul mengatakan kegiatan tersebut mendapat pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Program ini berangkat dari potensi kelompok dalam memanfaatkan tanaman obat dan mengolah herbal rumah tangga.

Sebelum pendampingan, proses produksi masih menggunakan peralatan rumah tangga sederhana dan belum dilengkapi sistem produksi terstandar. Kelompok juga belum memiliki SOP tertulis, checklist sanitasi, log produksi rutin, pembagian tugas terstruktur, serta pencatatan administrasi produksi dan keuangan yang memadai.

Melalui pendampingan tersebut, kelompok tidak hanya diarahkan menghasilkan produk, tetapi juga membangun sistem produksi yang terukur dan dapat diterapkan secara berulang. Kegiatan dilakukan bertahap mulai dari sosialisasi, penguatan organisasi, pelatihan sanitasi dan higiene, pengolahan bahan, pengeringan, pengendalian kadar air, formulasi, pengemasan hingga penguatan administrasi kelompok.

Salah satu fokus kegiatan adalah meningkatkan kemampuan mitra dalam mengendalikan mutu produk herbal. Peserta dilatih melakukan pemeriksaan bahan baku, sortasi, pencucian, penirisan, perajangan serai, pengeringan, penimbangan hingga pengemasan.

Sejumlah teknologi tepat guna juga diperkenalkan, seperti food dehydrator, moisture meter, timbangan digital, spinner, peralatan stainless, dan alat penyegelan kemasan. Penggunaannya disertai penerapan SOP, checklist sanitasi, log pengeringan dan produksi, pemeriksaan bobot, serta pencatatan hasil pengendalian mutu.

Produk utama yang dikembangkan berupa teh celup herbal bunga telang dan serai dengan formula 1,2 gram bunga telang kering dan 0,8 gram serai kering, sehingga setiap kantong memiliki bobot sekitar dua gram. Hingga laporan kemajuan, kelompok telah melaksanakan dua batch produksi yang menghasilkan 30 teh bag pada batch pertama dan 50 teh bag pada batch kedua atau total 80 teh bag dalam 16 pouch produk.

Pengendalian mutu mulai menunjukkan hasil. Kepatuhan bobot sampel pada batch pertama tercatat 90 persen, kemudian meningkat menjadi 100 persen pada batch kedua setelah dilakukan evaluasi dan perbaikan proses. Hasil tersebut menunjukkan kelompok mulai mampu menerapkan proses produksi secara lebih konsisten.

Selain teknis produksi, tim dosen UMPR memberikan pendampingan manajemen kepada 10 anggota inti mitra. Mereka dibimbing menyusun struktur organisasi, pembagian tugas, pencatatan bahan dan hasil produksi, penggunaan logbook, perhitungan harga pokok produksi hingga pencatatan kas sederhana.

Hasil evaluasi sementara menunjukkan rata-rata capaian keberdayaan mitra meningkat dari 23,9 persen pada kondisi awal menjadi 93,9 persen setelah pendampingan. Peningkatan terlihat dalam penerapan sanitasi, penggunaan alat ukur kadar air, penimbangan formula, penggunaan alat penyegelan dan pencatatan logbook produksi.

Nurul mengatakan pemilihan teh celup bunga telang dan serai mempertimbangkan potensi bahan lokal serta kemudahan proses produksi pada skala rumah tangga.

"Program tersebut diarahkan membangun fondasi kelompok produksi herbal yang mampu bekerja secara higienis, terukur, terdokumentasi dan berkelanjutan, dengan tindak lanjut berupa penyempurnaan SOP, penguatan kemasan dan identitas produk, produksi batch berikutnya, serta penguatan administrasi dan keberlanjutan kelompok," katanya.

Pewarta : _
Editor: Rendhik Andika
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.