Dosen UMY tekankan mitigasi berbasis konservasi air hadapi kekeringan
Yogyakarta (ANTARA) - Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Ani Hairani menekankan pentingnya langkah mitigasi melalui konservasi air di tingkat rumah tangga sebagai upaya strategis menekan risiko krisis air bersih selama puncak musim kemarau 2026.
Langkah tersebut menjadi krusial di tengah penetapan status siaga darurat kekeringan di Kabupaten Bantul dan Gunungkidul, DIY, yang diperkirakan berlangsung hingga Agustus mendatang.
"Konservasi air dapat dimulai dari lingkungan rumah. Air hujan sebaiknya tidak langsung dialirkan ke saluran drainase, tetapi diupayakan meresap kembali ke dalam tanah atau ditampung untuk dimanfaatkan," ujar Ani dalam keterangannya di Yogyakarta, Senin.
Baca juga: Kemenhut jaga peran TN Gunung Ciremai sebagai "Tower Air" Jawa Barat
Menurut pakar bidang Teknik Keairan dan Lingkungan ini, masyarakat dapat menerapkan teknik sederhana, seperti membangun lubang biopori, sumur resapan, hingga sistem pemanenan air hujan (rainwater harvesting). Langkah-langkah tersebut dinilai efektif menjaga cadangan air tanah agar tetap terjaga meski saat puncak musim kemarau.
Ani menjelaskan ancaman kekeringan saat ini tidak lagi hanya dipicu oleh pola curah hujan musiman, namun juga diperparah oleh dampak perubahan iklim global. Fenomena tersebut menyebabkan musim kemarau berlangsung lebih panjang, penguapan meningkat, serta terjadi pergeseran musim yang mengganggu perencanaan pengelolaan sumber daya air.
"Perubahan iklim membuat siklus hidrologi menjadi tidak menentu. Selain itu, alih fungsi lahan yang mengurangi kawasan resapan juga memperburuk kondisi, karena air hujan tidak tersimpan dengan baik sebagai cadangan air tanah," katanya.
Lebih lanjut, ia merinci tiga jenis kekeringan yang perlu diwaspadai, yakni kekeringan meteorologis akibat kurangnya curah hujan, kekeringan hidrologis yang ditandai penurunan air tanah, serta kekeringan pertanian yang mengancam ketahanan pangan.
Baca juga: KLH soroti urgensi konversi air hadapi isu pencemaran sungai
Baca juga: Menteri PUPR: Embung berfungsi untuk konservasi air dan percantik IKN
Ia menilai pemerintah daerah sejatinya telah berupaya melakukan mitigasi melalui pemantauan iklim dan skenario pengelolaan sumber daya air. Namun, keberhasilan pengendalian risiko bencana kekeringan ini tetap membutuhkan partisipasi aktif masyarakat melalui pengelolaan tata guna lahan yang bijak dan pola penggunaan air yang hemat.
"Kekeringan bukan hanya dipengaruhi faktor alam, tetapi juga aktivitas manusia. Dengan menjaga cadangan air tanah melalui konservasi di tingkat rumah tangga, kita dapat meminimalkan dampak krisis air saat musim kemarau," kata Ani.
Pewarta: Sutarmi
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.