DPMK Nabire libatkan 297 kader Posyandu cegah stunting dan TAM - ANTARA News Papua Tengah
Nabire (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Nabire, Papua Tengah, melibatkan 297 kader Posyandu dari 15 distrik untuk meningkatkan upaya pencegahan dan penanganan stunting, HIV/AIDS, tuberkulosis (TBC), dan malaria (TAM) di tingkat kampung.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Nabire Pilemon Madai di Nabire, Sabtu, mengatakan kader Posyandu memiliki peran penting sebagai ujung tombak pemerintah dalam menyampaikan edukasi kesehatan dan menerapkan pengetahuan kepada masyarakat.
“Kita telah melaksanakan program pemberdayaan kader posyandu, dimana mereka kita bekali langkah-langkah penanganan stunting dan pencegahan TAM sehingga dapat diterapkan ilmunya di kampung masing-masing," ujarnya.
Ia mengatakan, sebanyak 297 kader tersebut berasal dari 132 Posyandu di 15 distrik di Kabupaten Nabire.
Menurutnya, pembekalan tersebut merupakan upaya pemerintah untuk peningkatan kapasitas kelembagaan lembaga kemasyarakatan desa atau kelurahan.
Ia menjelaskan, penanganan masalah kesehatan membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten hingga kampung.
Karena itu, peningkatan pengetahuan kader diperlukan agar edukasi dan upaya pencegahan kesehatan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.
Menurutnya, kader Posyandu diharapkan mampu membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pencegahan stunting serta HIV/AIDS, TBC, dan malaria.
Sementara, Wakil Bupati Nabire Burhanuddin Pawennari mengatakan kader Posyandu memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat karena berinteraksi langsung dengan keluarga dan menjadi penghubung antara masyarakat dan tenaga kesehatan.
“Kader Posyandu diharapkan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam edukasi, deteksi dini, pendampingan, serta pelaporan apabila ditemukan masalah kesehatan di lingkungan masing-masing,” katanya.
Ia mengatakan, pembangunan kesehatan merupakan salah satu fondasi utama Pemkab Nabire dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Menurutnya, karakteristik wilayah Nabire yang terdiri atas zona pesisir dan kepulauan, perkotaan, serta pegunungan membutuhkan pendekatan pelayanan kesehatan sesuai kondisi geografis dan kebutuhan masyarakat.
Di wilayah pesisir, perluasan jangkauan pelayanan bagi masyarakat yang jauh dari fasilitas kesehatan menjadi perhatian.
Sementara di perkotaan, peningkatan kesadaran masyarakat dan akses informasi kesehatan perlu diperkuat.
Adapun di wilayah pegunungan dan pedalaman, pelayanan perlu memperhatikan keterbatasan akses transportasi serta kearifan lokal.
"Kader Posyandu memastikan ibu hamil, bayi, balita, dan keluarga yang berisiko stunting memperoleh pendampingan. Sedangkan untuk pencegahan HIV/AIDS dan TBC, kader diharapkan meningkatkan edukasi serta mendorong pemeriksaan dini tanpa menimbulkan stigma dan diskriminasi," ujarnya.
Pewarta: Ali Nur Ichsan
Editor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.