kingsheadwye.com

Dudung nilai pengamalan Pancasila makin mendesak di era media sosial

Jakarta (ANTARA) - Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman menilai pengamalan Pancasila semakin mendesak di tengah perkembangan media sosial dan keterbukaan informasi yang membuat generasi muda berinteraksi dengan beragam budaya, pemikiran, hingga ideologi dari seluruh dunia.

"Menurut saya, justru semakin mendesak. Generasi muda kita sekarang hidup dalam dunia yang sangat terbuka. Informasi dari seluruh dunia masuk setiap detik melalui telepon genggam," kata Dudung dalam pernyataan tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu.

Dudung mengatakan masyarakat, termasuk generasi muda saat ini bisa dengan mudah mengakses informasi dari berbagai penjuru dunia yang dapat memengaruhi cara berpikir dan berinteraksi.

Menurutnya, keterbukaan tersebut tidak perlu ditakuti. Namun, kondisi itu harus diimbangi dengan identitas kebangsaan yang kuat agar masyarakat Indonesia mampu mengambil hal-hal baik dari perkembangan dunia tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa.

"Di sinilah Pancasila menjadi sangat penting," ucapnya.

Oleh karena itu, Dudung menekankan generasi muda tidak cukup hanya menghafalkan lima sila, tetapi harus memahami bagaimana nilai-nilai Pancasila diterapkan dalam kehidupan nyata.

Dia menyebut pengamalan tersebut antara lain dengan menghargai perbedaan, tidak mudah membenci orang lain, bermusyawarah ketika terjadi perbedaan pendapat, membantu kelompok yang lemah, berlaku adil, serta menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok.

Dudung juga mengingatkan bahwa penguatan nilai Pancasila tidak hanya diperlukan bagi generasi muda, tetapi juga seluruh aparatur negara, terutama mereka yang memiliki kewenangan langsung terhadap masyarakat.

Menurut dia, semakin besar kewenangan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moralnya. Karena itu, Pancasila harus tercermin dalam cara aparat menggunakan kewenangan.

"Bagi aparat, Pancasila harus terlihat dalam cara menggunakan kewenangan, tegas tetapi tetap manusiawi, berani tetapi tidak sewenang-wenang, menegakkan hukum tetapi tetap menjunjung keadilan dan martabat manusia," katanya.

Dia menegaskan nilai-nilai Pancasila harus dapat dirasakan masyarakat melalui pelayanan negara dan penegakan hukum. Dengan demikian, Pancasila tidak berhenti sebagai materi pembelajaran, simbol dalam upacara, atau slogan, tetapi diwujudkan dalam perilaku.

Dudung juga menekankan pembinaan ideologi Pancasila merupakan tanggung jawab bersama dan bukan hanya tugas Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, keluarga, tokoh agama, tokoh masyarakat, TNI-Polri, media, dan seluruh komponen bangsa, kata dia, memiliki peran dalam memastikan Pancasila menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

"Pancasila bukan milik satu lembaga. Pancasila adalah milik seluruh rakyat Indonesia," ujarnya.

Dudung mengatakan kekuatan Indonesia pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam atau jumlah penduduk, tetapi juga kemampuan bangsa menjaga persatuan di tengah keberagaman.

"Dan fondasi untuk menjaga persatuan itu adalah Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan semangat Bhinneka Tunggal Ika," kata Dudung.

Baca juga: KSP: Hilirisasi koperasi dorong ekonomi kerakyatan dari desa

Baca juga: KSP siap kawal penyelesaian RUU Pembinaan Ideologi Pancasila

Pewarta: Fathur Rochman
Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.