Ekuitas Tersisa Rp 1,5 Triliun, Waskita (WKST) Tercekik Utang dan Rugi Jumbo - Bursa Katadata.co.id
Kinerja emiten konstruksi PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WKST) masih babak belur hingga semester pertama 2026. Di tengah ekuitas yang hanya tersisa Rp 1,5 triliun, emiten BUMN itu harus menanggung utang hingga puluhan triliun dan masih mencatatkan rugi jumbo.
Berdasarkan laporan keuangan semester pertama 2026, Waskita masih membukukan rugi jumbo sebesar Rp 2,17 triliun pada semester pertama 2026. Meski demikian, rugi tersebut menyusut 9,5% yoy dibandingkan rugi periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 2,39 triliun.
Di samping itu pendapatan usaha Waskita meningkat 58,5% yoy menjadi Rp 4,91 triliun dari sebelumnya Rp 3,10 triliun. Namun, beban pokok pendapatan juga membengkak sebesar 80% yoy menjadi Rp 4,41 triliun dari Rp 2,44 triliun. Alhasil, laba bruto WSKT justru anjlok 23,8% yoy menjadi Rp 504,20 miliar dari Rp 661,32 miliar.
Apabila melihat dari sisi neraca, total aset WSKT sebesar Rp 68,08 triliun hingga Juni 2026 dari sebelumnya Rp 70,73 triliun pada Desember 2025. Secara rinci, total aset lancar Waskita sebesar Rp 14,85 triliun dari sebelumnya pada 31 Desember 2025 sebesar Rp 16,89 triliun. Lalu total aset tidak lancar sebesar Rp 53,22 triliun dari sebelumnya Rp 53,84 triliun.
Kemudian total liabilitas Waskita hingga semester pertama mencapai Rp 66,53 triliun dari sebelumnya Rp 67,06 triliun pada Desember 2025. Namun ekuitasnya hanya sisa Rp 1,55 triliun hingga semester pertama 2026 ini, padahal pada akhir Desember 2025 tercatat masih Rp 3,67 triliun.
Secara rinci, total utang jangka pendek Waskita Karya tercatat Rp 20,32 triliun per 30 Juni 2026. Utang bank jangka pendek yang jatuh tempo dalam satu tahun sebesar Rp 5,54 triliun dari sebelumnya Rp 15,94 triliun. Namun, utang obligasi bersih meningkat 31,5% menjadi Rp 2,74 triliun dari Rp 2,08 triliun.
Sementara itu, utang jangka panjang Waskita justru melonjak 36,1% menjadi Rp 46,20 triliun per 30 Juni 2026 dari Rp 33,95 triliun pada Desember 2025. Kenaikan ini karena utang bank jangka panjang kepada pihak berelasi naik 17,1% menjadi Rp 15,65 triliun dan utang kepada pihak ketiga melonjak 101,3% menjadi Rp 15,8 triliun.
Dari sisi arus kas, Waskita Karya mencatat kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasi sebesar Rp 1,5 triliun pada semester pertama 2026, meningkat 19,4% dibandingkan dengan Rp 1,26 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi mencapai Rp 202,17 miliar, berbalik dari kas bersih yang diperoleh sebesar Rp 1,62 triliun pada semester pertama 2025. Alhasil, kas dan setara kas Waskita pada akhir Juni 2026 tercatat Rp 2,61 triliun, anjlok 20,3% dibandingkan dengan posisi akhir Juni 2025 Rp 3,28 triliun.
Apabila menilik susunan Dewan Komisaris dan Direksi PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) saat ini dijabat oleh Direktur Utama Muhammad Hanugroho.
Berikut susunan dewan dan komisaris yang menjabat di Waskita Karya saat ini:
Dewan Komisaris:
Komisaris Utama: Sutrisno
Komisaris Independen: Aqila Rahmani
Komisaris Independen: Muhammad Harrifar Syafar
Komisaris Independen: Muhammad Abdullah Syukri
Komisaris: Ade Abdul Rochim
Komisaris: Hasby Muhammad Zamri
Dewan Direksi:
Direktur Utama: Muhammad Hanugroho
Direktur Keuangan: Wiwi Suprihatno
Direktur Business Strategic, Portfolio, & Human Capital: Rudi Purnomo
Direktur Operasi I: Ari Asmoko
Direktur Operasi II: Paulus Budi Kartiko