Empat Gunung Erupsi Hari Ini: Gunung Anak Krakatau, Ibu, Semeru, Ili Lewotolok - Nasional Katadata.co.id
Empat gunung api di Indonesia mengalami erupsi pada Minggu (6/9), berdasarkan data Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Keempatnya yakni Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, dan Gunung Semeru di Jawa Timur.
Berdasarkan informasi Badan Geologi Kementerian ESDM, erupsi terjadi pada waktu yang berbeda sepanjang Minggu pagi. Ketinggian kolom abu yang teramati juga bervariasi, mulai dari sekitar 400 meter hingga 1.000 meter di atas puncak.
Berikut empat gunung api yang mengalami erupsi hari ini (6/9):
- Gunung Ibu
Gunung Ibu di Maluku Utara mengalami erupsi pada Minggu (6/9) pukul 04.55 WIT.
Badan Geologi mencatat tinggi kolom abu teramati sekitar 400 meter di atas puncak. Erupsi ini terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 15 milimeter dan durasi 35 detik.
2. Gunung Ili Lewotolok
Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur mengalami erupsi pada pukul 06.11 WITA.
Tinggi kolom abu teramati sekitar 400 meter di atas puncak. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 40 milimeter dan durasi 40 detik.
Badan Geologi juga mencatat kolom abu dari erupsi Gunung Ili Lewotolok berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat.
3. Gunung Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda juga mengalami erupsi pada Minggu pukul 07.10 WIB. Berdasarkan keterangan Badan Geologi, erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 50 milimeter dan durasi 16 detik.
Erupsi pada Minggu pagi ini terjadi setelah aktivitas erupsi menerus Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak Jumat (4/9) malam.
Badan Geologi sebelumnya mencatat erupsi menerus mulai terjadi pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB, disertai semburan lava menerus atau lava fountain, suara gemuruh, dan dentuman. Erupsi menerus tersebut berhenti pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.
Badan Geologi menjelaskan fenomena dentuman yang terdengar di sejumlah wilayah Jawa Barat berkaitan dengan gelombang akustik berfrekuensi rendah dari erupsi yang dapat merambat jauh dalam kondisi atmosfer tertentu.
Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau juga terpantau menyebar menuju Banten, sebagian Jawa Barat dan DKI Jakarta, serta Lampung dan Bengkulu. Arah sebaran abu dapat berubah mengikuti kondisi angin.
Saat ini, Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga. Badan Geologi meminta masyarakat tidak memasuki wilayah dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Masyarakat juga diminta mewaspadai awan panas, lava, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat serta menggunakan masker apabila wilayahnya terdampak abu vulkanik.
4. Gunung Semeru
Gunung Semeru di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, mengalami erupsi pada Minggu pukul 07.51 WIB.
Tinggi kolom abu teramati sekitar 1.000 meter di atas puncak Mahameru atau 4.676 meter di atas permukaan laut.
Erupsi tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 23 milimeter dan durasi 102 detik. Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal menuju arah timur.
Aktivitas vulkanik Gunung Semeru saat ini berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat tidak disarankan melakukan aktivitas di luar ruangan, terutama di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak.
Di luar jarak tersebut, masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena terdapat potensi perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.
Masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru karena rawan lontaran batu pijar.
Dengan demikian, hingga Minggu pagi (6/9) tercatat empat gunung api yang mengalami erupsi, yakni Gunung Ibu, Gunung Ili Lewotolok, Gunung Anak Krakatau, dan Gunung Semeru.
Dari keempatnya, erupsi Gunung Semeru menghasilkan kolom abu paling tinggi, yakni sekitar 1.000 meter di atas puncak. Sementara Gunung Ibu dan Gunung Ili Lewotolok masing-masing menghasilkan kolom abu sekitar 400 meter di atas puncak.
Khusus Gunung Anak Krakatau, aktivitas vulkaniknya juga berdampak pada sebaran abu yang mencapai sejumlah wilayah di Pulau Jawa hingga Sumatra. Masyarakat di wilayah terdampak diimbau mengikuti informasi dan rekomendasi resmi Badan Geologi serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Informasi mengenai perkembangan aktivitas gunung api dan rekomendasi kebencanaan dapat dipantau melalui kanal resmi Badan Geologi dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Enam Gunung Erupsi Bersamaan pada Akhir Agustus
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM memastikan fenomena enam gunung api di Indonesia yang erupsi secara bersamaan pada 31 Agustus 2026 murni dinamika vulkanik independen dan tidak saling memicu satu sama lain.
Enam gunung api yang erupsi serentak tersebut mencakup Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Ili Lewotolok di NTT, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, serta Gunung Sinabung di Sumatera Utara.
Kepala PVMBG Badan Geologi, Rita Susilawati, di Kompleks Badan Geologi Bandung, Rabu, menegaskan posisi Indonesia di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) dengan 127 gunung api aktif memungkinkan terjadinya erupsi pada hari yang sama tanpa adanya keterikatan sistemik.
"Kalau bahasa sederhananya dapurnya itu masing-masing, dapurnya itu sendiri-sendiri, begitu ya, dan proses menuju erupsi antara satu gunung dengan gunung yang lainnya itu juga berbeda-beda. Kami tidak menemukan bukti adanya satu proses geologi yang memicu seluruh erupsi tersebut secara bersamaan di tanggal 31 Agustus," kata Rita.
Rita juga meluruskan persepsi publik terkait gempa bumi yang sering dikaitkan dengan erupsi gunung api. Menurutnya, gempa tektonik tidak otomatis memicu erupsi kecuali terbukti lewat lonjakan data pemantauan internal gunung, seperti kegempaan dalam, deformasi tubuh gunung, hingga perubahan suhu dan pelepasan gas.
Dinamika erupsi serentak ini turut menaikkan tingkat aktivitas Gunung Sinabung di Sumatera Utara dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) sejak 31 Agustus 2026 pukul 12.00 WIB, setelah menyemburkan kolom abu vulkanik setinggi 3.500 meter di atas puncak.
Sementara Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih bertahan di Level III (Siaga) status yang berlaku sejak 2 Juli 2026 dengan erupsi kolom abu setinggi 200 meter pada 31 Agustus 2026.
Merespons kekhawatiran warga pesisir Banten dan Lampung terkait potensi tsunami akibat letupan Anak Krakatau, PVMBG mengimbau masyarakat tidak panik karena erupsi gunung tersebut tidak serta-merta menimbulkan tsunami.
PVMBG meminta warga mematuhi rekomendasi bahaya, khususnya mengosongkan zona bahaya radius 3 kilometer dari puncak Gunung Sinabung (serta radius 6 kilometer pada sektor selatan-timur) dan mewaspadai ancaman lahar hujan di sepanjang aliran sungai yang berhulu dari puncak gunung.