Hari Batik Nasional, 6 Desainer Indonesia Sulap Batik Jadi Busana Modern untuk Charity
Liputan6.com, Jakarta - Hari Batik Nasional tak hanya menjadi waktu untuk mengenang warisan budaya, tapi juga melihat bagaimana batik terus bergerak mengikuti zaman. Di tangan para desainer Indonesia, kain tradisional itu menjelma menjadi busana modern dengan permainan siluet, motif, dan warna yang lebih beragam.
Batik Keris dan Perkumpulan Perempuan Lintas Profesi Indonesia (P2LIPI) menggandeng enam desainer, yakni Denny Wirawan, Ivan Gunawan, Priyo Oktaviano, Danny Satriadi, Ayu Dyah Andari, dan Marini Zumarnis, untuk menerjemahkan kain batik ke dalam koleksi busana dengan karakter masing-masing.
"Kolaborasi ini tidak semata-mata merayakan Hari Batik Nasional, tidak semata-mata ikut serta di dalam rangka melestarikan budaya Indonesia, tapi kami ingin acara ini lebih mempunyai manfaat yang nyata bagi masyarakat," kata Ketua Umum DPP P2LIPI, Indah Suryadharma Ali, saat jumpa pers di Jakarta, Jumat, 2 Oktober 2026.
Koleksi yang ditampilkan di atas panggung melanjutkan perjalanannya dalam aksi sosial bertajuk "Auction for Charity." Masing-masing desainer melelang satu koleksi, dan hasilnya akan disalurkan sebagai bantuan permodalan bagi pelaku UMKM perempuan binaan P2LIPI pada November 2026.
CEO Batik Keris, Lina Handianto, mengatakan kegiatan tersebut membawa semangat yang lebih luas dari sekadar memberikan bantuan. Menurutnya, aksi sosial ini juga menjadi cara untuk menumbuhkan solidaritas dan kepedulian di tengah masyarakat.
P2LIPI telah mendampingi sekitar 10.000 pelaku UMKM perempuan selama kurang lebih 10 tahun. Para penerima manfaat menjalankan usaha di berbagai bidang, termasuk makanan, dengan kebutuhan modal yang berbeda-beda.
Tak Hanya Dukung Permodalan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364347/original/040957500_1790951810-20261002_175038.jpg)
Perbesar
Selain dukungan permodalan, P2LIPI juga mendampingi UMKM binaannya agar mampu mengikuti perubahan cara konsumen berbelanja. Pendampingan tersebut mencakup keterampilan yang semakin dibutuhkan pelaku usaha di tengah perkembangan ekonomi digital.
"Sekarang ini kan zamannya sudah zaman digital. Bagaimana mereka bisa menguasai penjualan lewat digital. Kemudian juga bagaimana sebuah produk bisa dilihat lebih menarik," jelas Indah.
Semangat untuk membuat sesuatu yang lebih menarik juga terlihat pada koleksi batik yang dihadirkan dalam perayaan tersebut. Kain yang digunakan merupakan batik buatan tangan dengan proses cap dan tulis. Sejumlah karya dibuat sebagai unique piece, sehingga tidak memiliki replika karena setiap kain dikerjakan satu per satu.
Tak Semata Mempertahankan Motif Batik Tradisional
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364348/original/030935100_1790951869-20261002_204405.jpg)
Perbesar
"Sebetulnya bermacam-macam karena kami ingin menunjukkan pada publik bahwa batik itu tidak monoton. Motifnya beragam, mulai dari binatang, bunga, hingga pilihan warna gelap dan terang, sehingga bisa disesuaikan dengan selera konsumen,” papar Direktur Batik Keris, Andy Rusli.
Eksplorasi tersebut membuka ruang bagi batik untuk memasuki spektrum fashion yang lebih luas. Busana yang dirancang para desainer tidak hanya mempertahankan kehadiran motif tradisional, tapi juga menempatkannya dalam pendekatan yang dekat dengan perkembangan mode saat ini.
"Kita ingin mengajak mereka berkolaborasi membawa batik ke kancah high fashion. Batik ini bisa kita bawa ke high fashion, bahkan sampai ke high street," imbuhnya. Setiap lembar batik juga membawa cerita yang lebih panjang daripada tampilan akhirnya.
Menjaga Tradisi Batik Tetap Relevan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364349/original/097644600_1790951939-20261002_203817.jpg)
Perbesar
Modernisasi tampilan tidak membuat Batik Keris melepaskan akar yang membentuk setiap karyanya. Bagi Lina, keberadaan batik hari ini merupakan hasil dari perjalanan panjang yang turut melibatkan banyak tangan.
"Kami melihatnya sebagai bagian dari sejarah. Setiap motif memiliki filosofi yang berkaitan dengan sejarah Indonesia. Kami juga sangat menghargai para pelaku UMKM yang dengan tekun mengerjakan batik dan terus mempertahankan proses tersebut. Mereka menjadi bagian yang tak terpisahkan dari setiap batik yang dihasilkan,” sebut Lina.
Upaya mempertahankan batik kemudian berjalan beriringan dengan kebutuhan untuk membuatnya tetap dekat dengan kehidupan masa kini. Andy melihat relevansi sebagai salah satu tantangan ketika tradisi yang telah berusia ratusan tahun dibawa ke generasi berikutnya.
"Caranya, kita harus selalu bisa membawa batik yang tradisinya sudah berusia ratusan tahun agar terus relevan,” tandasnya.