Hasto ajak delegasi Asia resapi gamelan sebagai harmoni demokrasi
Hasto ajak delegasi Asia resapi gamelan sebagai harmoni demokrasi
Jumat, 4 September 2026 21:37 WIB
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengajak puluhan delegasi CALD Conference on Democratic Resilience in Southeast and East Asia meresapi nilai harmoni demokrasi di Pendopo Desa Budaya Gadingan, Yogyakarta, Jumat (4/9) malam. ANTARA/Ist
Yogyakarta (ANTARA) - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengaitkan filosofi gamelan dengan dinamika kebebasan politik saat mengajak puluhan delegasi CALD Conference on Democratic Resilience in Southeast and East Asia meresapi nilai harmoni demokrasi di Pendopo Desa Budaya Gadingan, Yogyakarta, Jumat (4/9) malam.
Acara penyambutan yang dikemas dalam bentuk Welcome Dinner di pendopo terbuka tersebut dihadiri oleh pimpinan partai politik, legislator, akademisi, tokoh dari berbagai negara Asia, serta sederet tokoh seperti pengamat pertahanan Prof. Connie Rahakundini Bakrie, Yuni Shara, pengamat Karina De Veg, cendekiawan Dr. Sukidi, Ketua DPD PDI Perjuangan DIY Nuryadi, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, dan sejumlah kepala daerah dari PDIP.
Malam keakraban di pendopo terbuka tersebut memiliki makna personal dan historis bagi Hasto karena di salah satu sudut rumah Jawa itulah ia dilahirkan pada 1966 dan tumbuh dalam lingkungan tradisi kebudayaan agraris yang kuat.
Didampingi istrinya Maria Stefani Ekowati, Hasto menjelaskan pemilihan lokasi desa tersebut bertujuan untuk menunjukkan peran kebudayaan dalam menjaga kebebasan masyarakat di tengah tekanan populisme otoriter.
"Di tempat ini kita belajar hidup berdampingan, menjaga prinsip Memayu Hayuning Bawono atau merawat keharmonisan dunia. Ketika politik terputus dari akar rumput, kekuasaan kehilangan karakter demokratisnya, namun melalui puisi, tarian, dan lagu, masyarakat dapat menyuarakan kritik sosial secara damai untuk menantang sifat otoriter kekuasaan," kata Hasto.
Hasto kemudian mengajak para tamu mencermati filosofi gamelan yang dimainkan warga Desa Gadingan, sebagai gambaran bagaimana keberagaman tidak harus menghasilkan pertentangan, melainkan dapat dipadukan menjadi sebuah harmoni.
"Gamelan adalah musik yang paling demokratis di dunia. Meskipun dimainkan oleh banyak pemusik dengan instrumen yang berbeda-beda, mereka bermain bersama menciptakan sebuah harmoni," ujarnya.
Bagi Hasto, prinsip yang sama semestinya berlaku dalam kehidupan demokrasi, dimana perbedaan suara dan pandangan harus mendapat ruang, tetapi semuanya diarahkan untuk kepentingan bersama dan pertanggungjawaban kekuasaan kepada rakyat.
"PDI Perjuangan percaya bahwa demokrasi bukan sekadar mekanisme meraih kekuasaan, melainkan komitmen moral agar kekuasaan tetap bertanggung jawab kepada rakyat," tegas Hasto.
Ia juga mengaitkan pandangan tersebut dengan Trisakti Bung Karno: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan, yang menjadi salah satu fondasi penting untuk menjaga jati diri bangsa sekaligus memperkuat daya tahan demokrasi.
Kehangatan penyambutan dan pertunjukan kebudayaan Jawa-Bali mendapat respons emosional dari Direktur Regional Friedrich Naumann Foundation (FNF) Asia, Moritz Kleine-Brockhoff.
Moritz mengaku tersentuh menyaksikan anak-anak menari serta mendengarkan alunan gamelan yang menyambut para delegasi.
"Pidato dan sambutan hangat ini sungguh menyentuh hati saya. Melihat anak-anak menari dan alunan musik gamelan sangat menggerakkan perasaan," ujar Moritz.
Dalam kesempatan tersebut, Moritz juga menyampaikan penilaiannya mengenai posisi PDI Perjuangan dalam kehidupan demokrasi Indonesia.
"Kita diingatkan kembali akan nilai-nilai PDI Perjuangan sebagai partai toleransi dan demokrasi di Indonesia—dan saya rasa, ini adalah satu-satunya partai toleransi dan demokrasi yang tersisa di Indonesia saat ini," katanya.
Suasana malam kebudayaan tersebut semakin cair ketika para delegasi menikmati pertunjukan Sendratari Ramayana dan Tari Joged Agirang. Musik, tarian, dan keramahan masyarakat desa menjadi bahasa bersama yang mempertemukan para tamu dari beragam latar belakang politik dan kebangsaan.
Tak berhenti sebagai penonton, delegasi internasional, tokoh nasional, hingga masyarakat setempat kemudian diajak naik ke panggung untuk ngibing dan menari bersama.
Malam di Desa Gadingan itu pun menjadi bagian lain dari rangkaian konferensi tentang ketahanan demokrasi, bahwa demokrasi tidak hanya dibicarakan melalui pidato dan forum politik, tetapi juga dapat dirawat melalui kebudayaan, kebersamaan, dan harmoni di tengah perbedaan.
Pewarta : N008
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026